$

PAUS ID

Padjadjaran Authentication System.

$

Portal Mahasiswa

Merupakan portal informasi bagi mahasiwa UNPAD

$

Portal Staff

Merupakan portal informasi bagi staf UNPAD.

$

Email UNPAD

Layanan email berbasis Google App for Education (GAFE) bagi seluruh sivitas akademika Unpad.

UNPAD

Dies Natalis ke-69 FK Unpad: “The Legacy FK Unpad” Teguhkan Semangat Hebat Bersama, Berkarya untuk Negeri

Dies Natalis ke-69 FK Unpad: “The Legacy FK Unpad” Teguhkan Semangat Hebat Bersama, Berkarya untuk Negeri

EUK0518 scaled

BANDUNG, 27 September 2026 — Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad) menyelenggarakan Acara Puncak Dies Natalis ke-69 pada Minggu (27/9/2026) di Aula Graha Sanusi Hardjadinata, Universitas Padjadjaran. Mengusung tema “Hebat Bersama, Berkarya untuk Negeri” dengan tajuk “The Legacy FK Unpad”, kegiatan ini menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan FK Unpad sekaligus meneguhkan komitmen dalam membangun kontribusi bagi bangsa dan dunia kesehatan.

Rangkaian kegiatan tidak hanya diisi dengan seremoni Dies Natalis, tetapi juga menghadirkan berbagai kegiatan bagi sivitas akademika dan keluarga besar FK Unpad, di antaranya vaksinasi dan skrining TSH, penampilan lima besar lomba vocal group, pengumuman pemenang lomba, serta pemberian penghargaan kepada purnabakti FK Unpad.

Acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Hymne Universitas Padjadjaran. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan laporan dan sambutan Dekan FK Unpad, Prof. Dr. Vitriana, dr., SpKFR, NM(K).

Dalam sambutannya, Prof. Vitriana menekankan bahwa perjalanan FK Unpad hingga saat ini merupakan hasil dari kontribusi banyak pihak yang telah menjadi bagian dari sejarah fakultas.

“Setiap kontribusi memiliki arti untuk FK Unpad. FK Unpad yang kita kenang hari ini adalah akumulasi dari legacy banyak orang. Oleh karena itu, Dies Natalis bukan hanya momentum untuk merayakan suatu pencapaian. Dies Natalis pada hari ini adalah saat bagi kita untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang dengan hormat, melihat ke depan dengan keberanian, dan bertanya kepada diri kita sendiri: legacy apa yang akan kita tinggalkan ke depan?” ujar Prof. Vitriana.

Dalam momentum tersebut, Dekan melaunching video profile FK yang terbaru yang berfokus pada Empat Pilar Strategis Pengembangan di FK Unpad, juga mengenalkan Logo FK Unpad dan video legacy alumni dari perwakilan angkatan setiap dekadenya.

Keempat pilar tersebut (Academic Excellence, Health System Impact, Institutional Strengthening, dan Global Engagement) menjadi landasan dalam memperkuat peran FK Unpad sebagai institusi pendidikan kedokteran yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap sistem kesehatan, memperkuat kelembagaan, serta meningkatkan keterlibatan dan jejaring di tingkat global.

Peluncuran Renstra dan logo FK Unpad menjadi bagian penting dari perjalanan menuju masa depan fakultas. Semangat The Legacy FK Unpad tidak hanya berbicara mengenai warisan yang telah dibangun oleh generasi terdahulu, tetapi juga mengenai tanggung jawab generasi saat ini dalam melanjutkan dan menciptakan legacy baru.

Rangkaian acara dilanjutkan dengan sambutan Rektor Universitas Padjadjaran yang diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Transformasi Digital, Keuangan dan Pengelolaan Bisnis Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof. Dr. Maman Setiawan, S.E., M.T., Ph.D.,

Jiwa Raih Juara Pertama Lomba Vocal Group

Semarak Dies Natalis ke-69 FK Unpad turut diramaikan dengan penampilan lima besar lomba vocal group yang melibatkan berbagai unsur di lingkungan FK Unpad.

Setelah melalui rangkaian penampilan dan penilaian, Jiwa berhasil meraih Juara 1, disusul THT sebagai Juara 2 dan IKA sebagai Juara 3. Sementara itu, penghargaan Juara Favorit diraih oleh DVE dan IKFR.

Perwakilan Jiwa menyampaikan rasa syukur atas pencapaian tersebut. Menurutnya, proses latihan yang dilalui tidak selalu mudah, tetapi dukungan dari berbagai pihak menjadi salah satu kekuatan hingga akhirnya berhasil meraih juara pertama.

“Alhamdulillah ada lika-liku di dalam setiap latihannya, tapi alhamdulillah kita mendapat juara 1,” ungkap perwakilan Jiwa.

Ia juga menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan secara keseluruhan.

“Tiada kesehatan tanpa kesehatan jiwa, jadi kita semua penting banget untuk menjaga kesehatan mental. Terima kasih buat dokter-dokter, konsulen, teteh alumni, dan pelatih kita Kang Ganjar dan Teh Rina yang sangat luar biasa, serta dukungan dari teman-teman semua,” tambahnya.

Menghargai Dedikasi Purnabakti FK Unpad

Salah satu bagian penting dalam rangkaian acara adalah pemberian penghargaan kepada para purnabakti Fakultas Kedokteran. Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi FK Unpad atas dedikasi, pengabdian, dan kontribusi yang telah diberikan selama menjadi bagian dari perjalanan fakultas.

Penghormatan terhadap para purnabakti sekaligus merefleksikan makna legacy yang menjadi tema utama Dies Natalis ke-69. Setiap generasi memiliki peran dalam membangun FK Unpad, dan kontribusi tersebut menjadi bagian dari fondasi bagi perkembangan fakultas pada masa mendatang.

Menutup Perayaan dengan Semangat Kebersamaan

Acara Puncak Dies Natalis ke-69 FK Unpad ditutup dengan berbagai persembahan yang semakin memperkuat suasana kebersamaan keluarga besar FK Unpad. Persembahan dari alumni Angkatan 1981 menjadi salah satu momen yang menghadirkan kembali hubungan lintas generasi dalam keluarga besar FK Unpad.

Rangkaian acara kemudian ditutup dengan persembahan Hymne FK Unpad oleh para pemenang lomba vocal group.

Melalui perayaan Dies Natalis ke-69, FK Unpad tidak hanya mengenang perjalanan panjang yang telah dilalui, tetapi juga meneguhkan komitmen untuk terus bergerak dan berkarya. Semangat “Hebat Bersama, Berkarya untuk Negeri” menjadi pengingat bahwa masa depan FK Unpad dibangun melalui kontribusi bersama seluruh sivitas akademika, alumni, tenaga kependidikan, serta seluruh keluarga besar FK Unpad.

Dengan semangat The Legacy FK Unpad, perjalanan 69 tahun menjadi pijakan untuk melangkah menuju masa depan, melanjutkan legacy yang telah dibangun, sekaligus menciptakan warisan baru yang memberikan manfaat bagi pendidikan kedokteran, sistem kesehatan, masyarakat, dan bangsa.

Sivitas Akademika FK Unpad Hadiri Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2026 di Halaman Gedung Rektorat Unpad

Sivitas Akademika FK Unpad Hadiri Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2026 di Halaman Gedung Rektorat Unpad

upacara peringatan kesaktian pancasila

JATINANGOR, 1 Oktober 2026 — Sivitas Akademika FK Unpad menghadiri Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2026 yang diselenggarakan di Halaman Gedung Rektorat Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Kamis (1/10/2026).

Upacara berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 08.30 WIB dengan mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur.”

Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk kembali meneguhkan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara sekaligus pemersatu bangsa dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Dalam upacara tersebut, Rektor Universitas Padjadjaran, Prof. dr. Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, Sp.M(K)., M.M., M.Kes., Ph.D., bertugas membacakan teks Pancasila.

Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Riset Fakultas Ilmu Budaya, Dr. Lina Meilinawati Rahayu, M.Hum., membacakan naskah Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Pembacaan naskah ikrar dilakukan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Riset Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Dr. Atikah Nurhayati, SP., MP.

Dari FK Unpad, Wakil Dekan Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Riset, dr. Irvan Afriandi, Grad.Dipl.OEH., MPH., Dr.PH., turut mengambil bagian dalam upacara dengan membacakan doa.

Rangkaian upacara kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu wajib nasional “Andhika Bhayangkari” yang dibawakan oleh Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Universitas Padjadjaran.

Keikutsertaan FK Unpad dalam Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2026 menjadi bagian dari komitmen sivitas akademika dalam memperingati momentum nasional serta menguatkan nilai-nilai kebangsaan di lingkungan Universitas Padjadjaran.

Melalui peringatan Hari Kesaktian Pancasila, nilai persatuan dan semangat kebersamaan diharapkan terus menjadi bagian dari kehidupan sivitas akademika dalam menjalankan tugas pendidikan, penelitian, pelayanan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Fakultas Kedokteran Unpad Selenggarakan Skrining Thalassemia Gratis dalam Rangka Dies Natalis ke-69

Fakultas Kedokteran Unpad Selenggarakan Skrining Thalassemia Gratis dalam Rangka Dies Natalis ke-69

IMG 6577 scaled

Jatinangor, 22 September 2026 — Dalam rangka memperingati Dies Natalis Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad) ke-69, FK Unpad menyelenggarakan Skrining Thalassemia Gratis pada Selasa, 22 September 2026. Kegiatan yang berlangsung di Bale Waringkas, Fakultas Kedokteran Unpad, Jatinangor ini terbuka bagi mahasiswa FK Unpad.

Kegiatan tersebut diikuti oleh kurang lebih 140 peserta dan menjadi salah satu upaya FK Unpad dalam meningkatkan kesadaran serta pengetahuan masyarakat mengenai thalassemia, khususnya pentingnya mengetahui status pembawa sifat thalassemia melalui pemeriksaan darah.

Ketua Pelaksana kegiatan skrining ini adalah Prof. Dr. Susi Susanah, dr., Sp.A (K), M.Kes. Rangkaian kegiatan meliputi edukasi mengenai thalassemia, pengambilan sampel darah untuk skrining, konsultasi hasil pemeriksaan, serta konseling genetika.

Meningkatkan Kesadaran tentang Thalassemia

Thalassemia merupakan salah satu penyakit kelainan darah genetik yang diwariskan dari orang tua kepada anak. Indonesia termasuk negara yang berada dalam kawasan thalassemia belt, dengan prevalensi pembawa gen thalassemia yang diperkirakan mencapai 3–10% dari total populasi.

Thalassemia memiliki bentuk yang berat, salah satunya thalassemia mayor atau thalassemia dependen transfusi (TDT). Penyandang kondisi ini membutuhkan transfusi darah dan terapi kelasi besi secara rutin sepanjang hidup. Kondisi tersebut tidak hanya dapat memengaruhi kualitas hidup penyandang dan keluarganya, tetapi juga menimbulkan beban pembiayaan yang signifikan bagi sistem pelayanan kesehatan.

Di sisi lain, individu yang merupakan pembawa sifat Thalassemia atau thalassemia  minor/trait pada umumnya dapat hidup normal dan tampak sehat. Kondisi ini sering kali tidak menunjukkan gejala khas sehingga status pembawa sifat dapat tidak diketahui tanpa pemeriksaan.

Skrining sebagai Upaya Preventif

Thalassemia diwariskan secara autosomal resesif mengikuti pola pewarisan genetik. Oleh karena itu, mengetahui status pembawa sifat menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan munculnya thalassemia mayor pada generasi berikutnya.

Status pembawa gen thalassemia dapat diketahui melalui pemeriksaan darah. Dalam konteks tersebut, skrining thalassemia menjadi salah satu langkah preventif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap risiko penyakit thalassemia sekaligus mendorong masyarakat mengenali status kesehatan genetiknya.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga telah mencanangkan program zero thalassemia, yang diarahkan pada upaya menurunkan angka kejadian thalassemia, khususnya mencegah lahirnya bayi dengan thalassemia mayor. Salah satu upaya yang dilakukan adalah skrining thalassemia pada kelompok usia produktif.

Mahasiswa sebagai Kelompok Usia Produktif

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran sebagai kelompok usia produktif dinilai menjadi salah satu kelompok yang ideal untuk mendapatkan akses terhadap skrining thalassemia.

Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya memperoleh kesempatan untuk melakukan pemeriksaan, tetapi juga mendapatkan edukasi mengenai thalassemia dan pemahaman mengenai pentingnya mengetahui status pembawa sifat. Dengan demikian, skrining diharapkan dapat menjadi sarana edukasi kesehatan sekaligus mendukung upaya pencegahan thalassemia di masyarakat.

Rangkaian Kegiatan Skrining Thalassemia

Kegiatan Skrining Thalassemia Gratis FK Unpad dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu: 

    1. Edukasi mengenai thalassemia dan informed consent
    2. Pelaksanaan skrining thalassemia melalui pengambilan sampel darah
    3. Konsultasi hasil skrining thalassemia
    4. Konseling genetika

Rangkaian tersebut dirancang untuk memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh kepada peserta, mulai dari informasi mengenai thalassemia hingga konsultasi dan konseling setelah pemeriksaan.

Mendukung Upaya Pengendalian Thalassemia

Penyelenggaraan Skrining thalassemia Gratis dalam rangka Dies Natalis FK Unpad menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya deteksi status pembawa sifat thalassemia .

Melalui kegiatan ini, FK Unpad turut mendukung upaya pemerintah dalam menurunkan angka kejadian thalassemia, khususnya mencegah lahirnya bayi dengan thalassemia mayor. Kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap upaya pengendalian thalassemia di Indonesia sekaligus memperkuat edukasi publik mengenai penyakit kelainan darah genetik tersebut.

Selain pelaksanaan skrining thalassemia , kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk memperkenalkan inovasi di bidang pemeriksaan kadar hemoglobin. Rizky Ramadhan, koas semester 3 di Klinik Pratama Alfatih Medika bersama tim memperkenalkan Santara, sebuah inovasi yang dikembangkan untuk mendeteksi kadar hemoglobin secara non-invasif.

Dalam pemaparannya, Rizky menjelaskan bahwa Santara diperkenalkan sebagai sistem inovasi yang ditujukan untuk mendukung pemeriksaan kadar hemoglobin tanpa melalui prosedur pengambilan sampel darah.

“Di sini kami memperkenalkan suatu inovasi yang kita sebut sebagai Santara, yang merupakan sistem inovasi akurasi untuk mendeteksi kadar hemoglobin secara non-invasif,” ujar Rizky.

Pengenalan inovasi tersebut menjadi bagian dari kegiatan yang mempertemukan aspek skrining, edukasi, dan pengembangan inovasi kesehatan. Kehadiran Santara bersama rangkaian kegiatan skrining thalassemia turut memperkenalkan alternatif pendekatan dalam pemeriksaan kadar hemoglobin kepada peserta kegiatan.

FK Unpad dan Dinas Kesehatan Jawa Barat Bahas Program Strategis Pengembangan SDM Kesehatan

FK Unpad dan Dinas Kesehatan Jawa Barat Bahas Program Strategis Pengembangan SDM Kesehatan

FK Unpad dan Dinas Kesehatan Jawa Barat Bahas Program Beasiswa Dokter Spesialis dan Dokter Desa scaled

Bandung, 23 September 2026 — Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad) bersama Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat melakukan koordinasi dan pembahasan sejumlah program strategis dalam rangka mendukung penguatan pengelolaan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) kesehatan di Jawa Barat.

Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 23 September 2026, bertempat di Ruang Rapat dr. M. H. A. Patah, Lantai 1, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Jalan Pasteur No. 25, Kota Bandung. Kegiatan tersebut menjadi ruang koordinasi antara FK Unpad dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dalam menyelaraskan konsep serta mekanisme pelaksanaan sejumlah program pengembangan SDM kesehatan.  

 

Pembahasan Program Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis

Salah satu agenda utama dalam pertemuan tersebut adalah penandatanganan paraf Perjanjian Kerja Sama (PKS) Penyelenggaraan Pendidikan Dokter Spesialis/Subspesialis oleh Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Vitriana Biben, dr., Sp.KFR., N.M. (K), bersama Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, dr. R. Vini Adiani Dewi, MMRS.

Kerja sama ini menjadi bagian dari upaya koordinasi dalam pengembangan pendidikan dokter spesialis dan subspesialis. Selain itu, pembahasan juga mencakup pengembangan konsep Program Beasiswa Pendidikan Dokter Spesialis/Subspesialis baik PNS maupun non PNS sebagai salah satu program strategis dalam pengembangan SDM kesehatan di Provinsi Jawa Barat.

 Melalui pembahasan tersebut, FK Unpad dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat membahas konsep serta mekanisme program yang diharapkan dapat mendukung pengembangan tenaga kesehatan melalui pendidikan dokter spesialis dan subspesialis. 

 

Pengembangan Konsep Program Dokter Desa
Selain program pendidikan dokter spesialis dan subspesialis, pertemuan juga membahas konsep Program Dokter Desa. Program tersebut menjadi salah satu agenda strategis yang dibahas bersama dalam konteks pengembangan SDM kesehatan. Pembahasan diarahkan pada penyelarasan konsep program serta langkah tindak lanjut antara FK Unpad dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat.

Koordinasi antara institusi pendidikan kedokteran dan pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat sinergi dalam merancang program pengembangan SDM kesehatan yang selaras dengan kebutuhan kesehatan di Jawa Barat. Rencana tahun depan adanya penambahan 100 lokus baru untuk Program Dokter Desa yang merupakan bagian dari langkah startegis untuk memperluas layanan medis di daerah terpencil.


Memperkuat Sinergi Pengembangan SDM Kesehatan

Kegiatan ini diharapkan menjadi wadah untuk menyelaraskan konsep, mekanisme, dan langkah tindak lanjut pelaksanaan program antara FK Unpad dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. Sinergi tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung pengelolaan dan pengembangan SDM kesehatan di tingkat provinsi.

Melalui koordinasi dan pembahasan program secara bersama, FK Unpad dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat terus membuka ruang kolaborasi dalam pengembangan pendidikan kedokteran serta program strategis bidang kesehatan.

Informasi Kegiatan

Hari/Tanggal:
Rabu, 23 September 2026
Waktu: 09.00 WIB–selesai
Tempat: Ruang Rapat dr. M. H. A. Patah, Lantai 1, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat
Alamat: Jalan Pasteur No. 25, Kota Bandung


Agenda:

1. Penandatanganan paraf Perjanjian Kerja Sama Penyelenggaraan Pendidikan Dokter Spesialis/Subspesialis
2.
Pengembangan konsep Program Beasiswa Pendidikan Dokter Spesialis/Subspesialis
3. Pembahasan konsep Program Dokter Desa

 

Treatment neglect in multibacillary leprosy leading to osteomyelitis and transtibial amputation: Lessons from endemic setting

Treatment neglect in multibacillary leprosy leading to osteomyelitis and transtibial amputation: Lessons from endemic setting

51

 

 

Figure 1. ( A–F) Charcot’s arthropathy and multiple ulcers (red arrows) on the right lower limb and lateral ankle (A); the sole of the foot and medial ankle (B); macroscopic appearance of the ulcers before transtibial amputation (C, D); and comparison of the lower limb before and after transtibial amputation (E = before; F = after).

A case report published in the International Journal of Infectious Diseases highlights the severe and potentially preventable consequences of treatment neglect in patients with multibacillary (MB) leprosy. The report, authored by researchers from the Department of Dermatology and Venereology, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran and Dr. Hasan Sadikin Hospital, Bandung, describes a case in which prolonged treatment neglect led to severe infection, osteomyelitis, and ultimately transtibial amputation.

Authors

Hendra Gunawan,Kartika Ruchiatan ,Erda Avriyanti ,Risa Miliawati Nurul Hidayah , Devina Gracia Pratama

Affiliations
Department of Dermatology and Venereology, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran – Dr. Hasan Sadikin Hospital, Bandung, West Java, Indonesia

 

Background

Leprosy is a chronic infectious disease caused by the Mycobacterium leprae complex that primarily affects the skin and peripheral nerves. Although effective multidrug therapy (MDT) is available, leprosy continues to contribute to preventable disability, particularly in endemic countries, including Indonesia.

Multibacillary leprosy is associated with a high bacterial load, extensive skin lesions, and significant peripheral nerve involvement. Without timely treatment and appropriate follow-up, progressive nerve damage may result in sensory loss, repeated unnoticed trauma, neuropathic ulcers, secondary infection, and permanent disability.

The case report emphasizes that severe disability may arise not only from delayed diagnosis, but also from failure to initiate and maintain appropriate treatment.

Methods

The publication presents a clinical case involving a 66-year-old man who had experienced hypopigmented, anesthetic skin lesions and numbness in his hands and feet for approximately two years. Despite previous advice to undergo further evaluation for suspected leprosy, the patient declined referral and did not receive antileprosy treatment.

A comprehensive clinical assessment was performed, including physical and neurological examinations. Radiological imaging, wound cultures, slit-skin smear examination, and histopathological assessment were also conducted to establish the diagnosis and assess the extent of the complications.

The patient was diagnosed with advanced multibacillary leprosy within the lepromatous spectrum, complicated by neuropathic ulcers, Charcot arthropathy, secondary bacterial infection, and acute osteomyelitis. Treatment included multibacillary multidrug therapy, broad-spectrum intravenous antibiotics, wound management, and surgical intervention.

Key Result

The clinical examination revealed multiple manifestations of advanced leprosy, including diffuse anesthetic skin patches, peripheral nerve thickening, glove-and-stocking sensory loss, claw-hand deformities, thenar atrophy, and madarosis. A deep plantar ulcer and multiple infected ulcers were identified on the right lower limb, accompanied by Charcot arthropathy.

Radiological examination demonstrated extensive soft-tissue swelling, bone destruction, acro-osteolysis, and gas formation, indicating acute osteomyelitis complicated by a gas-forming infection. Wound cultures identified Staphylococcus aureus and Klebsiella pneumoniae.

The slit-skin smear demonstrated abundant acid-fast bacilli, with a bacteriological index of 5+ and a morphological index of 90.7%. Histopathological findings were consistent with lepromatous-spectrum leprosy.

Although antimicrobial therapy and wound management were initiated, the extensive infection involving the foot, ankle, and distal lower leg posed a significant risk of sepsis. Consequently, transtibial amputation was performed to achieve adequate infection control. Following surgery, the patient’s condition improved, and he was referred for rehabilitation and prosthetic assessment.

Discussion & Conclusion

The case illustrates the serious consequences that can occur when multibacillary leprosy remains untreated for an extended period. Peripheral neuropathy can cause loss of sensation, making patients vulnerable to repeated unnoticed trauma and the development of neuropathic ulcers. When these wounds are not adequately monitored and treated, they may progress to severe infection and osteomyelitis.

In this case, treatment neglect played a central role in disease progression. The authors highlight that advanced disability in leprosy is influenced not only by delays in diagnosis, but also by delayed treatment initiation, poor continuity of care, inadequate follow-up, limited awareness, and stigma.

The case therefore reinforces the importance of early recognition, timely initiation of multidrug therapy, continuous patient engagement, appropriate wound care, and long-term follow-up. These measures are essential to prevent irreversible disability and reduce the need for major surgical interventions such as amputation.

The authors conclude that the severe complications experienced by the patient were largely preventable through earlier intervention and sustained treatment.

Related Sustainable Development Goals (SDGs)

This publication is particularly relevant to the following Sustainable Development Goals:

SDG 3 – Good Health and Well-being
The study supports efforts to improve the prevention, early detection, treatment, and management of infectious diseases and their complications, while reducing preventable disability.

SDG 10 – Reduced Inequalities
Leprosy can be associated with disability, stigma, and barriers to healthcare. Strengthening access to diagnosis, treatment, rehabilitation, and continuous care can contribute to reducing health-related inequalities.

SDG 17 – Partnerships for the Goals
Effective leprosy control requires collaboration among healthcare professionals, health institutions, public health programs, rehabilitation services, patients, families, and communities.

Among these goals, SDG 3 is the most directly aligned with the focus of the case report.

Journal Information

Article Title: Treatment neglect in multibacillary leprosy leading to osteomyelitis and transtibial amputation: Lessons from endemic setting

Authors: Hendra Gunawan, Kartika Ruchiatan, Erda Avriyanti, Risa Miliawati Nurul Hidayah, and Devina Gracia Pratama

Journal: International Journal of Infectious Diseases

Volume: 164

Year: 2026

Affiliation: Department of Dermatology and Venereology, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran – Dr. Hasan Sadikin Hospital, Bandung, West Java, Indonesia

DOI: 10.1016/j.ijid.2025.108354

 

Pin It on Pinterest