$

PAUS ID

Padjadjaran Authentication System.

$

Portal Mahasiswa

Merupakan portal informasi bagi mahasiwa UNPAD

$

Portal Staff

Merupakan portal informasi bagi staf UNPAD.

$

Email UNPAD

Layanan email berbasis Google App for Education (GAFE) bagi seluruh sivitas akademika Unpad.

UNPAD

Antusiasme Masyarakat Warnai Operasi Katarak dan Donor Darah Gratis FK Unpad di Kabupaten Tasikmalaya

Antusiasme Masyarakat Warnai Operasi Katarak dan Donor Darah Gratis FK Unpad di Kabupaten Tasikmalaya

operasi katarak fk unpad di tasikmalaya

Tasikmalaya, 12 September 2026 — Antusiasme masyarakat terlihat dalam pelaksanaan kegiatan operasi katarak dan donor darah gratis yang diselenggarakan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad) sebagai bagian dari rangkaian Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dalam rangka Dies Natalis ke-69 Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Tahun 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (12/9/2026), tersebut merupakan bentuk komitmen FK Unpad dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat prasejahtera di Jawa Barat, khususnya di wilayah Kabupaten Tasikmalaya.

Program pengabdian kepada masyarakat ini berfokus pada dua pilar utama intervensi kesehatan, yakni operasi katarak gratis dan donor darah gratis. Kedua kegiatan tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak sebagai upaya menghadirkan manfaat kesehatan secara langsung bagi masyarakat.

Ratusan Masyarakat Ikuti Operasi Katarak Gratis

Operasi katarak gratis ini menjadi salah satu kegiatan utama dalam rangkaian bakti sosial tersebut. Program ini sebagai Penanganan kuratif yang ditujukan bagi masyarakat penderita katarak dari kelompok prasejahtera sebagai upaya membantu mengembalikan fungsi penglihatan sehingga dapat menunjang aktivitas dan produktivitas sehari-hari.

Pelaksanaan operasi katarak dilakukan melalui kerja sama antara FK Unpad, Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Jawa Barat, dan Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (IKA FK Unpad), yang bertempat di RSUD KHZ Musthafa Kabupaten Tasikmalaya.

Antusiasme masyarakat terlihat sejak rangkaian kegiatan dimulai. Tercatat kurang lebih 120 masyarakat mengikuti rangkaian pelayanan operasi katarak dalam kegiatan bakti sosial tersebut.

Kehadiran layanan operasi katarak gratis diharapkan dapat membantu masyarakat yang selama ini menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan mata, sekaligus memberikan kesempatan bagi penerima manfaat untuk kembali menjalankan aktivitas sehari-hari dengan lebih optimal.

Donor Darah Dukung Ketersediaan Stok Darah

Selain operasi katarak, FK Unpad juga menyelenggarakan donor darah gratis sebagai bagian dari rangkaian kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Kegiatan donor darah dilaksanakan melalui kerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) dan Seksi Klinik DKM Masjid Agung Baiturrohman. Program ini ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan serta mendukung ketersediaan stok kantong darah di wilayah Kabupaten Tasikmalaya.

Kegiatan donor darah juga menjadi ruang partisipasi masyarakat dalam mendukung kebutuhan kesehatan sesama. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat layanan kesehatan, tetapi juga dapat berkontribusi secara langsung melalui aksi kemanusiaan.

Kebahagiaan Masyarakat Menjadi Penyemangat Panitia

Antusiasme dan kebahagiaan masyarakat yang mengikuti kegiatan menjadi salah satu hal yang memberikan kesan positif bagi para peserta maupun penyelenggara.

Perwakilan IKA FK Unpad sekaligus Ketua Panitia Operasi Katarak dan Donor Darah, dr. Hedi Hediyana, mengungkapkan rasa syukur atas kelancaran kegiatan dan tingginya antusiasme masyarakat.

“Alhamdulillah, selama pelaksanaan kegiatan dapat berjalan dengan baik. Saya begitu gembira melihat antusiasme masyarakat dalam mengikuti operasi katarak maupun kegiatan donor darah. Saya melihat kebahagiaan terpancar dari wajah mereka dan hal tersebut secara otomatis membuat hati saya juga ikut gembira,” tutur dr. Hedi Hediyana.

Menurut dr. Hedi, kebahagiaan yang terpancar dari masyarakat penerima manfaat menjadi salah satu hal yang memberikan kebanggaan sekaligus rasa syukur bagi panitia dan seluruh pihak yang terlibat.

Kehadiran program tersebut dinilai memberikan manfaat nyata, khususnya bagi masyarakat yang membutuhkan akses terhadap pelayanan kesehatan.

Salah satu keluarga pasien penerima manfaat operasi katarak juga menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan tersebut.

“Alhamdulillah, saya sangat bangga karena program ini sangat membantu masyarakat, khususnya masyarakat kecil,” ungkapnya.

Dorong Kolaborasi Berkelanjutan

Ketua DKM Masjid Agung Baiturrohman, KH Zamzam Imaduddin, turut menyampaikan harapan agar pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat dapat memberikan manfaat yang luas bagi warga.

Sementara itu, perwakilan kerja sama Puskesmas Kabupaten Tasikmalaya menyampaikan harapan agar program kolaborasi di bidang kesehatan dapat terus dikembangkan bersama pemerintah dan Dinas Kesehatan.

“Diharapkan program-program kolaborasi seperti ini dapat terus bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dan terus berjalan lancar,” tuturnya.

Keberlanjutan program kesehatan berbasis kolaborasi dinilai penting agar manfaat pelayanan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat. Sinergi antara perguruan tinggi, tenaga kesehatan, pemerintah, organisasi profesi, alumni, serta berbagai unsur masyarakat menjadi bagian penting dalam menghadirkan program kesehatan yang berkelanjutan.

Melalui rangkaian Dies Natalis ke-69, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran terus memperkuat peran perguruan tinggi dalam memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Kegiatan operasi katarak dan donor darah gratis di Kabupaten Tasikmalaya menjadi salah satu bentuk implementasi pengabdian kepada masyarakat yang mengedepankan kolaborasi dan kebermanfaatan.

Seminar Nasional FK Unpad Bahas Rodensia dan Zoonosis melalui Pendekatan One Health

Seminar Nasional FK Unpad Bahas Rodensia dan Zoonosis melalui Pendekatan One Health

seminar

BANDUNG – Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad) menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema “Rodensia dan Zoonosis: Memperkuat Sinergi Kesehatan Hewan, Manusia, dan Lingkungan melalui Pendekatan One Health” pada Kamis, 10 September 2026, kegiatan bertempat di Bale Rumawat, Kampus Universitas Padjadjaran, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung. Seminar dilaksanakan secara luring dan daring melalui Zoom.

Seminar ini menjadi forum ilmiah untuk meningkatkan pemahaman mengenai rodensia dan penyakit zoonosis sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan One Health, yang memandang kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan sebagai satu kesatuan yang saling berkaitan.

FK Unpad Dorong Kolaborasi Lintas Disiplin dalam Menghadapi Zoonosis

Kegiatan diawali dengan sambutan Ketua Program Studi Kedokteran Hewan Universitas Padjadjaran, Dr. Tyagita, drh., MVSc. Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Manajer Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Kedokteran Unpad, Dr. Yuni Susanti Pratiwi, dr., AIFO., M.Kes., yang mewakili Dekan Fakultas Kedokteran Unpad.

Dalam sambutannya, Dr. Yuni menyampaikan bahwa zoonosis merupakan persoalan kesehatan yang kompleks dan membutuhkan keterlibatan berbagai profesi, disiplin ilmu, serta institusi.

“FK Unpad menyadari zoonosis ini merupakan suatu persoalan kesehatan yang kompleks dan tidak dapat diselesaikan oleh satu profesi, satu disiplin ilmu atau satu institusi. Kesehatan manusia memiliki hubungan yang sangat erat dengan kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan,” ujar Dr. Yuni Susanti Pratiwi.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadikan pendekatan One Health semakin relevan untuk diterapkan.
“Pendekatan One Health sebetulnya menjadi sangat relevan karena menempatkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dalam satu kesatuan. Seminar ini merupakan suatu bentuk nyata implementasi AHS di FK Unpad dengan persoalan rodensia dan zoonosis dibahas dari berbagai perspektif,” lanjutnya.

One Health sebagai Fondasi Kolaborasi Kesehatan

Lebih lanjut, Dr. Yuni menekankan bahwa pendekatan One Health mengajarkan bahwa berbagai persoalan kesehatan tidak dapat diselesaikan secara sendiri-sendiri. Dibutuhkan sinergi antara bidang kesehatan hewan, kesehatan manusia, dan kesehatan lingkungan.

Kolaborasi tersebut juga perlu melibatkan akademisi, peneliti, pemerintah, praktisi, dan masyarakat. Kehadiran peserta dalam seminar menjadi salah satu bentuk komitmen bersama untuk memperkuat komunikasi, berbagi pengetahuan, membangun jejaring, serta mengembangkan kolaborasi dalam menghadapi berbagai tantangan zoonosis di Indonesia.

Sebagai institusi pendidikan tinggi, Universitas Padjadjaran memiliki tanggung jawab untuk terus memberikan kontribusi melalui pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Program Studi Kedokteran Hewan Unpad juga berkomitmen untuk terus mengambil bagian dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan sumber daya manusia, khususnya dalam bidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat.

Namun demikian, perguruan tinggi tidak dapat bekerja sendiri. Kolaborasi dengan kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, institusi penelitian, organisasi profesi, fasilitas pelayanan kesehatan, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya menjadi kunci untuk menghasilkan dampak yang lebih nyata bagi masyarakat.

“Melalui seminar ini diharapkan tidak hanya menjadi pertukaran informasi dan penguatan wawasan, tetapi juga mendapatkan gagasan, rekomendasi, serta peluang kerja sama yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Seminar nasional tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu momentum untuk semakin memperkuat implementasi pendekatan One Health di Indonesia dan mendorong terbentuknya sinergi yang lebih kuat antara kesehatan hewan, kesehatan manusia, dan kesehatan lingkungan.

Kolaborasi untuk Mewujudkan Satu Kesatuan Kesehatan

Setelah sesi sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi foto bersama. Acara kemudian memasuki sesi utama yang dipandu oleh drh. Dwi Wahyudha Wira, M.Si. selaku moderator.

Dalam pengantarnya, drh. Dwi menyampaikan pentingnya membangun semangat kolaborasi dalam penerapan pendekatan One Health.

“Ini adalah suatu bentuk semangat kita kolaborasi bersama untuk mewujudkan bagaimana satu kesatuan kesehatan atau kita sebut One Health untuk menjadi satu kesatuan kesejahteraan,” ujar drh. Dwi Wahyudha Wira, M.Si.

Seminar menghadirkan empat narasumber yang berasal dari berbagai bidang keilmuan. Keempat narasumber membahas isu rodensia dan zoonosis dari perspektif kesehatan hewan, kesehatan manusia, kesehatan lingkungan, hingga perkembangan teknologi diagnosis.

Rodensia sebagai Reservoir Penyakit Zoonosis

Narasumber pertama adalah Prof. drh. Hj. Roostita L. Balia, M.App.Sc., Ph.D., Guru Besar Kedokteran Hewan Universitas Padjadjaran. Ia membawakan materi berjudul “Rodensia sebagai Reservoir Penyakit Zoonotik: Perspektif Kesehatan Hewan.”

Dalam pemaparannya, Prof. Roostita menjelaskan bahwa rodensia merupakan kelompok hewan pengerat yang dapat menjadi salah satu sumber penularan penyakit zoonosis kepada manusia.

Rodensia dapat berperan sebagai reservoir alami yang membawa dan menyebarkan berbagai patogen yang berpotensi menyebabkan penyakit pada manusia maupun hewan lainnya.

Ia juga menyoroti bahwa pola dan gaya hidup masyarakat dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan interaksi dengan rodensia. Oleh karena itu, komunikasi dan peningkatan pemahaman masyarakat mengenai risiko zoonosis yang berkaitan dengan rodensia menjadi hal yang penting.

Pembahasan tersebut menegaskan bahwa pengendalian zoonosis tidak hanya berkaitan dengan penanganan penyakit, tetapi juga membutuhkan perhatian terhadap hubungan manusia, hewan, dan lingkungan.

Rodent-Borne Zoonoses dan Tantangannya bagi Kesehatan Manusia

Narasumber kedua adalah Prof. dr. Bachti Alisjahbana, Sp.PD-KPTI., Ph.D., Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Ia menyampaikan materi berjudul “Rodent-Borne Zoonoses: Tantangan bagi Kesehatan Manusia.”

Dalam paparannya, Prof. Bachti menunjukkan data mengenai penyebab demam akut pada pasien di rumah sakit berdasarkan survei yang melibatkan sekitar 1.400 pasien. Survei tersebut berlangsung selama dua tahun dan melibatkan delapan rumah sakit di berbagai wilayah Indonesia.

Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa Dengue menjadi salah satu penyebab demam akut yang paling sering ditemukan. Selanjutnya, Salmonella spp. dan Rickettsia spp. juga menjadi bagian dari temuan yang perlu mendapat perhatian.

Paparan tersebut memberikan gambaran mengenai kompleksitas penyakit infeksi serta pentingnya penguatan surveilans dan diagnosis dalam mengidentifikasi berbagai penyebab penyakit, termasuk penyakit yang memiliki keterkaitan dengan hewan pembawa penyakit dan lingkungan.

Pengelolaan Lingkungan untuk Pencegahan Zoonosis Rodensia

Perspektif berikutnya disampaikan oleh Dr. drh. Sugiarto, M.Si., Ketua Tim Kerja Pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit, Direktorat Kesehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Dr. Sugiarto membawakan materi berjudul “Pengelolaan Lingkungan dalam Pencegahan Zoonosis Rodensia.”

Dalam pemaparannya, ia membahas dasar hukum mengenai pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit. Pengendalian tersebut dilakukan melalui sejumlah kegiatan, meliputi:

  1. Pengamatan dan penyelidikan,
  2. Intervensi dengan metode fisik, biologi, dan/atau kimia,
  3. Pemantauan kepadatan vektor dan binatang pembawa penyakit.

Pengelolaan lingkungan menjadi salah satu komponen penting dalam pencegahan zoonosis yang berkaitan dengan rodensia. Upaya pengendalian perlu dilakukan secara terintegrasi dengan memperhatikan keberadaan hewan pembawa penyakit sekaligus kondisi lingkungan yang dapat mendukung keberadaan dan perkembangbiakan rodensia.

Perkembangan Diagnosis Zoonosis melalui Teknologi Molekuler

Narasumber keempat adalah Farida Dwi Handayani, S.Si., MS., dari Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman, Organisasi Riset Kesehatan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Farida menyampaikan materi berjudul “Perkembangan Metode Diagnosis Penyakit Zoonosis yang Ditularkan Rodensia: Dari Konvensional hingga Molekuler.”

Dalam pemaparannya, Farida menekankan pentingnya pemeriksaan laboratorium dalam mengidentifikasi penyebab penyakit, terutama ketika beberapa penyakit memiliki manifestasi klinis yang serupa.

“When clinical manifestations overlap, laboratory diagnosis becomes the key to identifying the true cause of disease.”

Perkembangan metode diagnosis, termasuk penggunaan pendekatan molekuler, menjadi bagian penting dalam mendukung identifikasi agen penyebab penyakit secara lebih tepat. Kemajuan tersebut diharapkan dapat mendukung proses diagnosis dan pengambilan keputusan dalam upaya pencegahan serta pengendalian penyakit zoonosis.

Memperkuat Implementasi One Health di Indonesia

Seminar Nasional “Rodensia dan Zoonosis: Memperkuat Sinergi Kesehatan Hewan, Manusia, dan Lingkungan melalui Pendekatan One Health” menjadi ruang penting untuk mempertemukan berbagai perspektif dalam memahami tantangan zoonosis.

Pembahasan mengenai rodensia sebagai reservoir penyakit, tantangan rodent-borne zoonoses bagi kesehatan manusia, pengelolaan lingkungan, hingga perkembangan metode diagnosis menunjukkan bahwa persoalan zoonosis membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan lintas disiplin.

Melalui pendekatan One Health, kolaborasi antara kesehatan hewan, kesehatan manusia, dan kesehatan lingkungan perlu terus diperkuat. Perguruan tinggi, pemerintah, peneliti, praktisi, organisasi profesi, dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi dalam membangun sistem pencegahan dan pengendalian zoonosis yang berkelanjutan.

Bagi Fakultas Kedokteran dan Program Studi Kedokteran Hewan Universitas Padjadjaran, kegiatan ini menjadi bagian dari kontribusi dalam memperkuat pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Seminar nasional ini diharapkan tidak berhenti pada pertukaran informasi, tetapi dapat melahirkan gagasan, rekomendasi, jejaring, dan peluang kolaborasi yang berkelanjutan.

Dengan semangat kolaborasi dan penerapan pendekatan One Health, upaya menjaga kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan dapat dilakukan secara lebih terpadu demi mewujudkan masyarakat yang sehat dan kesejahteraan yang berkelanjutan.

Fakultas Kedokteran UNPAD Raih Juara Umum Unpad Bergerak pada Dies Natalis ke-69

Fakultas Kedokteran UNPAD Raih Juara Umum Unpad Bergerak pada Dies Natalis ke-69

fakultas kedokteran unpad

BANDUNG, 11 September 2026 – Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK UNPAD) kembali mencatatkan prestasi membanggakan dalam rangkaian Dies Natalis ke-69 Universitas Padjadjaran. FK UNPAD berhasil meraih sejumlah penghargaan pada beberapa kategori sekaligus dinobatkan sebagai Juara Umum Unpad Bergerak.

Penghargaan tersebut diberikan dalam Upacara Dies Natalis ke-69 Universitas Padjadjaran yang berlangsung pada Jumat, 11 September 2026, bertempat di Graha Sanusi Hardjadinata, Universitas Padjadjaran, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung.
Upacara Dies Natalis menjadi salah satu momentum penting bagi Universitas Padjadjaran untuk memberikan apresiasi kepada sivitas akademika dan unit-unit di lingkungan universitas atas berbagai capaian, kontribusi, serta partisipasi dalam mendukung kemajuan Unpad.

Pada momentum tersebut, Fakultas Kedokteran UNPAD menunjukkan performa yang menonjol melalui raihan prestasi pada tiga kategori penghargaan, yakni Anugerah Pradja Brata, Anugerah Penggerak Strategis Sains dan Teknologi, serta Anugerah Pilar Strategis Sains dan Teknologi.

FK UNPAD Raih Tiga Penghargaan

Pada kategori Anugerah Pradja Brata, Fakultas Kedokteran UNPAD berhasil menduduki peringkat pertama. Posisi kedua diraih oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik serta Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam berada di peringkat ketiga. Sementara itu, pada kategori Anugerah Penggerak Strategis Sains dan Teknologi, FK UNPAD berhasil menempati Juara 3. Posisi pertama diraih Fakultas Pertanian dan posisi kedua ditempati Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

Prestasi kembali ditorehkan FK UNPAD melalui kategori Anugerah Pilar Strategis Sains dan Teknologi. Dalam kategori ini, Fakultas Kedokteran UNPAD berhasil meraih Juara 1, disusul Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam sebagai Juara 2 dan Fakultas Pertanian sebagai Juara 3.

Menjadi Juara Umum Unpad Bergerak

Selain meraih penghargaan pada tiga kategori tersebut, Fakultas Kedokteran UNPAD berhasil menjadi Juara Umum dalam rangkaian Unpad Bergerak.

Capaian ini menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan FK UNPAD pada peringatan Dies Natalis ke-69 Universitas Padjadjaran. Predikat Juara Umum tidak hanya mencerminkan pencapaian pada satu kategori, tetapi juga menggambarkan konsistensi keterlibatan dan kontribusi FK UNPAD dalam rangkaian kegiatan yang diselenggarakan Universitas Padjadjaran.

Keberhasilan tersebut merupakan buah dari kerja keras, kolaborasi, serta semangat seluruh keluarga besar Fakultas Kedokteran UNPAD. Sinergi antara pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan seluruh unsur sivitas akademika menjadi bagian penting dalam mendukung berbagai kegiatan dan pencapaian fakultas.
Raihan Juara Umum Unpad Bergerak sekaligus menjadi momentum bagi Fakultas Kedokteran UNPAD untuk terus memperkuat budaya kolaborasi, meningkatkan partisipasi sivitas akademika, serta memberikan kontribusi positif bagi Universitas Padjadjaran.

Prestasi ini diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah pencapaian, tetapi menjadi motivasi untuk terus bergerak, berkolaborasi, dan menghadirkan kontribusi terbaik bagi kemajuan Fakultas Kedokteran dan Universitas Padjadjaran.

Fakultas Kedokteran Unpad Torehkan Prestasi dalam Rangkaian Unpad Bergerak

Fakultas Kedokteran Unpad Torehkan Prestasi dalam Rangkaian Unpad Bergerak

utama 1

Universitas Padjadjaran (Unpad) menghadirkan Unpad Nyeni sebagai ruang ekspresi dan apresiasi bagi keluarga besar Unpad. Kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-69 Unpad tersebut berlangsung di Bale Santika, Unpad Kampus Jatinangor, Rabu (9/9).

Unpad Nyeni diselenggarakan sebagai wadah untuk mendorong kreativitas sekaligus mempererat kebersamaan dan hubungan antarwarga kampus. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Tata Kelola Unpad, Prof. Widya S. Sumadinata.

Selain menjadi ajang apresiasi seni dan kreativitas, kegiatan tersebut juga menjadi momentum pengumuman para pemenang Unpad Bergerak, rangkaian perlombaan olahraga yang melibatkan berbagai fakultas dan unit kerja di lingkungan Universitas Padjadjaran. 

Dalam rangkaian Unpad Bergerak, Fakultas Kedokteran (FK) Unpad berhasil menorehkan sejumlah prestasi di berbagai cabang olahraga. Capaian tersebut menunjukkan semangat sportivitas, kebersamaan, serta partisipasi aktif sivitas akademika FK Unpad dalam memeriahkan Dies Natalis ke-69 Unpad.

Adapun perolehan prestasi Fakultas Kedokteran dalam Unpad Bergerak adalah sebagai berikut:

  • Eksibisi Padel: Juara 1
  • Bulu Tangkis: Juara 1
  • Sepak Bola: Juara 2
  • Bola Basket Putri: Juara 2
  • Bola Voli Putra: Juara 3 bersama Fakultas Keperawatan
  • Bola Basket Putra: Juara 3

Secara keseluruhan, Fakultas Kedokteran menjadi salah satu fakultas dengan capaian prestasi yang menonjol dalam berbagai cabang perlombaan Unpad Bergerak. Prestasi tersebut tidak hanya menjadi bentuk pencapaian di bidang olahraga, tetapi juga mencerminkan semangat kolaborasi, kekompakan, dan sportivitas yang terus dibangun di lingkungan Fakultas Kedokteran.

Berikut ini merupakan daftar perolehan juara Unpad Bergerak:

Sepak Bola
Juara 1: Kantor Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Tata Kelola
Juara 2: Fakultas Kedokteran
Juara 3: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Bola Voli Putra
Juara 1: Kantor Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Tata Kelola
Juara 2: Fakultas Pertanian
Juara 3: Fakultas Keperawatan dan Fakultas Kedokteran

Bola Voli Putri
Juara 1: Fakultas Pertanian
Juara 2: Fakultas Ilmu Komunikasi
Juara 3: Fakultas Teknologi Industri Pertanian dan Kantor Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Tata Kelola

Bulu Tangkis
Juara 1: Fakultas Kedokteran
Juara 2: Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Juara 3: Kantor Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Tata Kelola

Bola Basket Putra
Juara 1: Fakultas Farmasi
Juara 2: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Juara 3: Fakultas Kedokteran

Bola Basket Putri
Juara 1: Kantor Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Transformasi Digital, Keuangan dan Pengelolaan Bisnis
Juara 2: Fakultas Kedokteran
Juara 3: Fakultas Kedokteran Gigi

Eksibisi Padel
Juara 1: Fakultas Kedokteran
Juara 2: Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Juara 3: Kantor Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan

Tenis Meja
Juara 1: Fakultas Farmasi
Juara 2: Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Juara 3: Fakultas Keperawatan

Lomba Gerak Jalan Mahasiswa Baru
Juara 1: Fakultas Pertanian
Juara 2: Fakultas Keperawatan
Juara 3: Sekolah Vokasi

Melalui partisipasi dalam Unpad Bergerak, Fakultas Kedokteran turut berkontribusi dalam menciptakan suasana kampus yang aktif, sehat, dan penuh kebersamaan. Capaian ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi seluruh sivitas akademika FK Unpad untuk terus mengembangkan potensi, menjunjung sportivitas, serta memperkuat semangat kebersamaan di lingkungan Universitas Padjadjaran. 

 

Dari Ciplukan hingga Nano-In-Microparticles, Mahasiswa FK Unpad Kembangkan Kandidat Terapi Adjuvan Kanker Paru

Dari Ciplukan hingga Nano-In-Microparticles, Mahasiswa FK Unpad Kembangkan Kandidat Terapi Adjuvan Kanker Paru

Untitled design 2

Jatinangor — Empat mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad) mengembangkan penelitian mengenai kandidat terapi adjuvan kanker paru berbasis bahan alam dan teknologi penghantaran obat. Bergabung dalam tim Ciplunova, Adinda Cleo Putri Panggabean, Calista Ribka Angelina Sihombing, Grace Angelova Pakpahan, dan Indah Andromeda Situmorang mengembangkan formulasi nano-in-microparticles aerosol berbasis Nanostructured Lipid Carriers (NLC) yang mengandung ekstrak ciplukan (Physalis angulata).

Penelitian ini berangkat dari tantangan pengembangan terapi kanker paru yang hingga kini masih menjadi salah satu masalah kesehatan dengan beban penyakit yang tinggi. Salah satu pendekatan terapi yang banyak digunakan adalah kemoterapi. Namun, karena obat kemoterapi bekerja secara sistemik, penggunaannya dapat memengaruhi sel normal dan menimbulkan berbagai efek samping.

Kondisi tersebut mendorong pengembangan berbagai pendekatan untuk mendukung terapi kanker, termasuk eksplorasi kandidat terapi adjuvan dan sistem penghantaran obat yang dapat mengarahkan bahan aktif ke organ sasaran.

Di bawah bimbingan Dr. Hesti Lina Wiraswati, M.Si., tim Ciplunova mengembangkan gagasan penelitian melalui studi literatur dan penyusunan proposal. Proses tersebut membawa tim pada eksplorasi potensi ekstrak ciplukan yang kemudian dipadukan dengan teknologi nanomedisin dan sistem penghantaran melalui inhalasi.

Mengeksplorasi Potensi Ciplukan

Ciplukan merupakan tanaman liar yang banyak tumbuh di wilayah tropis, termasuk Indonesia. Tanaman ini diketahui mengandung berbagai metabolit sekunder, salah satunya kelompok withanolida, yang menjadi salah satu senyawa yang menarik dalam penelitian terkait aktivitas biologis.

Potensi tersebut menjadi dasar bagi tim untuk mengeksplorasi ciplukan sebagai sumber bahan alam dalam pengembangan kandidat terapi. Namun, menurut tim, identifikasi bahan aktif saja belum cukup. Tantangan berikutnya adalah mengembangkan sistem formulasi dan penghantaran yang sesuai sehingga bahan bioaktif dapat dikembangkan untuk mencapai organ sasaran.

Atas dasar tersebut, tim kemudian menggunakan pendekatan Nanostructured Lipid Carriers (NLC) sebagai sistem pembawa dalam formulasi ekstrak ciplukan.

Memadukan Bahan Alam dan Teknologi Nanomedisin

NLC selanjutnya dikembangkan menjadi sistem nano-in-microparticles, yakni sistem yang menggabungkan partikel berukuran nano ke dalam mikropartikel. Formulasi tersebut kemudian melalui proses pengeringan untuk menghasilkan dry powder yang dikembangkan sebagai kandidat sediaan aerosol untuk penghantaran melalui inhalasi.

Pendekatan ini membuat penelitian tidak hanya berfokus pada potensi bahan alam, tetapi juga pada sistem penghantaran bahan aktif menuju paru. Karakteristik fisik dan aerodinamik partikel turut menjadi perhatian karena berkaitan dengan kemampuan sediaan membentuk aerosol dan mendukung proses deposisi pada saluran pernapasan.

“Pengembangan formulasi ini menjadi upaya untuk memadukan potensi bahan alam dengan teknologi penghantaran obat, khususnya untuk pengembangan sediaan yang ditujukan melalui jalur inhalasi,” jelas tim Ciplunova.

Mengembangkan Kandidat Sediaan Inhalasi

Dalam penelitian ini, proses pengembangan dimulai dengan preparasi dan ekstraksi tanaman ciplukan. Ekstrak yang diperoleh kemudian diformulasikan menggunakan NLC dan dikembangkan menjadi nano-in-microparticles. Tahap berikutnya dilakukan melalui proses pengeringan untuk menghasilkan dry powder aerosol.

Selain karakterisasi formulasi, penelitian juga dirancang untuk mengevaluasi potensi biologis secara in vitro menggunakan sel A549 sebagai model sel kanker paru. Pengujian mencakup pengamatan terhadap viabilitas sel, perubahan morfologi, dan kemampuan migrasi sel.

Hasil dari tahapan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran awal mengenai karakteristik formulasi serta respons sel terhadap perlakuan. Namun, penelitian ini masih berada pada tahap pengembangan sehingga diperlukan penelitian lanjutan untuk mengevaluasi mekanisme kerja, keamanan, karakteristik formulasi, serta potensi penggunaannya melalui tahapan penelitian yang lebih kompleks.

Menjadi Ruang Belajar bagi Mahasiswa

Bagi tim Ciplunova, penelitian ini juga menjadi proses pembelajaran yang mempertemukan berbagai bidang keilmuan. Sebagai mahasiswa kedokteran, anggota tim perlu mempelajari aspek di luar keilmuan klinis, seperti ekstraksi bahan alam, formulasi, nanoteknologi, hingga karakterisasi material.

Proses tersebut mendorong tim untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak dari lintas fakultas di Universitas Padjadjaran. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan penelitian, mulai dari perencanaan, penelusuran literatur, pelaksanaan eksperimen, evaluasi hasil, hingga penyelesaian berbagai tantangan selama penelitian.

“Penelitian ini membuat kami belajar bahwa pengembangan solusi di bidang kesehatan membutuhkan kolaborasi lintas disiplin. Kami tidak hanya belajar mengenai kanker paru, tetapi juga memahami proses formulasi, nanoteknologi, dan bagaimana sebuah gagasan penelitian dikembangkan menjadi eksperimen,” ujar tim Ciplunova.

Langkah Awal Pengembangan Kandidat Terapi

Penelitian Ciplunova merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM-RE). Pengembangan nano-in-microparticles aerosol berbentuk dry powder berbasis ekstrak ciplukan ini masih berada pada tahap penelitian awal dan ditujukan sebagai eksplorasi kandidat sistem penghantaran serta kandidat terapi adjuvan kanker paru.

Ke depan, penelitian lanjutan diperlukan untuk mengevaluasi lebih mendalam karakteristik formulasi, efektivitas, mekanisme kerja, keamanan, serta berbagai aspek lain sebelum dapat dikembangkan menuju tahapan penelitian berikutnya.

Melalui penelitian tersebut, tim Ciplunova berupaya mempertemukan potensi sumber daya alam Indonesia dengan perkembangan teknologi kesehatan. Ciplukan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar menjadi titik awal bagi mahasiswa FK Unpad untuk mengeksplorasi gagasan mengenai bahan alam, nanomedisin, dan sistem penghantaran obat melalui paru.

Pada akhirnya, penelitian ini diharapkan dapat menjadi bagian dari perjalanan panjang eksplorasi bahan alam dan teknologi penghantaran obat dalam menghadapi tantangan kanker paru.

Author: Indah Andromeda

Pin It on Pinterest