Jatinangor, 2 September 2026 — Sebanyak 90 siswa bersama guru pendamping dari MAN Insan Cendekia Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, berkunjung ke Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad) dalam rangka kegiatan Unpad Eduventure Lite MAN, Rabu (2/9). Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00–15.00 WIB ini menjadi kesempatan bagi para siswa untuk mengenal lebih dekat lingkungan akademik, Program Studi Sarjana Kedokteran, serta berbagai fasilitas pembelajaran di FK Unpad.
Kegiatan diawali dengan proses registrasi peserta sebelum memasuki ruang Kuliah Hybrid, Gedung C4 Lantai 1 FK Unpad. Setelah seluruh peserta berkumpul, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan MAN Insan Cendekia OKI, Afriansyah, guru sekaligus pembina riset berprestasi di sekolah tersebut.
Dalam sambutannya, Afriansyah menyampaikan bahwa kunjungan tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga dimanfaatkan untuk memperoleh informasi mengenai pendidikan kedokteran di FK Unpad.
“Tujuan kami datang yaitu untuk silaturahmi kemudian untuk mendapatkan informasi seluas-luasnya mengenai Program Studi Sarjana Kedokteran di Fakultas Kedokteran Unpad,” ujar Afriansyah.
Mengenal Program Studi Sarjana Kedokteran FK Unpad
Agenda kemudian dilanjutkan dengan paparan dan sosialisasi mengenai Program Studi Sarjana Kedokteran (PSSK) FK Unpad yang disampaikan oleh Dr. Eko Fuji Ariyanto, dr., M.KM., Ph.D., dosen sekaligus Ketua Program Studi Pendidikan Dokter FK Unpad.
Dalam pemaparannya, Eko menjelaskan berbagai aspek pendidikan di Program Studi Sarjana Kedokteran FK Unpad, termasuk visi dan misi program studi. Salah satu visi yang disampaikan adalah menghasilkan dokter yang memiliki atribut kepemimpinan dan menjadi agen perubahan di masyarakat.
Pemaparan tersebut memberikan gambaran kepada para siswa mengenai proses pendidikan kedokteran, lingkungan akademik, serta kompetensi yang dikembangkan selama menempuh pendidikan di FK Unpad.
Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi dan tanya jawab. Para siswa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menggali informasi lebih jauh mengenai pendidikan kedokteran dan pengalaman belajar di lingkungan FK Unpad.
Melihat Langsung Fasilitas Pembelajaran
Setelah mengikuti sesi pemaparan, para siswa diajak melakukan tur fasilitas di lingkungan FK Unpad. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk melihat secara langsung berbagai ruang yang menunjang proses pembelajaran mahasiswa kedokteran.
Rangkaian kunjungan meliputi Laboratorium Anatomi di Gedung C4, Auditorium di Gedung C3, ruang tutorial, serta skill lab. Melalui kunjungan tersebut, siswa tidak hanya memperoleh informasi secara teoritis, tetapi juga dapat melihat secara langsung lingkungan pembelajaran dan fasilitas yang digunakan dalam proses pendidikan kedokteran.
Bagi para siswa, pengalaman tersebut memberikan gambaran yang lebih nyata mengenai kehidupan akademik mahasiswa kedokteran.
Salah seorang siswa mengungkapkan kekagumannya terhadap fasilitas dan lingkungan FK Unpad setelah mengikuti sesi pemaparan dan tur.
“Amaze sama bangunannya karena bukan cuma akademi saja yang ditonjolkan, tapi juga bisa dilihat terdapat lapang olahraga jadi bisa menyeimbangkan dengan refreshing olahraga. Gedungnya keren, ada lab-nya juga, ada tempat praktiknya.”
Ia juga menilai kegiatan tur memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan hanya memperoleh informasi melalui pemaparan.
“Setelah mendengar paparan saya diajak berkeliling seperti ke ruang lab, di sana saya mendapat insight yang lebih dalam terkait praktiknya langsung.”
Kunjungan tersebut sekaligus memberikan gambaran kepada siswa bahwa proses pendidikan kedokteran tidak hanya berlangsung melalui pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga didukung oleh fasilitas praktikum dan berbagai lingkungan pembelajaran yang menunjang pengembangan kompetensi mahasiswa.
Menumbuhkan Minat dan Wawasan tentang Pendidikan Kedokteran
Kegiatan Unpad Eduventure Lite MAN menjadi ruang bagi FK Unpad untuk memperkenalkan lingkungan pendidikan kedokteran kepada calon mahasiswa sekaligus memberikan pengalaman langsung kepada siswa mengenai atmosfer akademik di perguruan tinggi.
Bagi siswa MAN Insan Cendekia OKI, kunjungan ini diharapkan dapat memperluas wawasan mengenai pilihan pendidikan tinggi, khususnya pendidikan kedokteran, serta membantu mereka memperoleh gambaran mengenai proses pembelajaran dan kehidupan akademik di FK Unpad.
Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi penutupan dan foto bersama sebagai dokumentasi sekaligus penanda berakhirnya rangkaian kunjungan.
Melalui kegiatan ini, silaturahmi antara FK Unpad dan MAN Insan Cendekia OKI diharapkan dapat terus terjalin serta membuka ruang kolaborasi dan pertukaran informasi pendidikan bagi generasi muda yang memiliki ketertarikan terhadap bidang kedokteran.
JATINANGOR – Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad) turut ambil bagian dalam memeriahkan rangkaian Unpad Bergerak 2026 yang menjadi bagian dari perayaan Dies Natalis ke-69 Universitas Padjadjaran. Semangat kebersamaan dan sportivitas mewarnai pelaksanaan kegiatan yang diawali dengan pertandingan eksibisi antara Tim Unpad dan Persib Legend di GOR Jati Unpad, Jatinangor, Jumat (21/8)
Keikutsertaan FK Unpad dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari semangat sivitas akademika untuk bersama-sama menyukseskan rangkaian Dies Natalis ke-69. Tidak hanya menjadi ajang olahraga dan hiburan, Unpad Bergerak juga menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi, membangun kebersamaan, serta memperkuat kolaborasi di lingkungan Universitas Padjadjaran.
Pertandingan eksibisi Unpad dan Persib Legend menjadi momentum pembuka Unpad Bergerak 2026. Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Rektor Unpad Prof. Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Tata Kelola Unpad Prof. Dr. R. Widya Setiabudi Sumadinata, Wakil Gubernur Jawa Barat H. Erwan Setiawan, S.E., Komandan Resimen Induk Kodam III/Siliwangi Brigjen TNI Nurul Yakin, serta Kapolres Sumedang AKBP Dr. Reza Ma’ruffi.
Bagi FK Unpad, keterlibatan dalam Unpad Bergerak menjadi salah satu wujud semangat bergerak bersama sebagai bagian dari keluarga besar Universitas Padjadjaran. Kehadiran sivitas FK Unpad dalam kegiatan ini turut mencerminkan pentingnya membangun kebersamaan lintas unit melalui kegiatan yang positif, sehat, dan inklusif.
Semangat tersebut sejalan dengan tujuan Unpad Bergerak yang tidak hanya menghadirkan aktivitas olahraga, tetapi juga menjadi wadah untuk memperkuat hubungan Unpad dengan berbagai pemangku kepentingan di Jawa Barat.
Dalam sambutannya, Wakil Gubernur Jawa Barat H. Erwan Setiawan, S.E., menyampaikan apresiasi terhadap Unpad yang terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk para legenda sepak bola Jawa Barat. Ia berharap semangat kolaborasi yang terbangun dapat terus memberikan kontribusi bagi masyarakat dan Jawa Barat.
Sementara itu, Rektor Unpad Prof. Arief Sjamsulaksan Kartasasmita menyampaikan bahwa kehadiran Persib Legend dalam pembukaan Unpad Bergerak menjadi simbol kedekatan antara Unpad dan salah satu bagian penting dari sejarah olahraga Jawa Barat. Pertemuan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari komitmen bersama untuk membangun Jawa Barat menjadi lebih baik.
“Mudah-mudahan silaturahmi ini dapat terus terjaga dan membawa kemajuan bagi Unpad, Jawa Barat, serta seluruh pemangku kepentingan,” ujar Rektor.
Semangat kebersamaan tersebut juga menjadi nilai penting bagi FK Unpad dalam menjalankan perannya sebagai bagian dari Universitas Padjadjaran. Melalui keterlibatan dalam berbagai kegiatan universitas, FK Unpad terus mendorong terciptanya lingkungan akademik yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga membangun kebersamaan, kesehatan, sportivitas, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Dengan dimulainya Unpad Bergerak 2026, FK Unpad siap turut menyemarakkan rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-69 Unpad. Partisipasi tersebut menjadi bagian dari semangat bergerak bersama untuk memperkuat kebersamaan sivitas akademika sekaligus mendukung Unpad dalam memberikan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat dan Jawa Barat.
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad) kembali memperkuat komitmennya dalam mendukung internasionalisasi pendidikan melalui pelaksanaan Students Mobility Program bagi mahasiswa International Undergraduate Program (IUP). Kegiatan pelepasan mahasiswa peserta program dilaksanakan secara daring pada Jumat, 21 Agustus 2026, pukul 10.00 WIB hingga selesai, Kegiatan ini menjadi momentum bagi fakultas untuk memberikan sambutan dan pembekalan sebelum mahasiswa menjalani program. Dr. Irawati Irfani, dr., Sp.M(K)., M.Kes., Wakil Dekan Bidang Sumber Daya dan Organisasi FK Unpad, menyampaikan sambutan dalam pelepasan Students Mobility Program mahasiswa IUP ke Leiden University dan Erasmus University, Belanda.
Sebanyak delapan mahasiswa IUP FK Unpad akan mengikuti program mobilitas mahasiswa selama 10 minggu di dua institusi pendidikan kedokteran terkemuka di Belanda. Empat mahasiswa akan mengikuti kegiatan di Leiden University Medical Center (LUMC), sementara empat mahasiswa lainnya akan menjalani program di Erasmus Medical Center (Erasmus MC), yang merupakan bagian dari lingkungan akademik Erasmus University Rotterdam.
Program Students Mobility ini menjadi salah satu bentuk implementasi komitmen FK Unpad dalam memperluas pengalaman pembelajaran mahasiswa melalui lingkungan akademik internasional. Melalui program ini, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk mengenal sistem pendidikan, penelitian, serta pelayanan kesehatan di Belanda sekaligus memperluas wawasan mengenai perkembangan ilmu kedokteran dalam perspektif global.
Selama menjalani program, para mahasiswa diharapkan dapat memperoleh pengalaman akademik dan klinis yang dapat memperkaya kompetensi mereka sebagai calon dokter. Selain aspek akademik, pengalaman belajar di lingkungan internasional juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, adaptasi, berpikir kritis, serta berinteraksi dengan komunitas akademik dari berbagai latar belakang.
Leiden University Medical Center dan Erasmus Medical Center merupakan institusi yang memiliki reputasi kuat dalam bidang pendidikan kedokteran, penelitian, dan pelayanan kesehatan. Kesempatan bagi mahasiswa IUP FK Unpad untuk belajar di kedua institusi tersebut diharapkan dapat memberikan pengalaman yang berharga serta membuka peluang terbentuknya jejaring akademik internasional.
Keikutsertaan delapan mahasiswa IUP FK Unpad dalam program ini juga menjadi bagian dari upaya fakultas dalam mempersiapkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik dan profesional, tetapi juga memiliki wawasan global. Pengalaman internasional yang diperoleh selama program diharapkan dapat menjadi bekal bagi mahasiswa dalam menghadapi perkembangan dunia kedokteran yang semakin dinamis dan terhubung secara global.
Melalui Students Mobility Program, FK Unpad terus mendorong mahasiswa untuk mengambil bagian dalam berbagai pengalaman akademik internasional. Program ini sekaligus menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat jejaring dan kolaborasi internasional Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran.
Dengan durasi program selama 10 minggu, para mahasiswa diharapkan dapat memanfaatkan kesempatan ini secara optimal untuk belajar, beradaptasi, membangun jejaring, serta membawa pulang pengetahuan dan pengalaman yang dapat memberikan kontribusi positif bagi lingkungan akademik FK Unpad.
Kontribusi terhadap Sustainable Development Goals (SDGs)
Pelaksanaan Students Mobility Program mahasiswa IUP FK Unpad di Belanda juga mendukung pencapaian beberapa Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya:
SDGs 4 – Pendidikan Berkualitas Kegiatan Students Mobility Program memberikan kesempatan kepada mahasiswa IUP Fakultas Kedokteran Unpad untuk memperoleh pengalaman akademik dan pembelajaran internasional di institusi pendidikan kedokteran terkemuka di Belanda. Program ini mendukung peningkatan kompetensi, wawasan global, dan kualitas pendidikan mahasiswa.
SDGs 3 – Kehidupan Sehat dan Sejahtera Pelaksanaan program di Leiden University Medical Center dan Erasmus Medical Center mendukung pengembangan kompetensi mahasiswa kedokteran dalam memahami pendidikan, penelitian, dan praktik kesehatan dalam konteks internasional. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal dalam membentuk calon tenaga kesehatan yang kompeten dan berorientasi pada peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.
SDGs 17 – Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Students Mobility Program menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring dan kolaborasi akademik internasional antara Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran dengan institusi pendidikan dan kesehatan di Belanda. Kemitraan tersebut membuka peluang bagi pengembangan kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia.
Melalui program ini, FK Unpad tidak hanya memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman belajar di tingkat internasional, tetapi juga terus memperkuat peran institusi dalam membangun jejaring global dan mendukung pencapaian pembangunan berkelanjutan melalui pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.
Selamat menjalankan Students Mobility Program. Semoga seluruh mahasiswa IUP FK Unpad memperoleh pengalaman akademik, profesional, dan internasional yang berharga selama berada di Belanda serta menjadi representasi terbaik Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran di kancah global.
Kabupaten Cianjur — Universitas Padjadjaran melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 19 melaksanakan pengabdian kepada masyarakat di Desa Situhiang, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur, pada periode 10 Juli hingga 11 Agustus 2026. Mengangkat tiga fokus utama, yakni Literasi Informasi, Pengelolaan Sampah, dan Pengentasan Kemiskinan, kegiatan ini menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa dan dosen Universitas Padjadjaran dalam mendukung pemberdayaan masyarakat dan pembangunan desa yang berkelanjutan.
Kegiatan KKN Kelompok 19 berada di bawah koordinasi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Helni Mariani, dr., Sp.KKLP., Subsp.COPC., M.K.M., dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Penugasan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan KKN Universitas Padjadjaran Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 periode Juli–Agustus 2026.
Pelaksanaan kegiatan di Desa Situhiang juga didukung melalui kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Perpustakaan Nasional, dan Dinas Sosial. Kolaborasi lintas sektor tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung pelaksanaan program yang menyentuh aspek literasi, lingkungan, serta kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.
Tiga Fokus Pengabdian untuk Menjawab Kebutuhan Masyarakat
KKN Kelompok 19 mengembangkan tiga fokus utama yang saling berkaitan dalam upaya memberikan kontribusi kepada masyarakat Desa Situhiang. Fokus pertama adalah Literasi Informasi. Upaya penguatan literasi informasi dalam kegiatan KKN tidak hanya dilakukan melalui aktivitas membaca, tetapi juga dimulai dari penyediaan dan pengelolaan sumber bacaan yang dapat diakses oleh masyarakat. Salah satu kegiatan yang dilakukan mahasiswa adalah inventarisasi buku sebagai langkah awal dalam menata dan menyediakan bahan bacaan yang sesuai untuk mendukung kegiatan literasi. Penguatan literasi kemudian dilanjutkan melalui kegiatan membaca nyaring dan mengulas buku bersama siswa sekolah dasar. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya mengajak siswa untuk membaca, tetapi juga mendorong mereka untuk memahami isi bacaan dan menyampaikan kembali informasi yang diperoleh dari buku.
Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa literasi informasi dapat dibangun melalui proses yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari menyediakan sumber bacaan, menghadirkan ruang literasi, hingga mendampingi anak-anak membaca dan mengulas buku, mahasiswa KKN berupaya menciptakan pengalaman belajar yang mendorong siswa untuk tidak hanya membaca, tetapi juga memahami informasi yang mereka temukan.
Melalui kegiatan tersebut, literasi diharapkan dapat berkembang menjadi kebiasaan yang berkelanjutan. Akses terhadap bahan bacaan dan pengalaman berinteraksi dengan informasi sejak usia sekolah menjadi salah satu langkah penting dalam membangun kemampuan masyarakat untuk memperoleh, memahami, dan memanfaatkan informasi secara lebih baik. Melalui kegiatan literasi informasi, mahasiswa hadir untuk berbagi pengetahuan sekaligus mendorong masyarakat agar lebih mampu mengakses dan menggunakan informasi yang relevan bagi kebutuhan kehidupan sehari-hari.
Fokus kedua adalah Pengelolaan Sampah. Pengelolaan sampah menjadi salah satu perhatian mahasiswa dalam pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Melalui kegiatan edukasi dan praktik langsung bersama masyarakat, mahasiswa berupaya mendorong kesadaran mengenai pentingnya mengelola sampah secara tepat serta menjaga kebersihan lingkungan dari tingkat rumah tangga. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah sosialisasi pengelolaan sampah kepada masyarakat di Masjid Al-Mubarokah. Kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan informasi mengenai pentingnya pengelolaan sampah dan mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap permasalahan sampah di lingkungan sekitar. Edukasi mengenai pengelolaan sampah kemudian dilanjutkan melalui kegiatan yang bersifat praktis. Mahasiswa memperkenalkan salah satu alternatif pengelolaan lingkungan yang dapat diterapkan di tingkat rumah tangga, yaitu pemanfaatan biopori.
Melalui rangkaian sosialisasi dan praktik tersebut, mahasiswa KKN berupaya mendorong masyarakat untuk membangun kebiasaan pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab. Kegiatan tidak hanya berfokus pada penyampaian informasi, tetapi juga memberikan contoh penerapan yang dapat dilakukan secara mandiri di lingkungan rumah. Upaya tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bahwa pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama. Dengan keterlibatan masyarakat dan penerapan langkah-langkah sederhana secara konsisten, lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan dapat dibangun mulai dari tingkat rumah tangga.
Sementara itu, fokus ketiga adalah Pengentasan Kemiskinan. Upaya mendukung pengentasan kemiskinan dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) diawali dengan memahami kondisi dan potensi ekonomi masyarakat secara langsung. Salah satu langkah yang dilakukan mahasiswa adalah melakukan kunjungan dan survei kepada masyarakat. Melalui kunjungan tersebut, mahasiswa berdialog langsung dengan petani untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi kehidupan, aktivitas usaha, serta potensi ekonomi yang dimiliki masyarakat. Interaksi secara langsung menjadi bagian penting dalam memahami berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat dalam menjalankan aktivitas ekonomi mereka.
Kunjungan lapangan juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat kondisi lingkungan dan aktivitas masyarakat secara lebih dekat. Informasi yang diperoleh dari hasil survei dapat menjadi dasar untuk mengidentifikasi potensi yang dapat dikembangkan serta kebutuhan masyarakat yang perlu mendapatkan perhatian. Ketiga fokus tersebut menjadi rangkaian pengabdian yang saling melengkapi. Penguatan literasi dapat meningkatkan kapasitas masyarakat dalam memperoleh dan memanfaatkan informasi, pengelolaan sampah berkontribusi terhadap kualitas lingkungan, sedangkan pengentasan kemiskinan diarahkan untuk mendukung aspek kesejahteraan masyarakat.
Kolaborasi Perguruan Tinggi dan Mitra untuk Pemberdayaan Masyarakat
Pelaksanaan KKN Kelompok 19 menunjukkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, lembaga terkait, dan masyarakat dalam menjalankan pengabdian kepada masyarakat. Keterlibatan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Perpustakaan Nasional, dan Dinas Sosial memberikan dukungan terhadap pelaksanaan program sesuai dengan fokus kegiatan. Di sisi lain, pemerintah desa dan masyarakat menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan. Bagi mahasiswa, KKN menjadi kesempatan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama proses pendidikan sekaligus memahami kondisi masyarakat secara langsung. Interaksi dengan masyarakat juga memberikan pengalaman bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, pemecahan masalah, dan pengabdian.
Pendampingan DPL menjadi bagian penting dalam memastikan pelaksanaan KKN berjalan sesuai dengan tujuan pengabdian kepada masyarakat, pendampingan dilakukan secara offline dan online. Dalam kegiatan ini, Helni Mariani, dr., Sp.KKLP., Subsp.COPC., M.K.M mendampingi mahasiswa Kelompok 19 selama pelaksanaan program di Desa Situhiang.
Berkontribusi pada Pencapaian Sustainable Development Goals
Kegiatan KKN Kelompok 19 di Desa Situhiang memiliki keterkaitan dengan sejumlah Sustainable Development Goals (SDGs). Keterkaitan tersebut disesuaikan dengan fokus kegiatan yang dilaksanakan di lapangan.
SDGs 1 – No Poverty (Tanpa Kemiskinan): melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat yang mendukung peningkatan kapasitas dan kesejahteraan warga.
SDGs 4 – Quality Education (Pendidikan Berkualitas): melalui kegiatan peningkatan literasi dan edukasi bagi masyarakat
SDGs 11 – Sustainable Cities and Communities (Kota dan Permukiman Berkelanjutan): melalui penguatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa
SDGs 12 – Responsible Consumption and Production (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab): melalui edukasi dan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Selain keempat tujuan tersebut, pelaksanaan KKN juga mencerminkan SDGs 17 – Partnerships for the Goals (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan): melalui kolaborasi antara Universitas Padjadjaran, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Perpustakaan Nasional, Dinas Sosial, Pemerintah Desa, Mahasiswa, dan Masyarakat.
Keterkaitan dengan SDGs tersebut sejalan dengan arahan Universitas Padjadjaran agar kegiatan KKN didokumentasikan dan dipublikasikan secara terbuka dengan mencantumkan tujuan pembangunan berkelanjutan yang relevan. Panduan publikasi KKN Unpad juga menekankan pentingnya mencantumkan aksi nyata, lokasi dan waktu kegiatan, serta data capaian kegiatan sebagai bagian dari dokumentasi kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan berkelanjutan.
Dari Pengabdian Menjadi Dampak Berkelanjutan
Pelaksanaan KKN di Desa Situhiang tidak hanya menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menjalankan kegiatan pengabdian selama satu periode, tetapi juga menjadi bagian dari proses membangun hubungan dan kolaborasi dengan masyaraka. Melalui tiga fokus kegiatan (Literasi Informasi, Pengelolaan Sampah, dan Pengentasan Kemiskinan) Kelompok 19 berupaya menghadirkan program yang menyentuh aspek pengetahuan, lingkungan, serta sosial dan ekonomi masyarakat. Kolaborasi yang terbangun selama pelaksanaan KKN diharapkan dapat menjadi fondasi bagi keberlanjutan upaya pemberdayaan masyarakat di Desa Situhiang.
Dengan sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, lembaga mitra, dan masyarakat, pengabdian kepada masyarakat dapat memberikan manfaat yang lebih luas sekaligus mendukung pencapaian pembangunan berkelanjutan. Kegiatan KKN Universitas Padjadjaran Kelompok 19 di Desa Situhiang, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur, yang berlangsung pada 10 Juli – 11 Agustus 2026, menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi Unpad dalam melaksanakan tridarma perguruan tinggi melalui pengabdian kepada masyarakat.
Jatinangor, 7 Agustus 2026 – Berangkat dari persoalan penyakit yang ditularkan melalui nyamuk serta kebutuhan akan alternatif pengendalian jentik yang praktis dan ramah lingkungan, lima mahasiswa Universitas Padjadjaran mengembangkan Larvix, blok biolarvasida berbasis limbah sekam padi dan Bacillus thuringiensis israelensis (Bti).
Inovasi tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) dengan menggabungkan pendekatan kesehatan masyarakat, pemanfaatan limbah pertanian, dan pengembangan produk. Melalui Larvix, tim berupaya menghadirkan alternatif pengendalian jentik yang mudah digunakan sekaligus memanfaatkan potensi sekam padi sebagai bahan bernilai tambah.
Kolaborasi Lintas Program Studi
Larvix dikembangkan oleh lima mahasiswa lintas program studi dengan pembagian peran sesuai bidang keahlian masing-masing. Muhammad Ghazy Akbar (Pendidikan Dokter 2025) bertugas sebagai Chief Executive Officer (CEO) yang mengoordinasikan jalannya tim. Selanjutnya, Fawzan Hazman Syira Tsaqofi (Pendidikan Dokter 2025) bertugas sebagai Chief Technology Officer (CTO) yang menangani aspek teknologi, penyusunan proposal, dan laporan. Dari Fakultas Pertanian, Rhassya Athayaa Lusaid (Agroteknologi 2023) bertugas sebagai Chief Operating Officer (COO) yang menangani operasional tim. Tamara Herda Oktavidia (Agroteknopreneur 2024) bertugas sebagai Chief Marketing Officer (CMO) yang menangani aspek pemasaran. Sementara itu, Qurrata Aurellia Veaho (Agribisnis 2024) bertugas sebagai Chief Financial Officer (CFO) sekaligus sekretaris yang menangani pengelolaan keuangan dan administrasi tim.
Komposisi tersebut memungkinkan setiap anggota berkontribusi sesuai dengan bidang keahliannya, sekaligus melengkapi kebutuhan pengembangan Larvix dari sisi kesehatan, teknologi, produksi, operasional, keuangan, hingga pemasaran.
Pembentukan tim berlangsung melalui proses yang dinamis. Tim pada awalnya dibangun dari lingkungan Fakultas Kedokteran, kemudian berkembang melalui rekomendasi dan jejaring mahasiswa hingga melibatkan mahasiswa dari Fakultas Pertanian. Perubahan komposisi anggota sempat terjadi sebelum akhirnya terbentuk tim yang dinilai mampu dmenjalankan berbagai kebutuhan pengembangan produk.
Bagi tim, proses tersebut menjadi pengalaman dalam membangun kolaborasi lintas program studi sekaligus menyesuaikan kemampuan setiap anggota dengan kebutuhan pengembangan inovasi.
Berawal dari PKM-Karsa Cipta
Dalam perjalanannya, tim Larvix sempat mengalami perubahan skema PKM. Dalam proses pengajuan Program Kreativitas Mahasiswa, Larvix semula dirancang untuk diajukan melalui skema PKM-Karsa Cipta (PKM-KC). Namun, berdasarkan karakteristik inovasinya, tim kemudian mengarahkan proposal ke skema PKM-Kewirausahaan (PKM-K) yang lebih sesuai dengan pengembangan produk dan aspek kewirausahaan.
Perubahan skema tersebut membuat tim harus melakukan penyesuaian proposal dalam waktu yang relatif terbatas. Sejumlah anggota juga perlu mempelajari aspek yang sebelumnya berada di luar bidang akademiknya, termasuk penyusunan proposal kewirausahaan dan pengelolaan aspek keuangan.
Proses tersebut menjadi salah satu pengalaman penting bagi tim dalam memahami bahwa pengembangan inovasi tidak hanya membutuhkan gagasan, tetapi juga kemampuan untuk beradaptasi dengan skema, kebutuhan program, serta pembagian peran di dalam tim.
Mengolah Sekam Padi Menjadi Blok Larvasida
Larvix dirancang dalam bentuk blok larvasida dengan sistem slow-release. Produk tersebut mengombinasikan sekam padi, asam stearat, dan Bacillus thuringiensis israelensis (Bti).
Sekam padi yang telah dihaluskan digunakan sebagai salah satu bahan dasar, sedangkan asam stearat sebagai perekat. Adapun Bti menjadi komponen aktif yang ditujukan untuk mengendalikan jentik nyamuk. Kombinasi ketiga bahan tersebut menghasilkan blok yang memungkinkan pelepasan bahan aktif berlangsung secara bertahap.
Satu kemasan Larvix terdiri atas 10 blok dengan berat masing-masing sekitar 10 gram. Berdasarkan rancangan penggunaan yang dikembangkan tim, satu blok dapat diaplikasikan pada genangan air dengan volume sekitar 40 liter dan dirancang untuk memberikan perlindungan hingga 28 hari. Konsep tersebut diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi pengguna karena tidak memerlukan penakaran bahan secara langsung maupun aplikasi berulang dalam waktu yang singkat.
“Target kami itu ingin yang praktis. Jadi, sekali dicemplung, kita sudah satu bulan aman. Paling cuma sebulan sekali untuk pemakaian,” ujar salah satu anggota tim.
Mengandalkan Bti sebagai Bahan Aktif
Pemanfaatan Bti menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan Larvix. Bakteri ini diketahui bekerja setelah tertelan oleh jentik nyamuk. Di dalam saluran pencernaan jentik nyamuk, toksin yang dihasilkan Bti dapat merusak jaringan pencernaan sehingga menyebabkan kematian larva/ jentik nyamuk. Mekanisme tersebut menjadi salah satu alasan tim memilih Bti sebagai bahan aktif karena memiliki sasaran yang relatif spesifik terhadap jentik nyamuk.
Pengembangan Larvix juga dilatarbelakangi oleh penggunaan larvasida berbahan kimia, seperti temephos, dalam pengendalian jentik nyamuk. Tim melihat perlunya pengembangan alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan karena penggunaan larvasida kimia secara berulang dapat berkaitan dengan munculnya resistensi pada larva nyamuk. Pemanfaatan Bti dalam Larvix dipadukan dengan sekam padi yang merupakan salah satu limbah pertanian. Pemanfaatan tersebut diharapkan dapat memberikan nilai tambah pada limbah sekaligus mendukung prinsip ekonomi sirkular.
Praktis dan Berorientasi pada Keberlanjutan
Selain aspek bahan, bentuk blok menjadi salah satu keunggulan yang ditawarkan Larvix. Masyarakat dapat menggunakannya secara langsung pada tempat penampungan air tanpa perlu melakukan penakaran khusus. Sistem slow-release juga memungkinkan bahan aktif dilepaskan secara bertahap sehingga produk dirancang dapat digunakan dalam jangka waktu lebih panjang. Pemanfaatan sekam padi sebagai bahan dasar turut menjadi bagian dari pendekatan keberlanjutan yang dibawa oleh produk.
Untuk memastikan kualitas produk, tim bekerja sama dengan laboratorium Hama dan Penyakit Tumbuhan (HPT) dalam pengujian yang mencakup toksisitas, residu, dan efikasi. Dalam perencanaan pasar yang lebih luas, tim menargetkan masyarakat di Jatinangor dan Bandung Raya. Untuk jangka menengah, Larvix diarahkan untuk dapat menjangkau rumah sakit, dinas kesehatan, dan institusi kesehatan lainnya. Tim juga berharap dapat bekerja sama dengan dinas
kesehatan dalam jangka panjang untuk memperkenalkan Larvix sebagai salah satu alternatif pengendalian jentik di masyarakat.
Edukasi melalui Pemasaran Digital
Pengenalan Larvix kepada masyarakat dilakukan melalui pemasaran digital dan kegiatan secara langsung. Tim memanfaatkan media daring untuk membuat konten interaktif dan edukatif mengenai produk serta pengendalian jentik nyamuk. Selain melalui media digital, Larvix diperkenalkan dalam berbagai kegiatan di lingkungan Unpad dan wilayah Bandung Raya. Strategi tersebut tidak hanya ditujukan untuk memperkenalkan produk, tetapi juga menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya pengendalian jentik sebagai bagian dari upaya pencegahan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk.
Tim juga menyediakan ruang konsultasi bagi konsumen melalui grup WhatsApp yang melibatkan anggota tim dan dokter pengawas. Melalui saluran tersebut, konsumen dapat menyampaikan pertanyaan maupun keluhan selama menggunakan Larvix.
Tantangan dalam Membangun Inovasi
Di balik pengembangan Larvix, tim menghadapi berbagai tantangan, salah satunya dalam mengatur waktu. Setiap anggota berasal dari program studi yang berbeda dengan jadwal perkuliahan dan kegiatan masing-masing.
Perbedaan tersebut membuat koordinasi menjadi tantangan tersendiri. Untuk mengatasinya, anggota tim membagi tanggung jawab sesuai peran dan berupaya menjaga komunikasi agar setiap pekerjaan dapat diselesaikan sesuai kebutuhan.
Bagi tim, keberhasilan memperoleh pendanaan PKM-K menjadi pengalaman yang tidak terlepas dari proses panjang dan penyesuaian. Bahkan, pada tahap penyusunan proposal, beberapa anggota harus bekerja dalam waktu yang terbatas setelah perubahan skema PKM. Pengalaman tersebut membuat tim belajar untuk memahami aspek kewirausahaan yang sebelumnya belum menjadi bagian utama dari latar belakang mereka.
Pengalaman tersebut sekaligus memberikan pembelajaran bahwa pengembangan inovasi membutuhkan kemampuan untuk bekerja lintas disiplin dan beradaptasi terhadap berbagai perubahan selama proses berlangsung.
Pesan bagi Mahasiswa Pengembang Inovasi
Berdasarkan pengalaman tersebut, tim Larvix menilai bahwa mahasiswa yang ingin mengikuti PKM tidak harus selalu memulai dari gagasan yang sangat kompleks. Menurut mereka, hal yang tidak kalah penting adalah memastikan gagasan tersebut memiliki konsep yang matang, aplikatif, realistis, dan memiliki peluang untuk dikembangkan.
“Kuatkan konsep dari inovasi atau ide. Tidak harus benar-benar out of the box, yang penting aplikatif, bisa diaplikasikan, dan realistis,” ungkap Ghazy.
Bagi tim Larvix, konsistensi juga menjadi bagian penting dalam menjalankan PKM. Berbagai tantangan yang muncul sepanjang proses menunjukkan bahwa pengembangan inovasi tidak berhenti pada lahirnya sebuah gagasan, tetapi membutuhkan kolaborasi, kemampuan beradaptasi, serta komitmen untuk mengembangkan gagasan tersebut hingga dapat diterapkan.
Melalui Larvix, mahasiswa Unpad berupaya mengintegrasikan isu kesehatan masyarakat dengan potensi pemanfaatan limbah pertanian. Penggunaan sekam padi sebagai salah satu bahan dalam pengembangan larvasida, dipadukan dengan sistem slow-release, menjadi bagian dari upaya menghadirkan inovasi yang praktis sekaligus mempertimbangkan aspek keberlanjutan.
Inovasi tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke-3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) khususnya dalam mendukung upaya pengendalian vektor penyakit. ), Juga inovasi ini berkaitan erat dengan Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke-8 (Kewirausahaan/Pertumbuhan Ekonomi) yaitu terletak pada Pengembangan Larvix sebagai produk kewirausahaan kemudian dengan adanya Pengembangan inovasi larvasida, Pemanfaatan teknologi slow-release, Hilirisasi gagasan mahasiswa menjadi produk melalui PKM-K sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke-9 (Industri, Inovasi dan Infrastruktur. Pada saat yang sama, pemanfaatan limbah sekam padi menunjukkan potensi penerapan sumber daya pertanian secara lebih berkelanjutan yang sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke-12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab)