BANDUNG, 25 September 2026 — Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad) kembali memperkuat kontribusinya dalam pengembangan ilmu kedokteran melalui publikasi penelitian mengenai kusta multibasiler yang tidak mendapatkan pengobatan secara optimal hingga berkembang menjadi komplikasi berat berupa osteomielitis dan berujung pada amputasi transtibial.
Publikasi berjudul “Treatment Neglect in Multibacillary Leprosy Leading to Osteomyelitis and Transtibial Amputation: Lessons from Endemic Setting” tersebut ditulis oleh Hendra Gunawan, Kartika Ruchiatan, Erda Avriyanti, Risa Miliawati Nurul Hidayah, dan Devina Gracia Pratama dari Departemen Dermatologi dan Venereologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran–RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Artikel tersebut diterbitkan dalam International Journal of Infectious Diseases Volume 164 tahun 2026.
Publikasi ini menyajikan laporan kasus seorang laki-laki berusia 66 tahun dengan kusta multibasiler stadium lanjut yang mengalami komplikasi pada ekstremitas bawah. Kasus tersebut menunjukkan bahwa keterlambatan pengobatan, keberlanjutan perawatan yang tidak optimal, serta keterlambatan penanganan komplikasi dapat meningkatkan risiko kerusakan saraf, ulkus neuropatik, infeksi berat, osteomielitis, hingga kecacatan permanen.
Kusta Multibasiler dan Risiko Kecacatan
Kusta merupakan penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh kompleks Mycobacterium leprae dan terutama memengaruhi kulit serta saraf perifer. Meskipun terapi multidrug therapy (MDT) telah tersedia, kusta masih dapat menyebabkan kecacatan yang sebenarnya dapat dicegah, khususnya apabila diagnosis, pengobatan, perawatan luka, dan pemantauan pasien tidak dilakukan secara tepat dan berkelanjutan.
Pada kusta multibasiler, tingginya beban bakteri dan keterlibatan saraf perifer dapat menyebabkan gangguan sensorik. Kondisi tersebut membuat pasien rentan mengalami trauma berulang tanpa disadari, ulkus neuropatik, infeksi sekunder, serta kerusakan jaringan yang progresif.
Kasus yang dilaporkan oleh tim peneliti FK Unpad memperlihatkan bahwa persoalan kusta tidak hanya berkaitan dengan penegakan diagnosis, tetapi juga dengan ketepatan waktu memulai terapi dan kesinambungan perawatan.
Pemeriksaan Komprehensif Mengidentifikasi Komplikasi Berat
Dalam laporan kasus tersebut, pasien memiliki riwayat lesi kulit hipopigmentasi dan kehilangan sensasi pada tangan serta kaki selama kurang lebih dua tahun. Pasien sebelumnya telah mendapatkan anjuran untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut karena diduga mengalami kusta, tetapi menolak rujukan sehingga tidak memperoleh terapi antikusta selama periode tersebut.
Tim medis kemudian melakukan pemeriksaan klinis dan neurologis secara komprehensif. Pemeriksaan penunjang meliputi pencitraan radiologi, kultur luka, pemeriksaan slit-skin smear, serta pemeriksaan histopatologi.
Hasil pemeriksaan menunjukkan kusta multibasiler lanjut dalam spektrum lepromatosa yang disertai ulkus neuropatik, artropati Charcot, infeksi bakteri sekunder, dan osteomielitis akut.
Pemeriksaan klinis juga menemukan berbagai manifestasi kusta lanjut, antara lain bercak kulit anestetik difus, penebalan saraf perifer, gangguan sensorik pola glove-and-stocking, deformitas claw hand, atrofi otot thenar, serta madarosis.
Infeksi Berkembang hingga Osteomielitis
Pemeriksaan radiologi menunjukkan adanya pembengkakan jaringan lunak yang luas, destruksi tulang, akro-osteolisis, serta pembentukan gas yang mengindikasikan osteomielitis akut dengan infeksi pembentuk gas. Kultur luka mengidentifikasi Staphylococcus aureus dan Klebsiella pneumoniae.
Pemeriksaan slit-skin smear juga menunjukkan jumlah basil tahan asam yang tinggi dengan bacteriological index 5+ dan morphological index 90,7 persen. Hasil histopatologi mendukung diagnosis kusta dalam spektrum lepromatosa.
Penanganan kemudian dilakukan melalui terapi multidrug untuk kusta multibasiler, terapi antibiotik intravena spektrum luas, perawatan luka, serta intervensi bedah.
Namun, luasnya infeksi pada kaki, pergelangan kaki, dan tungkai bawah bagian distal meningkatkan risiko komplikasi serius. Untuk mengendalikan infeksi dan mencegah progresivitas penyakit, pasien akhirnya menjalani amputasi transtibial. Setelah tindakan tersebut, kondisi pasien membaik dan selanjutnya dirujuk untuk menjalani rehabilitasi serta penilaian prostetik.
Pentingnya Deteksi Dini dan Kesinambungan Pengobatan
Publikasi ini menegaskan pentingnya deteksi dini, pemberian terapi multidrug secara tepat waktu, keterlibatan pasien dalam proses pengobatan, perawatan luka yang sesuai, serta pemantauan jangka panjang.
Neuropati perifer pada kusta dapat menyebabkan hilangnya sensasi sehingga pasien tidak menyadari adanya trauma atau luka pada bagian tubuh yang mengalami gangguan sensorik. Apabila luka tersebut tidak dipantau dan ditangani dengan baik, kondisi dapat berkembang menjadi infeksi berat dan osteomielitis.
Para penulis juga menyoroti bahwa kecacatan berat pada kusta dapat berkaitan bukan hanya dengan keterlambatan diagnosis, tetapi juga dengan keterlambatan memulai pengobatan, kesinambungan perawatan yang kurang optimal, keterbatasan tindak lanjut, rendahnya kesadaran, serta stigma.
Dengan demikian, kasus ini menjadi pembelajaran penting mengenai perlunya pendekatan berkelanjutan dalam penanganan kusta, mulai dari pengenalan gejala, diagnosis, pengobatan, perawatan luka, pencegahan kecacatan, hingga rehabilitasi.
Kontribusi FK Unpad untuk Kesehatan dan Pembangunan Berkelanjutan
Publikasi ilmiah ini memperlihatkan komitmen FK Unpad dalam menghasilkan penelitian yang tidak hanya berkontribusi terhadap pengembangan ilmu kedokteran, tetapi juga memiliki relevansi terhadap persoalan kesehatan masyarakat.
Melalui penelitian dan publikasi ilmiah, FK Unpad terus mendorong penguatan layanan kesehatan yang berbasis bukti, peningkatan kualitas penanganan penyakit infeksi, pencegahan kecacatan, serta akses terhadap layanan kesehatan yang lebih inklusif.
Hal tersebut sejalan dengan semangat FK Unpad untuk terus menghadirkan pendidikan, penelitian, dan pengabdian yang Unggul, Berdampak, dan Inklusif.
Informasi Publikasi
Judul: Treatment Neglect in Multibacillary Leprosy Leading to Osteomyelitis and Transtibial Amputation: Lessons from Endemic Setting
Penulis:
Hendra Gunawan
Kartika Ruchiatan
Erda Avriyanti
Risa Miliawati Nurul Hidayah
Devina Gracia Pratama
Afiliasi: Departemen Dermatologi dan Venereologi, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran – RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung.
Jurnal: International Journal of Infectious Diseases
Volume: 164
Tahun: 2026
DOI: 10.1016/j.ijid.2025.108354










0 Comments