Discussion – 

0

Discussion – 

0

BANTUAN MEDIS KULIAH LAPANGAN SITH-ITB di TNBBS LAMPUNG 2023

One of the tools created by the CALOHEA Erasmus+ project participants in order to facilitate recognition of degrees and periods of studies both within the ASEAN region and between the ASEAN region and other world regions are Regional Subject-Specific Reference Frameworks.

A Qualifications Framework is a structure that allows us to classify different qualifications in a geographical area covered by the framework and establish a broad equivalence of qualifications (e.g. first cycle of higher education/undergraduate, etc.) across the region. This is done through describing what a learner will have developed in terms of knowledge, skills, attitudes, competences, etc upon successfully completing a particular level of studies.

Regional Qualifications Reference Frameworks seek to establish broad equivalence among qualifications offered in more than one country. Such frameworks are intended to be used as Reference Documents – facilitating recognition but not overruling National regulations or National Qualifications Frameworks. The ASEAN Qualifications Reference Framework (AQRF) and the European Qualifications Framework (EQF) could be two good examples here.

CALOHEA Subject-Specific Qualifications Reference Frameworks facilitate recognition through allowing to:

1) clearly see which key dimensions must be addressed by each programme in the subject area;

2) establish equivalence between qualifications offered in different countries in terms of their level, regardless of how the qualifications are referred to in each of the countries;

3) express specialisation of a particular programme in terms of the sub-dimensions addressed;

4) compare the level of achievement aimed at for each of the sub-dimensions – in terms of knowledge, skills or responsibilities;

5) compare shorter periods of study as well – periods of study during which only particular types of knowledge, specific skills or capacity to perform particular responsibilities can be developed.

 

CALOHEA Regional Subject-Specific Qualifications Reference Frameworks state in a detailed manner what knowledge, skills, attitudes, competences, etc. are expected from graduates of a ARQF Level 6 degrees in Civil Engineering, Medicine and Teacher Education; & allow recognition across all the countries involved in the development of the Frameworks.

To see the CALOHEA Reference Frameworks, visit https://calohea.org/

The CALOHEA Erasmus+ project is coordinated by the Tuning Academy of the University of Groningen (the Netherlands) and the ASEAN University Network and is co-funded by the European Commission.

 

Looking for examples of authentic assessment tasks in Civil Engineering, Medicine or Teacher Education? Check CALOHEA Complications of Inspirational Examples prepared specifically for the ASEAN higher education institutions

 

While authentic assessment is key if you want to prepare industry-ready graduates and make sure your students achieve complex learning outcomes, many academics believe that authentic assessment is very difficult, time consuming and even expensive to implement.

 

To show that this is not necessarily the case, CALOHEA experts from seven ASEAN countries have created compilations of Inspirational Examples – ranging from more daring options to those that every academic can easily introduce in their course, regardless of the class size and financial limitations.

 

Visit the CALOHEA website to consult or download the 3 compilations – one for Medicine, one for Teacher education and one for Civil Engineering: https://calohea.org/

 

The CALOHEA Erasmus+ project is coordinated by the Tuning Academy of the University of Groningen (the Netherlands) and the ASEAN University Network and is co-funded by the European Commission.

[ humas.fk@unpad.ac.id ]

Bantuan Medis Kuliah Lapangan SITH ITB
di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS)
Penulis : Daffa’a Naufal Zain (AMP 2520001 AC)
Editor : Safira Firdaus Nurul Hadian (AMP 2520041
Pada Rabu, 15 Maret 2023 telah dilaksanakan kegiatan bantuan medis kuliah lapangan SITH ITB di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) Lampung. Kegiatan bantuan medis kuliah lapangan ini dilaksanakan selama 4 hari yang diikuti oleh 70 orang mahasiswa, 4 orang dosen pendamping dan 2 orang tim medis.


Hari Pertama, Tim AMP dan peserta kuliah lapangan berkumpul di Kampus ITB Jatinangor untuk melakukan persiapan keberangkatan. Namun pada persiapan keberangkatan sudah terdapat kejadian medis, yaitu salah satu mahasiswa tersayat pada jari kirinya. Setelah diperiksa, luka tersebut harus dijahit. Namun dikarenakan peserta sudah harus berangkat, akhirnya luka tersebut dibalut terlebih dahulu dan dilakukan hecting di rest area. Perjalanan Jatinangor menuju ke Lampung dilakukan selama 17 jam melalui darat dan laut.


Tim sampai di Kota Agung Provinsi Lampung pada pukul sebelas siang, pada hari kedua. Kemudian mobilisasi menuju tempat tinggal selama di lokasi kuliah lapangan serta beristirahat. Selama istirahat, Daffa’a Naufal Zain, S.Ked. (AMP 2520001 AC) melakukan sterilisasi hecting set karena telah terpakai ketika dalam perjalanan. Kegiatan selanjutnya dimulai pada pukul 2 siang, semua peserta kuliah lapangan melakukan mobilisasi ke dalam Hutan TNBBS dan didampingi oleh pengelola Taman Nasional dan Tim AMP. Area pembagian tim medis dibagi berdasarkan kelompok, kelompok 1-5 didampingi oleh Rana Anisah, S.Ked. (AMP 2418005 NW) dan kelompok 5-10 didampingi oleh Daffa’a Naufal Zain, S.Ked. (AMP 2520001 AC) karena peserta dibagi menjadi 10 kelompok.

Kegiatan dilaksanakan pukul 6 sore, kemudian peserta melakukan mobilisasi kembali menuju ke penginapan. Sama seperti hari sebelumnya, Tim AMP standby selama kegiatan ketika dilakukannya presentasi mengenai Taman Nasional pada malam harinya, sekitar pukul 19.30.

Kantor pengelola Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).

Persiapan pembagian kelompok kegiatan analisis tumbuhan di hutan.

                Sterilisasi hecting set.

Kegiatan pada hari ketiga kurang lebih masih sama yaitu peserta melakukan mobilisasi pada pagi hari menuju hutan didampingi oleh pengelola Taman Nasional dan Tim AMP. Kegiatan di dalam hutan dibagi menjadi dua area dengan cakupan area yang lebih luas. Selain menganalisa tumbuhan, peserta juga melakukan analisa pada serangga yang hidup di hutan dengan menggunakan metode trapping. Tim AMP standby mendampingi selama kegiatan. Pada pukul 3 sore peserta sudah kembali ke penginapan dan melakukan istirahat sampai pukul 4 sore. Dilanjutkan dengan kegiatan mengolah data untuk dipresentasikan pada malam harinya.

Kegiatan Analisis hewan dan tumbuhan. Diskusi bersama dekan SITH ITB.

Kegiatan mobilisasi peserta.

Tidak terasa sudah hari terakhir di Lampung, peserta kuliah lapangan melakukan analisis burung pada area hutan. Kemudian peserta dan Tim AMP melakukan mobilisasi menggunakan bus menuju Rhinocamp yang merupakan salah satu tempat budidaya Rafflesia arnoldi di TNBBS. Selain itu Rhinocamp dibuat untuk mengenang Badak Rossa, badak yang dievakuasi dari Taman Nasional Bukit Barisan tahun lalu, yang berhasil melahirkan badak betina di Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Tim AMP standby pada saat peserta berkegiatan, dan alhamdulillah tidak terdapat kejadian medis.

Pemeriksaan Kesehatan peserta di pos Rhinocamp.

           Bunga Raflesia Arnoldi.      Kukang di jalan menuju hutan.

    Penyerahan plakat dari panitia kuliah lapangan kepada Tim AMP. 

Keigiatan selesai pada pukul 12 siang, kemudian dilakukan istirahat dan persiapan pulang. Rombongan pulang pukul 3 sore, dan tiba di Jatinangor pada hari Minggu, 19 Maret 2023 sekitar pukul 9 pagi dan dilakukan penutupan kegiatan berupa penyerahan plakat dari panitia kuliah lapangan kepada Tim AMP.

Terima kasih, AMP!

Ruby

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

en_USEnglish

Pin It on Pinterest

Share This