BANDUNG – Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad) menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema “Rodensia dan Zoonosis: Memperkuat Sinergi Kesehatan Hewan, Manusia, dan Lingkungan melalui Pendekatan One Health” pada Kamis, 10 September 2026, kegiatan bertempat di Bale Rumawat, Kampus Universitas Padjadjaran, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung. Seminar dilaksanakan secara luring dan daring melalui Zoom.
Seminar ini menjadi forum ilmiah untuk meningkatkan pemahaman mengenai rodensia dan penyakit zoonosis sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan One Health, yang memandang kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan sebagai satu kesatuan yang saling berkaitan.
FK Unpad Dorong Kolaborasi Lintas Disiplin dalam Menghadapi Zoonosis
Kegiatan diawali dengan sambutan Ketua Program Studi Kedokteran Hewan Universitas Padjadjaran, Dr. Tyagita, drh., MVSc. Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Manajer Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Kedokteran Unpad, Dr. Yuni Susanti Pratiwi, dr., AIFO., M.Kes., yang mewakili Dekan Fakultas Kedokteran Unpad.
Dalam sambutannya, Dr. Yuni menyampaikan bahwa zoonosis merupakan persoalan kesehatan yang kompleks dan membutuhkan keterlibatan berbagai profesi, disiplin ilmu, serta institusi.
“FK Unpad menyadari zoonosis ini merupakan suatu persoalan kesehatan yang kompleks dan tidak dapat diselesaikan oleh satu profesi, satu disiplin ilmu atau satu institusi. Kesehatan manusia memiliki hubungan yang sangat erat dengan kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan,” ujar Dr. Yuni Susanti Pratiwi.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadikan pendekatan One Health semakin relevan untuk diterapkan.
“Pendekatan One Health sebetulnya menjadi sangat relevan karena menempatkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dalam satu kesatuan. Seminar ini merupakan suatu bentuk nyata implementasi AHS di FK Unpad dengan persoalan rodensia dan zoonosis dibahas dari berbagai perspektif,” lanjutnya.
One Health sebagai Fondasi Kolaborasi Kesehatan
Lebih lanjut, Dr. Yuni menekankan bahwa pendekatan One Health mengajarkan bahwa berbagai persoalan kesehatan tidak dapat diselesaikan secara sendiri-sendiri. Dibutuhkan sinergi antara bidang kesehatan hewan, kesehatan manusia, dan kesehatan lingkungan.
Kolaborasi tersebut juga perlu melibatkan akademisi, peneliti, pemerintah, praktisi, dan masyarakat. Kehadiran peserta dalam seminar menjadi salah satu bentuk komitmen bersama untuk memperkuat komunikasi, berbagi pengetahuan, membangun jejaring, serta mengembangkan kolaborasi dalam menghadapi berbagai tantangan zoonosis di Indonesia.
Sebagai institusi pendidikan tinggi, Universitas Padjadjaran memiliki tanggung jawab untuk terus memberikan kontribusi melalui pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Program Studi Kedokteran Hewan Unpad juga berkomitmen untuk terus mengambil bagian dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan sumber daya manusia, khususnya dalam bidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat.
Namun demikian, perguruan tinggi tidak dapat bekerja sendiri. Kolaborasi dengan kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, institusi penelitian, organisasi profesi, fasilitas pelayanan kesehatan, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya menjadi kunci untuk menghasilkan dampak yang lebih nyata bagi masyarakat.
“Melalui seminar ini diharapkan tidak hanya menjadi pertukaran informasi dan penguatan wawasan, tetapi juga mendapatkan gagasan, rekomendasi, serta peluang kerja sama yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Seminar nasional tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu momentum untuk semakin memperkuat implementasi pendekatan One Health di Indonesia dan mendorong terbentuknya sinergi yang lebih kuat antara kesehatan hewan, kesehatan manusia, dan kesehatan lingkungan.
Kolaborasi untuk Mewujudkan Satu Kesatuan Kesehatan
Setelah sesi sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi foto bersama. Acara kemudian memasuki sesi utama yang dipandu oleh drh. Dwi Wahyudha Wira, M.Si. selaku moderator.
Dalam pengantarnya, drh. Dwi menyampaikan pentingnya membangun semangat kolaborasi dalam penerapan pendekatan One Health.
“Ini adalah suatu bentuk semangat kita kolaborasi bersama untuk mewujudkan bagaimana satu kesatuan kesehatan atau kita sebut One Health untuk menjadi satu kesatuan kesejahteraan,” ujar drh. Dwi Wahyudha Wira, M.Si.
Seminar menghadirkan empat narasumber yang berasal dari berbagai bidang keilmuan. Keempat narasumber membahas isu rodensia dan zoonosis dari perspektif kesehatan hewan, kesehatan manusia, kesehatan lingkungan, hingga perkembangan teknologi diagnosis.
Rodensia sebagai Reservoir Penyakit Zoonosis
Narasumber pertama adalah Prof. drh. Hj. Roostita L. Balia, M.App.Sc., Ph.D., Guru Besar Kedokteran Hewan Universitas Padjadjaran. Ia membawakan materi berjudul “Rodensia sebagai Reservoir Penyakit Zoonotik: Perspektif Kesehatan Hewan.”
Dalam pemaparannya, Prof. Roostita menjelaskan bahwa rodensia merupakan kelompok hewan pengerat yang dapat menjadi salah satu sumber penularan penyakit zoonosis kepada manusia.
Rodensia dapat berperan sebagai reservoir alami yang membawa dan menyebarkan berbagai patogen yang berpotensi menyebabkan penyakit pada manusia maupun hewan lainnya.
Ia juga menyoroti bahwa pola dan gaya hidup masyarakat dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan interaksi dengan rodensia. Oleh karena itu, komunikasi dan peningkatan pemahaman masyarakat mengenai risiko zoonosis yang berkaitan dengan rodensia menjadi hal yang penting.
Pembahasan tersebut menegaskan bahwa pengendalian zoonosis tidak hanya berkaitan dengan penanganan penyakit, tetapi juga membutuhkan perhatian terhadap hubungan manusia, hewan, dan lingkungan.
Rodent-Borne Zoonoses dan Tantangannya bagi Kesehatan Manusia
Narasumber kedua adalah Prof. dr. Bachti Alisjahbana, Sp.PD-KPTI., Ph.D., Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Ia menyampaikan materi berjudul “Rodent-Borne Zoonoses: Tantangan bagi Kesehatan Manusia.”
Dalam paparannya, Prof. Bachti menunjukkan data mengenai penyebab demam akut pada pasien di rumah sakit berdasarkan survei yang melibatkan sekitar 1.400 pasien. Survei tersebut berlangsung selama dua tahun dan melibatkan delapan rumah sakit di berbagai wilayah Indonesia.
Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa Dengue menjadi salah satu penyebab demam akut yang paling sering ditemukan. Selanjutnya, Salmonella spp. dan Rickettsia spp. juga menjadi bagian dari temuan yang perlu mendapat perhatian.
Paparan tersebut memberikan gambaran mengenai kompleksitas penyakit infeksi serta pentingnya penguatan surveilans dan diagnosis dalam mengidentifikasi berbagai penyebab penyakit, termasuk penyakit yang memiliki keterkaitan dengan hewan pembawa penyakit dan lingkungan.
Pengelolaan Lingkungan untuk Pencegahan Zoonosis Rodensia
Perspektif berikutnya disampaikan oleh Dr. drh. Sugiarto, M.Si., Ketua Tim Kerja Pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit, Direktorat Kesehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Dr. Sugiarto membawakan materi berjudul “Pengelolaan Lingkungan dalam Pencegahan Zoonosis Rodensia.”
Dalam pemaparannya, ia membahas dasar hukum mengenai pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit. Pengendalian tersebut dilakukan melalui sejumlah kegiatan, meliputi:
- Pengamatan dan penyelidikan,
- Intervensi dengan metode fisik, biologi, dan/atau kimia,
- Pemantauan kepadatan vektor dan binatang pembawa penyakit.
Pengelolaan lingkungan menjadi salah satu komponen penting dalam pencegahan zoonosis yang berkaitan dengan rodensia. Upaya pengendalian perlu dilakukan secara terintegrasi dengan memperhatikan keberadaan hewan pembawa penyakit sekaligus kondisi lingkungan yang dapat mendukung keberadaan dan perkembangbiakan rodensia.
Perkembangan Diagnosis Zoonosis melalui Teknologi Molekuler
Narasumber keempat adalah Farida Dwi Handayani, S.Si., MS., dari Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman, Organisasi Riset Kesehatan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Farida menyampaikan materi berjudul “Perkembangan Metode Diagnosis Penyakit Zoonosis yang Ditularkan Rodensia: Dari Konvensional hingga Molekuler.”
Dalam pemaparannya, Farida menekankan pentingnya pemeriksaan laboratorium dalam mengidentifikasi penyebab penyakit, terutama ketika beberapa penyakit memiliki manifestasi klinis yang serupa.
“When clinical manifestations overlap, laboratory diagnosis becomes the key to identifying the true cause of disease.”
Perkembangan metode diagnosis, termasuk penggunaan pendekatan molekuler, menjadi bagian penting dalam mendukung identifikasi agen penyebab penyakit secara lebih tepat. Kemajuan tersebut diharapkan dapat mendukung proses diagnosis dan pengambilan keputusan dalam upaya pencegahan serta pengendalian penyakit zoonosis.
Memperkuat Implementasi One Health di Indonesia
Seminar Nasional “Rodensia dan Zoonosis: Memperkuat Sinergi Kesehatan Hewan, Manusia, dan Lingkungan melalui Pendekatan One Health” menjadi ruang penting untuk mempertemukan berbagai perspektif dalam memahami tantangan zoonosis.
Pembahasan mengenai rodensia sebagai reservoir penyakit, tantangan rodent-borne zoonoses bagi kesehatan manusia, pengelolaan lingkungan, hingga perkembangan metode diagnosis menunjukkan bahwa persoalan zoonosis membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan lintas disiplin.
Melalui pendekatan One Health, kolaborasi antara kesehatan hewan, kesehatan manusia, dan kesehatan lingkungan perlu terus diperkuat. Perguruan tinggi, pemerintah, peneliti, praktisi, organisasi profesi, dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi dalam membangun sistem pencegahan dan pengendalian zoonosis yang berkelanjutan.
Bagi Fakultas Kedokteran dan Program Studi Kedokteran Hewan Universitas Padjadjaran, kegiatan ini menjadi bagian dari kontribusi dalam memperkuat pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Seminar nasional ini diharapkan tidak berhenti pada pertukaran informasi, tetapi dapat melahirkan gagasan, rekomendasi, jejaring, dan peluang kolaborasi yang berkelanjutan.
Dengan semangat kolaborasi dan penerapan pendekatan One Health, upaya menjaga kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan dapat dilakukan secara lebih terpadu demi mewujudkan masyarakat yang sehat dan kesejahteraan yang berkelanjutan.





0 Comments