Akademik

Program Studi Profesi Dokter Tahap Akademik

1.1 Awal Pendirian Fakultas

Perubahan dan perkembangan terus terjadi seiring perputaran zaman. Untuk menjadi institusi yang besar seperti saat ini, banyak proses yang telah dilalui Fakultas Kedokteran Unpad (FK Unpad). Perubahan-perubahan yang dilakukan selalu mengaktualisasi kebutuhan dan keadaan masyarakat saat itu dalam rangka mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Berawal dari Kongres IDI 1953 di Surabaya, Menteri Kesehatan RI pada saat itu dr. Lie Kiat Teng, memaparkan adanya masalah kesehatan Nasional yang terjadi di Indonesia dan penanggulangannya memerlukan pemenuhan jumlah tenaga kesehatan dalam hal ini dokter di setiap daerah. Realisasi gagasan tersebut didukung oleh tokoh masyarakat Jawa Barat dan baru terwujud pada tahun 1956 dengan dibentuknya Yayasan Fakultas Kedokteran Bandung.

Proses pendirian FK Unpad dilandasi oleh semangat gotong royong dan kebersamaan antara pemerintah pusat, daerah dan tokoh kesehatan  masyarakat Jawa Barat serta Rumah Sakit Ranca Badak (RS Hasan Sadikin pada saat itu). Hal ini diperlihatkan dalam kepengurusan Yayasan Fakultas Kedokteran Bandung saat itu terdiri atas dr. H.A. Patah (Ketua), Prof. Dr. Moch. Djuhana Wiradikarta (Wakil Ketua), dr. Chasan Boesoirie (Sekretaris), dr. Djundjunan Setiakusumah, drg.R.G. Soeriasoemantri, R.H. Enuch (Walikota Bandung), dan dr. Moch. Kurdi.

Untuk menunjang pendirian Fakultas Kedokteran, para pengelola Yayasan menghubungi Prof. Sarwono dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Panitia sangat optimis dapat merealisasikannya karena turut mendapat dukungan staf pengajar dari Fakultas Teknik UI (sekarang ITB). Selain itu, untuk pelaksanaan pendidikan dokter di awal pendirian dilakukanlah perekrutan dokter- dokter dari berbagai fakultas kedokteran yang telah ada, antara lain dr. H.W.A.Donhuijsen dan Prof. Koestedjo.

Pada Oktober 1956 dibentuklah Panitia Pembentukan Universitas Negeri di Bandung yang diketuai oleh Prof. H. Moch Jamin. Panitia ini kemudian bergabung dengan Yayasan Fakultas Kedokteran Bandung. Selanjutnya, atas usul drg. Soeriasoemantri, pengurus IDI Jawa Barat pada saat itu diminta untuk duduk dalam kepanitiaan tersebut. Kemudian disepakati dr. Hasan Sadikin dan dr. Moch. Effendie selaku ketua dan sekretaris IDI Jabar sebagai perwakilan dalam kepanitiaan tersebut. Selanjutnya panitia rakyat berubah menjadi panitia negara pembentukan Universitas Negeri di Bandung dan langsung dipimpin oleh R. Ipik Gandamana yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat.

Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran resmi berdiri pada tanggal 11     September 1957 yang disahkan melalui Peraturan Pemerintah No. 37/1957 (Lembaran Negara No.9 Tahun 1957) tentang pendirian Universitas Padjadjaran. FK Unpad berdiri bersamaan dengan dua fakultas lainnya, yaitu Fakultas Ekonomi dan Hukum yang merupakan cikal bakal Universitas Padjadjaran.

Pada masa awal berdirinya, FK Unpad hanya memiliki 26 staf pengajar yang sebagian besar berasal dari dokter-dokter yang bertugas di RS Ranca Badak. Dekan yang menjabat pada saat itu adalah Prof. R. Moch. Djoehana Wiradikarta (1957-1962). Jumlah mahasiswa angkatan pertama sebanyak 65 orang dan pada tahun II terjadi peningkatan jumlah mahasiswa menjadi 199 orang. Pendaftaran mahasiswa kala itu, dilakukan di sebuah bioskop di Jln. Merdeka dan tanpa tes sama sekali.

Dalam perjalanan sejarahnya, bangunan pertama yang digunakan FK Unpad beradadi sisi Jalan Pasir Kaliki. Bangunan tersebut merupakan hibah dari RS. Ranca Badak, yang sebelumnya dibangun khusus pada tahun 1955  oleh pemerintah untuk ruang perawatan bagi peserta Konferensi Asia Afrika. Selain itu, suatu ruangan berdinding bilik bekas gudang RS. Ranca Badak pun digunakan sebagai ruang praktikum anatomi. Dengan segala keterbatasan, proses pendidikan para calon dokter di FK Unpad ketika itu tetap berjalan.

Kurikulum pendidikan mengadaptasi kurikulum Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yakni sistem paket hingga lulus menjadi dokter. Sistem evaluasi belajar dilakukan pada akhir tingkat I, II, dan III untuk menetukan kelayakan mahasiswa melanjutkan pendidikan. Metode perkuliahan tidak jauh berbeda dengan pendidikan di sekolah. Dosen menerangkan kuliah dengan membacakan terjemahan buku teks berbahasa inggris dan berbahasa jerman dilanjutkan dengan diskusi. Perkuliahan umumnya berlangsung tanpa ada alat bantu audio visual. Waktu perkuliahan biasanya dimulai sejak pagi hingga pukul 13.00 dilanjutkan dengan praktikum pada sore hari antara pukul 15.00 s.d.16.00.

Pada 24 Juli 1956, RSRB ditetapkan menjadi Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) yang pada saat itu kapasitasnya mencapai 600 buah tempat tidur. Pada tahun 1961, angkatan pertama program sarjana mulai masuk fase pendidikan klinik dirumah sakit (koasistensi). Untuk menampung para koasisten ini, sangat dirasakan kebutuhan untuk mendirikan suatu Teaching Hospital. Pada masa tersebut, RSUP berperan dalam menampung para koasisten ini untuk kelanjutkan pendidikannya.

Untuk menunjang pemahaman dalam bidang ilmu kedokteran dasar, selain perkuliahan, dikembangkan juga praktikum. Untuk memfasilitasi peningkatan kebutuhan kuliah dan praktikum ini, FK Unpad mengembangkan beberapa laboratorium yang lokasinya tersebar di beberapa tempat di Bandung  yaituKampus Jalan Dago 248 untuk Laboratorium praktikum kimia, fisiologi dan mikrobiologi, laboratorium parasitologi di Jalan Dipati Ukur serta Kampus Sekolah Pendidikan Guru Taman Kartini Jl. Van De Venter.

Tahun 1961, pemerintah Indonesia memberlakukan wajib kerja sarjana untuk memenuhi kebutuhan tenaga ahli, salah satunya di bidang kesehatan. Keadaan ini dijawab oleh FK Unpad yang telah berhasil meluluskan angkatan pertamanya pada tahun 1965. Sejalan dengan pengembangan di FK Unpad, terutama pada aspek pemenuhan kebutuhan tenaga pengajar, sebagian dari alumni pertama mendedikasikan diri untuk terlibat dalam pendidikan, diantaranya Dr. Agoestina, Dr.Indra Hanafiah Emran, Prof. Iman Supandiman, Prof. Wahju Karhiwikarta, Prof. Ieva Baniasih, Prof. Azhali Manggus Sachrodji, Prof. Tony Safei Djajakusumah, Prof. Enday Sukandar, Prof. Hidajat Widjajanegara, Prof. Sri Hartini, dan Prof. Abdurrachman Sukadi.

Peran aktif almamater dalam usaha memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan di tanah air tidak hanya terfokus pada pemenuhan tenaga dokter umum, melainkan juga pada pemenuhan tenaga dokter spesialis melalui pembentukan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Awalnya, pendidikan dokter spesialis dilakukan oleh kolegium masing-masing. Pada tahun 1963, telah dihasilkan dokter spesialis, salah satunya dr.Ramadi dalam bidang Ilmu Penyakit Dalam.

Sejalan dengan pengakuan kepakaran para pendidik di FK Unpad, maka pada tahun 1964 jabatan Guru Besar dianugerahkan kepada Prof. Soemiatno dalam bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat. Pada tahun selanjutnya, gelar guru besar diberikan kepada Prof. Suardi Surjohusodo di bidang Ilmu Penyakit Dalam, Prof. R.M. Sastrawinangun di bidang Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan, Prof. Koestedjo di bidang Ilmu Bedah dan Prof. Soegiri dalam bidang Ilmu Kesehatan Anak. Melalui penganugerahan guru besar tersebut, maka FK Unpad mulai membenahi program pendidikan dokter spesialis. Di tahun 1980 PPDS mulai diambil oleh universitas, sehingga ijazah kelulusan PPDS dikeluarkan oleh Unpad. Pada tahun yang sama, Unpad termasuk dari tiga universitas yang diberi kewenangan untuk menyelenggarakan PPDS.

1.2 Perubahan Kurikulum Pendidikan Dokter  

Pada masa awal (tahun 1960-an sampai1970-an) lebih banyak ditandai dengan penguatan program, sumber daya dan tatanan internal kelembagaan.

Dimulai dari era kepemimpinan dekan pertama, yakni Prof. R. Moch. Djoehana Wiradikarta (1957-1962), disusul oleh penerusnya dr. Hasan Sadikin (1964-1966), Prof. Soedjatmo Soemowerdojo (1967-1968 dan 19731976),  Prof. Soegiri (1969-1970), dan Prof. Koestedjo (1971-1972), tradisi luhur pendidikan kedokteran mulai di bangun, melalui darma pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Pada dekade ini jabatan guru besar kembali dianugerahkan kepada Prof. Sulaiman Sastrawinata dalam bidang Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan, Prof. Soemartono dalam bidang Ilmu Sinar atau Radiologi, Prof. Topo Harsono dalam bidang Ilmu Patologi, Prof. Saleh Kariadinata dalam bidang Ilmu Mikrobiologi, serta Prof. Soedjatmo Soemowerdojo dalam bidang Ilmu Faal.

Dibawah kepemimpinan dekan ke tujuh, Prof. Topo Harsono (1977-1985), terjadi perubahandan konsolidasi dalam rangka penerapan Kurikulum Inti Pendidikan Dokter Indonesia (KIPDI) dengan menggunakan sistem kredit semester (SKS). Dasar pemikirannya adalah untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan lulusan tenaga kerja kesehatan profesional. Penerapan SKS dimulai pada tahun 1981, berdasarkan hasil pertemuan intern Fakultas Kedokteran Unpad di Jatiluhur. Hal ini sinergis dengan rencana pemerintah Republik Indonesia (RI) untuk melakukan penataan pendidikan kedokteran dengan standarisasi kurikulum pendidikan secara nasional melalui KIPDI I .

Setelah memenuhi kebutuhan dasar akan tenaga kesehatan, maka proses lebih lanjut untuk meningkatkan kualitas pendidikan dokter dilaksanakan penyelenggaraan program pendidikan di jenjang yang lebih tinggi. Program S3 Kedokteran berdiri pada tahun 1979. Awal nya jumlah peserta program ini tidak banyak, rata-rata di bawah 10 orang. Situasi mulai berubah sejak tahun 1998 saat FK Unpad mengeluarkan kebijakan dengan memberikan keringanan bagi dosen yang mengikuti program pascasarjana. Perkuliahan pun dapat dilakukan pada hari Sabtu dan Minggu. Mahasiswa tidak saja datang dari lingkungan FK Unpad melainkan juga dari instansi lain seperti Depkes dan kota-kota lain seperti Palembang,Yogyakarta, dan Banjarmasin.

Semakin kompleksnya permasalahan kesehatan di masyarakat global, memerlukan tenaga kesehatan yang mampu mengembangkan diri sendiri dan beradaptasi sehingga dapat menyelesaikan permasalahan sendiri, tanpa tergantung oleh dosen atau institusi. Dengan kata lain, seorang dokter diharapkan akan terus belajar sendiri sepanjang hayat (self-long life learner). Salah satu model pendidikan kedokteran yang diyakini dapat memenuhi kebutuhan tersebut dan telah diterapkan di luar negeri adalah student centered melalui pendekatan Problem Based Learning (PBL). Mengantisipasi hal tersebut, maka pada era kepemimpinan Prof. Djamhoer Martaadisoebrata (1985-1988), FK Unpad tidak menyia-nyiakan kesempatan, denganmengirimkan salah seorang stafnya, yaitu Bethy S. Hernowo, Ph.D. dr., SpPA, ketika diundang oleh WHO dalam pertemuan sosialisasi PBL yang diselenggarakan di Jakarta. Hal ini membuka jalan FK Unpad untuk lebih memperdalam ilmu PBL, karena  beliau sebagai peserta terbaik, mendapatkan kesempatan untuk mempelajari PBL lebih lanjut di University of New South Wales, Australia. Program PBL belum dapat dilaksanakan saat itu karena berbagai keterbatasan yang ada. Namun demikian, proses untuk mencapai penerapan sistem PBL di FK Unpad terus berjalan.

Pada masa kepemimpinan dr. Koeswadji (1988-1995) komitmen FK Unpad untuk mengaktualisasikan diri pada dunia pendidikan kedokteran diwujudkan dengan terus menjaga dan meningkatkan kualitas program pendidikan, salah satunya melalui persiapan fasilitas penunjang untuk implementasi kurikulum Student Centered. Bersamaan dengan hal ini, pematangan konsep Student Centered terus dijalankan dan hal ini merupakan cikal bakal berkembangnya kurikulum PBL di FK Unpad.

Pemberlakuan KIPDI II oleh pemerintah pada tahun 1995 kepada seluruh institusi FK di Indonesia bertujuan untuk menstandarisasi program pendidikan dokter umum. Pengaruhnya kepada FK Unpad yang saat itu di bawah kepemimpinan Prof. Ponpon (1995-2000), yaitu memberikan dorongan untuk pengembangan kurikulum pendidikan dokter yang lulusannya mampu bersaing dalam dunia global. Pada tahun tersebut pula kampus Fakultas Kedokteran Unpad untuk penyelenggaraan pendidikan sarjana kedokteran berpindah ke Jatinangor sejalan dengan pengembangan kampus Unpad lainnya. Dengan dukungan Dekan-dekan FK se-Indonesia di bawah koordinasi Consortium of Health Science (CHS), FK Unpad membuat perencanaan untuk menjalankan system PBL. Pelaksanaan sistem PBL mendapatkan kendala dari masalah keuangan yang belum mencukupi. Walaupun demikian, perencanaan ke arah PBL tetap dibuat dengan mencari dukungan dana, sehingga kemudian diusulkan suatu proposal yang disebut Medical Education Improvement Challenging the 21st Century (MEIC-21). Tujuan utama proposal tersebut yaitu: “Meningkatkan Kualitas Pendidikan dan Penelitian Kedokteran melalui Peningkatan Sistem Manajemen Pendidikan Kedokteran dengan Penekanan Utama pada Perkembangan Kedokteran Reproduksi, Lingkungan, dan Pengobatan Tradisional untuk Mengantisipasi Abad 21”.

Melalui proposal tersebut, pada tahun 1999 FK Unpad berhasil meraih dana hibah Quality for Undergraduate Education (QUE Project) dari Bank Dunia melalui Dikti sebesar 1,8 juta USD. Dana ini dimanfaatkan FK Unpad untuk membiayai pengembangan infrastruktur serta peningkatan kualitas stafnya melalui berbagai pendidikan dan pelatihan. QUE Project direalisasikan melalui pembentukan Medical Education Research and Development Unit (MERDU) dan Medical Information Resources Centre (MIR-C). Pembentukan kedua unit tersebut juga menunjang pemenuhan kebutuhan yang tinggi akan informasi serta bertanggung jawab untuk mengembangkan inovasi baru dalam sistem pendidikan kedokteran melalui penelitian.

MERDU mengusulkan kurikulum pembelajaran dengan konsep SPICES yang merupakan akronim dari Student - centered, Problem - based, Community oriented, Early clinicalexposure, Systematic, sebagai dasar pengembangan kurikulum untuk program pendidikan dokter. Sebagai konseptor, pada tahun 2000 dibentuklah tim yang terdiri dari Prof. Dr. Sri Hartini KS Kariadi,dr.,SpPD-KEMD, Prof. Ridad Agoes, dr., MPH.,DAPE., SpParK, Bethy Suryawathy, dr., SpPA (K),Ph.D, Ike MP Siregar, dr., SpKJ(K)., MPH, Dr.med.Tri Hanggono Achmad, dr; dan Mochammad Harris Suhamihardja, dr., MPH yang berusaha menyatukan kurikulum dari semua departemen agar menjadi kurikulum 10 sistem. Kurikulum ini mengintegrasikan klinik dan preklinik serta memperkenalkan lebih awal pengetahuan klinik berupa kasus-kasus dan pelatihan keterampilan pada model atau pasien. Penerapan kurikulum ini dimulai pada program pendidikan sarjana kedokteran, yaitu pada Kelas Pengantar Berbahasa Inggris (KPBI) tahun 2001, sebagai pilot project metode PBL. Pada saat itu pula, FK Unpad mulai menerima mahasiswa asing dari Malaysia dan Timor Leste dengan jumlah kurang lebih 10% dari seluruh mahasiswa. Selaras dengan itu, pengakuan dari Jawatan Perkhidmatan Awam (JPA) Malaysia makin mengukuhkan keberadaan FK Unpad sebagai salah satu institusi pendidikan yang dipercaya dalam menyelenggarakan pendidikan dokter bagi mahasiswa asing. Sejak tahun 2006 telah dibuka program studi pendidikan dokter Twinning Program dengan Faculty Perubatan University Kebangsaan Malaysia sebagai wujud pengakuan Internasional.

Konsep pembelajaran untuk menghasilkan lulusan dokter yang belajar sepanjang hayat dilanjutkan ke tahap pendidikan profesi dokter. Kurikulum pada tahap ini menekankan aspek keterampilan klinik, etika dan profesionalisme serta penerapan evidence-based medicine untuk mencapai kompetensi yang terintegrasi sebagai seorang dokter. Untuk mencapai hal tersebut, proses pendidikan dijalankan dengan menerapkan prinsippendidikan klinik, yaitu experiential, patientbased, preceptor-based, dan community-based.

Sejak Nopember 2005 FK Unpad menerapkan sistem baru dalam pelaksanaan tahap profesi pendidikan dokter yang disebut Program Pendidikan Profesi Dokter (P3D). Program ini dilaksanakan selama 4 semester dalam 2 tahap, yaitu: Tahap I, yaitu rotasi semua bagian klinik yang terdiri dari 14 bagian, diakhiri dengan ujian di masing-masing bagian serta Tahap II, yaitu Tahap Magang Dokter Muda, dilaksanakan di Rumah Sakit dan Puskesmas Jejaring Pendidikan yang ditunjuk. Evaluasi akhir tahap I dilakukan melalui ujian komprehensif yang terdiri dari dua bagian, yaitu MDE dan Objective Long Case Examination (OLCE). Mahasiswa yang dinyatakan lulus dapat melanjutkan ke tahap II, yaitu Tahap Magang Dokter Muda. Tahap II sesuai dengan aturan KIPDI III (2006), yaitu tahap magang dokter muda diterapkan pendidikan berbasis kompetensi melalui internship atau program kepaniteraan yang melibatkan RS Jejaring pada semester terakhir. Tahap ini berlangsung selama 20 minggu, terdiri dari 16 minggu melakukan kegiatan di Rumah Sakit Jejaring Pendidikan kemudian 4 minggu di pelayanan kesehatan primer(Puskesmas dengan Tempat Perawatan). Selama16 minggu di Rumah Sakit Jejaring ditekankan pada penguasaan kasus di 4 bagian dasar, yaitu Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Kesehatan Anak, Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan, serta Ilmu Bedah. Setelah penerapan Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) di bawah koordinasi Komite Internsip Dokter Indonesia (KIDI) maka program ini ditiadakan akan tetapi dilanjutkan dengan pelaksanaan PIDI secara nasional.

Untuk menunjang PBL, FK Unpad melalui MIR-C meningkatkan infrastruktur berupa pengembangan sistem ICT (Information Communication and Technology). Sistem ini bertujuan untuk menyatukan sistem informasi antara FK Unpad (Jatinangor), RSHS, RS. Mata Cicendo, dan kampus Unpad pusat di Jalan Dipati Ukur Bandung. Sistem ini diharapkan dapat mendukung terlaksananya prinsip Student Centered, yaitu memfasilitasi pencarian informasi berkaitan dengan kegiatan belajar.

Sebagai bagian dari pengembangan ilmu Kesehatan, maka Fakultas Kedokteran membuka program studi Ilmu Keperawatan pada tahun 1994. Dengan pembimbingan yang baik maka untuk selanjutnya program studi berkembang menjadi Fakultas Ilmu Keperawatan sejak tahun 2005.

Visi

Menjadi Program Studi Profesi Dokter yang menghasilkan dokter profesional berkarakter pemimpin dan inovatif berasaskan kedokteran berbasis bukti.

Misi

  1. Menyelenggarakan pendidikan dokter yang transformatif melalui pendekatan SPICES (Student-centered, Problem-based, Integrated, Community-oriented, Early clinical exposure, Systematic)
  2. Melaksanakan integrasi penelitian berbasis komunitas ke dalam pendidikan
  3. Meningkatkan peran Program Studi Profesi Dokter dalam melaksanakan academic health system

Tujuan

  1. Menghasilkan dokter profesional yang kompeten dan beretika
  2. Menghasilkan dokter yang berjiwa kepemimpinan dan inovatif dalam menghadapi masalah kesehatan masyarakat di tingkat regional, nasional, dan internasional 
  3. Menghasilkan inovasi penyelenggaraan pendidikan dokter berasaskan kedokteran berbasis bukti 
  4. Menghasilkan publikasi penelitian di tingkat nasional dan internasional
  5. Menyelenggarakan hilirisasi produk penelitian
  6. Menyelenggarakan pengabdian kepada masyarakat yang terintegrasi ke dalam kurikulum pendidikan sebagai bentuk keunggulan program studi
  7. Menyelenggarakan tata kelola pendidikan dokter yang kredibel, efektif, efisien, dan akuntabel
  8. Menyelenggarakan kerja sama peningkatan kualitas pendidikan kedokteran dengan mitra-mitra strategis

Ketua Prodi

: Dr. Achadiyani, dr.,M.Kes.

Sekretaris

: Resti Gradia Dwiwina, dr., M.Kes

Koordinator Tahun I

: Nandina Oktavia, dr., MM

Koordinator Tahun II

: Gita Widya Pradini, dr., M.Kes.

Koordinator Tahun III

: Putri Halleyana Adrikni Rahman, dr., M.Kes.

Koordinator Tahun IV

: Adi Imam Cahyadi, dr., M.Kes.

 
 

No

Nama Dosen Tetap(1)

Bidang Keahlian

Mata Ajar/Sistem Blok yang Diampu

1

Prof. Dr. Ambrosius Purba, dr., AIFO.,M.S***

Anatomi, Fisiologi dan Biologi Sel

Cardiovascular System / Cardiovascular

2

Prof. Dr. M. Nurhalim Shahib, dr***

Biokimia dan Biologi Molekuler

FBS II / Herbal Genomic            

3

Prof. Ramdan Panigoro, dr., M.Sc., Ph.D***

Biokimia dan Biologi Molekuler

RPS / Woman Reproductive         

4

Prof. Dr. med. Tri Hanggono Achmad, dr***

Biokimia dan Biologi Molekuler

FBS I / Genetic             

5

Prof. Dr. Dedi Rachmadi Sjambas, dr., Sp.AK., M.Kes***

Ilmu Kesehatan Anak

Gastrointestinal System / Gastrointestinal 

6

Prof. Dr. Dida Akhmad Gurnida, dr., Sp.A(K)., M.Kes***

Ilmu Kesehatan Anak

Gastrointestinal System / Gastrointestinal 

7

Prof. Alex Chairulfatah, dr., Sp.AK***

Ilmu Kesehatan Anak

RPS / Woman Reproductive         

8

Prof. Dr. Sudigdo Adi, dr., Sp.KK(K).,FINSDV***

Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin

Hematoimunologi System / Immunology     

9

Prof. Dr. Endang Sutedja, dr., Sp.KK(K)***

Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin

Dermatomusculoskeletal      

10

Prof.Dr. Ridad Agoes, dr., MPH., DAPE***

Mikrobiologi dan Parasitologi

FBS III

11

Prof. Dr. Firman F. Wirakusumah, dr., SpOG(K)***

Obstetri dan Ginekologi

FBS IV / Health Technology          

12

Prof. Dr. Yusuf Sulaeman Effendi, dr., Sp.OG(K)***

Obstetri dan Ginekologi

RPS / Woman Reproductive         

13

Prof. Dr. Johanes Cornelius Mose, dr., Sp.OG(K)***

Obstetri dan Ginekologi

Genitourinary System / Genitourinary  

14

Prof. Dr. Ida Parwati, dr., Sp.PK(K)., Ph.D***

Patologi Klinik

RPS / Woman Reproductive         

15

Dr. R. Reni Farenia Soedjana Ningrat, dr., M.Kes., AIF***

Anatomi, Fisiologi dan Biologi Sel

Respiratory System / TB - HIV   

16

Dr. med. Setiawan, dr., AIFM***

Anatomi, Fisiologi dan Biologi Sel

 FBS II / Herbal Genomic            

17

Dr. Yoni Fuadah Syukriani, dr., Sp.F.,M.Si., DFM***

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal

 FBS II / Herbal Genomic            

18

Dr. Dwi Prasetyo, dr., Sp.AK., M.Kes***

Ilmu Kesehatan Anak

Gastrointestinal System / Gastrointestinal 

19

Dr. Meita Dhamayanti, dr., Sp.AK., M.Kes***

Ilmu Kesehatan Anak

Neurobehaviour and Special Senses       

20

Dr. Hj. Sunarjati Sudigdoadi, dr., MS., Sp.MK***

Mikrobiologi dan Parasitologi

Gastrointestinal System / Gastrointestinal 

21

Dr. Achadiyani, dr., M.Kes***

Anatomi, Fisiologi dan Biologi Sel

Endocrine Metabolic System / Community Health and Wellness        

22

Ihrul Prianza Prajitno, dr., Sp.S., PAK.,M.Kes.***

Anatomi, Fisiologi dan Biologi Sel

Endocrine Metabolic System / Community Health and Wellness        

23

Nia Kania, dr., Sp.A., M.Kes***

Anatomi, Fisiologi dan Biologi Sel

 FBS II / Herbal Genomic            

24

Arifin Sunggono, dr., PAK.,M.Kes.***

Anatomi, Fisiologi dan Biologi Sel

Neurobehaviour and Special Senses       

25

Mohammad Ghozali, dr., M.Sc.***

Biokimia dan Biologi Molekuler

Hematoimunologi System / Immunology     

26

Julius Broto Dewanto, dr***

Biokimia dan Biologi Molekuler

Neurobehaviour and Special Senses       

27

Dr. Enny Rohmawaty, dr., M.Kes***

Farmakologi dan Terapi

Dermatomusculoskeletal      

28

Trully Deti Rose Sitorus, dr., M.Si., Sp.FK***

Farmakologi dan Terapi

FBS IV / Health Technology          

29

Ike Rostikawati Husen, dr., M.Kes***

Farmakologi dan Terapi

FBS IV / Health Technology          

30

Eva Mardiana Hidayat, dr., M.Kes***

Farmakologi dan Terapi

Tropical Medicine / Clinic Infection

31

Abdullah Firmansah, dr., M.Kes., Sp.GK***

Ilmu Kesehatan Masyarakat

RPS / Woman Reproductive         

32

Sharon Gondodiputro, dr., MARS., M.H***

Ilmu Kesehatan Masyarakat

Sistem Family Medicine

33

Sri Yusnita Irda Sari, dr.,M.Sc.***

Ilmu Kesehatan Masyarakat

 Sistem Family Medicine

34

Silvita Fitri Riswari, dr.,M.Kes.***

Mikrobiologi dan Parasitologi

FBS III / Oncology           Tropical Medicine / Clinic Infection

35

Neneng Syarifah Syafei, dr***

Mikrobiologi dan Parasitologi

Cardiovascular System / Cardiovascular    

36

Anglita Yantisetiasti, dr., Sp.PA***

Patologi Anatomi

Respiratory System / TB - HIV   

37

Yuni Susanti Pratiwi, dr.,AIFO.,M.Kes.***

Anatomi, Fisiologi dan Biologi Sel

Sistem Family Medicine

38

Henhen Heryaman, dr.,Sp.PD***

Biokimia dan Biologi Molekuler

 Respiratory System / TB - HIV   

39

Novi Vicahyani Utami, dr.,AIFO.,M.Kes.***

Farmakologi dan Terapi

Respiratory System / TB - HIV   

40

Faisal, dr.,Sp.A***

Ilmu Kesehatan Anak

Endocrine Metabolic System / Community Health and Wellness        

41

Kuswandewi Mutyara, dr., M.Sc***

Ilmu Kesehatan Masyarakat

Sistem Family Medicine

42

Chrysanti, dr., M.Kes***

Mikrobiologi dan Parasitologi

Respiratory System / TB - HIV   

43

Lia Faridah, dr., M.Si***

Mikrobiologi dan Parasitologi

RPS / Woman Reproductive         

44

Resti Gradia Dwiwina, dr., M.Kes

Anatomi, Fisiologi dan Biologi Sel

RPS / Woman Reproductive         

45

Putri Halleyana Adrikni Rahman, dr., M.Kes.

Anatomi, Fisiologi dan Biologi Sel

Respiratory System / TB - HIV Genitourinary System / Genitourinary  

46

Nandina Oktavia, dr., MM

Anatomi, Fisiologi dan Biologi Sel

Gastrointestinal System / Gastrointestinal 

47

Ayu Rosemeilia, dr., Sp.KN

Ilmu Kedokteran Nuklir dan Pencitraan Molekuler

Dermatomusculoskeletal      

48

Dimas Erlangga Luftimas, dr., M.Kes.

Ilmu Kesehatan Masyarakat

Endocrine Metabolic System / Community Health and Wellness        

49

Giky Karwiky, dr., Sp.JP

Kardiologi dan Kedokteran Vaskular

Cardiovascular System / Cardiovascular    

50

Gita Indah Triyanti Rukmana, dr., M.Kes

Mikrobiologi dan Parasitologi

Endocrine Metabolic System / Community Health and Wellness        

51

Adi Imam Cahyadi, dr., M.Kes.

Mikrobiologi dan Parasitologi

Tropical Medicine / Clinic Infection

52

Gita Widya Pradini, dr., M.Kes.

Mikrobiologi dan Parasitologi

Neurobehaviour and Special Senses       

53

M. Ersyad Hamda, dr., M.Kes.

Mikrobiologi dan Parasitologi

Hematoimunologi System / Immunology     

54

Juliati, dr., AIF

Anatomi, Fisiologi dan Biologi Sel

 Endocrine Metabolic System / Community Health and Wellness        

55

Kemala Isnainiasih Mantilidewi, dr., Ph.D

Biokimia dan Biologi Molekuler

Endocrine Metabolic System / Community Health and Wellness        

56

Yenti Permata, dr.,M.Kes.

Anatomi, Fisiologi dan Biologi Sel

 FBS II / Herbal Genomic            

57

Fifi Veronica, dr.,M.Kes.

Anatomi, Fisiologi dan Biologi Sel

Neurobehaviour and Special Senses       

58

Nova Sylviana, dr.,M.Kes.

Anatomi, Fisiologi dan Biologi Sel

Cardiovascular System / Cardiovascular    

59

Titing Nurhayati, dr., AIFO.,M.Kes.

Anatomi, Fisiologi dan Biologi Sel

RPS / Woman Reproductive         

60

Gita Tiara Dewi Nasution, dr.,M.Kes.

Anatomi, Fisiologi dan Biologi Sel

Cardiovascular System / Cardiovascular    

61

Putri Teesa Radhiyanti Santoso, dr., M.Kes

Anatomi, Fisiologi dan Biologi Sel

Gastrointestinal System / Gastrointestinal 

62

Wulan Mayasari, dr.,MH.Kes.

Anatomi, Fisiologi dan Biologi Sel

RPS / Woman Reproductive         

63

Alwin Tahid, dr., Sp.RM

Anatomi, Fisiologi dan Biologi Sel

Neurobehaviour and Special Senses Dermatomusculoskeletal      

64

Adi Santosa Maliki, dr.,Sp.And.

Anatomi, Fisiologi dan Biologi Sel

RPS / Woman Reproductive         

65

Rudolf Andean, dr.,Sp.PD

Anatomi, Fisiologi dan Biologi Sel

Tropical Medicine / Clinic Infection

66

Almira Zada, dr., M.Si.med

Biokimia dan Biologi Molekuler

RPS / Woman Reproductive         

67

Vycke Yunivita Kusumah Dewi,dr.,M.Kes.

Farmakologi dan Terapi

Cardiovascular System / Cardiovascular    

68

Widya Wicaksono Hartanto, dr.,Sp.THT-KL

Farmakologi dan Terapi

Gastrointestinal System / Gastrointestinal 

69

Rani Septrina, dr., Sp.BP-RE

Ilmu Bedah

Dermatomusculoskeletal      

70

Farida Arisanti, dr.,SpKFR

Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

Cardiovascular System / Cardiovascular    

71

Deta Tanuwidjaja, dr., Sp.KFR

Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

FBS I / Genetic             

72

Rini Rossanti, dr., Sp.A, M.Kes.

Ilmu Kesehatan Anak

Sistem Family Medicine

73

Risa Miliawati, dr., Sp.KK.

Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin

Hematoimunologi System / Immunology     

74

Yenni Zuhairini, dr.,M.Gizi.,Sp.GK

Ilmu Kesehatan Masyarakat

Gastrointestinal System / Gastrointestinal 

75

Siti Nur Fatimah,dr.,MS.,SpGK

Ilmu Kesehatan Masyarakat

Cardiovascular System / Cardiovascular    

76

Lika Apriani, dr.,M.Sc.

Ilmu Kesehatan Masyarakat

Respiratory System / TB - HIV   

77

Lulu Eva Rakhmilla, dr.,M.KM

Ilmu Kesehatan Masyarakat

Endocrine Metabolic System / Community Health and Wellness        

78

Lola Ilona Fuad Abdul Hamied, dr., M.Kes

Ilmu Kesehatan Masyarakat

Gastrointestinal System / Gastrointestinal 

79

Ginna Megawati, dr., M.Kes.

Ilmu Kesehatan Masyarakat

Endocrine Metabolic System / Community Health and Wellness        

80

Siska Wiramihardja, dr.,M.Kes., Sp.GK

Ilmu Kesehatan Masyarakat

FBS I / Genetic             

81

Mulya Nurmansyah Ardisasmita, dr., M.T.

Ilmu Kesehatan Masyarakat

Genitourinary System / Genitourinary  

82

Indah Amelia, dr., M.KM

Ilmu Kesehatan Masyarakat

RPS / Woman Reproductive         

83

Sekar Ayu Paramitha,dr.,MH.Kes.

Ilmu Kesehatan Masyarakat

Sistem Family Medicine

84

Hendarsyah Suryadinata, dr., Sp.PD.

Ilmu Penyakit Dalam

Respiratory System / TB - HIV   

85

Susantina, dr.,Sp.PD

Ilmu Penyakit Dalam

Endocrine Metabolic System / Community Health and Wellness        

86

Charlotte Johanna Cool, dr., Sp.JP

Kardiologi dan Kedokteran Vaskular

Cardiovascular System / Cardiovascular    

87

Melawati Hasan, dr., Sp.JP

Kardiologi dan Kedokteran Vaskular

Cardiovascular System / Cardiovascular    

88

Miftah Pramudyo, dr., Sp.JP

Kardiologi dan Kedokteran Vaskular

Cardiovascular System / Cardiovascular    

89

Imam Megantara, dr., M.Kes., Sp.MK., SpTHT-KL

Mikrobiologi dan Parasitologi

FBS III / Oncology           

90

Bayu Adrian Prasatyo Wilopo.,dr.

Mikrobiologi dan Parasitologi

FBS III / Oncology           

91

Intan Mauli Warma Dewi, dr.,M.A

Mikrobiologi dan Parasitologi

 FBS III / Oncology           

92

Lisda Amalia,dr.,Sp.S

Neurologi

Sistem Family Medicine

93

Mulyanusa Amarullah Ritonga, dr., Sp.OG., M.Kes

Obstetri dan Ginekologi

RPS / Woman Reproductive         

94

Renaldi Prasetia Hermawan Nagar Rasyid, dr., Sp.OT., M.Kes.

Orthopaedi dan Traumatologi

Dermatomusculoskeletal      

95

Hasrayati Agustina, dr., Sp.PA, M.Kes.

Patologi Anatomi

Gastrointestinal System / Gastrointestinal 

96

Nina Tristina, dr., Sp.PK, MKM.

Patologi Klinik

FBS III / Oncology           

97

Anna Tjandrawati, dr., Sp.PK, M.Kes.

Patologi Klinik

Dermatomusculoskeletal      

98

Adhi Kristianto Sugianli,dr.,Sp.PK

Patologi Klinik

FBS IV / Health Technology          

99

Leni Lismayanti, dr., Sp.PK.

Patologi Klinik

FBS III / Oncology           

100

Basti Andriyoko, dr., Sp.PK.

Patologi Klinik

Hematoimunologi System / Immunology     

101

Iyus Maolana Yusup, dr., Sp.Rad.

Radiologi

Hematoimunologi System / Immunology     

 

Setelah lulus dari program studi, mahasiswa diharapkan memiliki pengetahuan dan ketrampilan sesuai dengan kompetensi yang ditetapkan program studinya :

A. Kompetensi Utama

Memiliki pengetahuan dasar ilmiah, keterampilan klinik dasar, dan profesionalisme yang baik dalam konteks permasalahan kesehatan,bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi nilai moral, etika kedokteran dan humanisme, serta mampu untuk mengembangkan diri melalui proses pembelajaran sepanjang hayat.

B. Kompetensi Pendukung

  1. Memiliki dasar ilmiah dalam pengelolaan masalah kesehatan individu, keluarga dan masyarakat yang sering ditemui secara menyeluruh, holistik dan berkelanjutan dalam tatanan pelayanan kesehatan primer.
  2. Menerapkan prinsip-prinsip dasar ilmu biomedis, klinis, serta epidemiologi dalam pembahasan masalah kesehatan.
  3. Membekali keterampilan pemeriksaan klinis dasar yang akan dilakukan di berbagai sarana pelayanan kesehatan primer.
  4. Menerapkan nilai moral, etika kedokteran dan humanisme dalam melaksanakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.  
  5. Mengetahui dan mempraktikkan aspek komunikasi yang efektif dengan penderita, keluarga, masyarakat dan tenaga profesi kesehatan lainnya.
  6. Meningkatkan kemampuan lulusan dalam mengakses, menelaah secara kritis, dan mengelola informasi kedokteran dan kesehatan dalam rangka memelihara kemampuan belajar sepanjang hayat.
  7. Melakukan penelitian kedokteran/kesehatan.

C. Kompetensi Lainnya

a) Motivation

Memiliki motivasi untuk mengembangkan ilmu kedokteran dan melanjutkan program pendidikan baik akademik maupun pendidikan profesi dokter (Having motivation to develop medical sciences and pursue further academic or professional education).

b) Attitude

Memiliki sikap untuk meningkatkan dan mengembangkan diri di bidang akademik maupun profesi dokter yang sesuai dengan etikaprofesi, prinsip moralitas dan norma agama (Having attitudetowards personal improvement and development academically and in medical profession according to medical ethics, morality and religious value).

c) Skills

Memiliki keterampilan dalam komunikasi dan klinis dasar yangdapat dipraktikkan di berbagai sarana pelayanan kesehatan primer (Having a proficient communication and clinical skills to be implemented in various primary health care settings).

d) Ability

Memiliki kemampuan untuk mengelola permasalahan kesehatan pada individu, keluarga dan masyarakat sesuai dasar ilmiah yang mutakhir, serta mengakses, menelaah secara kritis dan mengelola informasi kedokteran dan kesehatan dalam rangka memelihara kemampuan belajar sepanjang hayat (Having ability to apply scientific background in managing health problem in individual, familty and community settings and possess ability in accessing, critically appraise and manage medical and health information to maintain life long learning)

e) Knowledge

Memiliki pengetahuan dalam bidang biomedis, klinis, perilaku dan epidemiologi secara terintegrasi dalam konteks pelayanan kesehatan yang paripurna (promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif)  (Having sufficient and solid integrated  knowledge in biomedical sciences, clinical, behavioral and epidemiology within the context of comprehensive health services (promotive, preventive, curative and rehabilitative).

Program Studi Kedokteran adalah Program Strata Satu (S1). Program Strata S1(Sarjana) Kedokteran di FK Unpad adalah jenjang pendidikan akademik yang mempunyai beban studi kumulatif sebesar 144 sks termasuk KKNM – PMD. Masa studi kumulatif antara 7 sampai 14 semester. Beban Studi dinyatakan dalam jumlah sks yang harus dikumpulkan oleh mahasiswa dalam satu semester. Beban  Studi  mahasiswa setiap semester adalah beban yang harus diambil berdasarkan pedoman penentuan beban studi mahasiswa persemester yang telah ditentukan oleh Program Studi.

1.1 Metoda Pembelajaran

1. Perkuliahan

Perkuliahan  ini berupa kuliah interaktif, berlangsung selama 50 menit, yang merupakan kuliah pakar untuk memfasilitasi proses pembelajaran mandiri mahasiswa.  Kegiatan ini bersifat terstruktur dan terjadwal, serta dapat ditambah berdasarkan kebutuhan mahasiswa. 

2. Tutorial

Tutorial dilaksanakan selama 150 menit setiap pertemuan, dengan menggunakan pendekatan problem-based learning (PBL) yangterintegrasi  pada  kelompok kecil mahasiswa (8 – 15 orang). 

3. Praktikum

Kegiatan praktikum terdiri dari praktikum laboratorium biomedis, praktikum keterampilan klinis (clinical skill) dan untuk mata ajar Community Reserach Program (CRP) dilakukan praktikum komputer. Praktikum di laboratorium biomedis bertujuan untuk meningkatkan pemahaman teori yang diperoleh saat perkuliahan/tutorial sedangkan praktikum keterampilan klinis dan praktikum komputer bertujuan  untuk meningkatkan keterampilan pada bidang tersebut.

4. Seminar

Seminar dilaksanakan pada mata kuliah BHP, CRP dan PHOP termasuk  Seminar Usulan Penelitian untuk skripsi.

5. Tugas

Pada beberapa mata kuliah mahasiswa diwajibkan untuk membuat intisari buku teks dan melakukan telaah kritis atas jurnal ilmiah, serta menyusun rencana dan laporan kegiatan, atau tugas mandiri lainnya.

6. Kerja lapangan

Merupakan salah satu metode yang digunakan untuk kegiatan  ekstramural, Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM).  Kegiatan ini dapat dilaksanakan di sarana pelayanan kesehatan,  industri ataupun di masyarakat.

7. Penelitian akhir (skripsi/minor thesis)

Merupakan program wajib dengan topik pilihan (elective project) sesuai  minat mahasiswa yang dilakukan secara perorangan atau berkelompok yang dilaksanakan pada semester lima. Pada program ini mahasiswa diharuskan menulis karya tulis skripsi/minor thesis sebagai hasil penelitiannya (dapat berupa  penelitian laboratorik, klinik atau lapangan). Hasil penelitian ini wajib dipublikasikan ke dalam jurnal ilmiah.

8. Junior Clerkship  

Program Junior Clerkship (JC) merupakan suatu metode pembelajaran yang  disusun khusus  untuk mahasiswa kedokteran semester 7  yang diimplementasikan  sejak  tahun akademik 2015/2016.  Program ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa kedokteran untukberinteraksi secara langsung dengan masyarakat dan permasalahannya (community experience). JC merupakan metode pembelajaran selama mahasiswa menjalani sistem Tropical Medicine dan Family Medicine yang diharapkan mampu menjadi jembatan antara preklinik dan klinik sehingga mahasiswa PSK FK Unpad akan lebih siap ketika memasuki PSPD serta memiliki motivasi untuk mengabdikan diri pada layanan kesehatan primer.  Masing-masing sistem akan berjalan selama 7 minggu, terdiri dari 2 minggu kegiatan Clinical Skill Program (CSP) TM / FM, dan Lecture (TM/FM, PHOP, BHP) dilanjutkan 5minggu kegiatan clerkship. Kegiatan clerkship akan dilaksanakan di Puksesmas di Kota Bandung dan Rumah Sakit dr. Hasan Sadikin.

9. Tahap Persiapan Bersama (TPB)

Tahap Persiapan Bersama (TPB) merupakan metode pembelajaran yang disusun khusus untuk mahasiswa UNPAD semester 1 yang diimplementasikan sejak tahun akademik 2016/2017.  TPB memberikan landasan berupa learning outcomes pembelajaran  untuk mencapai tujuan pencapaian Profil Lulusan Unpad pada dua semester awal.  TPB tersusun atas kurikuler, ko-kurikuler, dan ekstrakurikuler. Kurikuler terdiri dari mata kuliah umum, mata kuliah klaster, mata kuliah prodi, muatan UNPAD, dan keterampilan belajar dan literasi informasi (Learning Skill Information and Technology/LSIT). Ko-kurikuler merupakan kegiatan untuk Character Building, sedangkan ekstrakurikuler terdiri dari olahraga dan seni.  Mata kuliah umum, muatan UNPAD, LSIT, Ko-kurikuler, dan ekstrakurikuler, diberikan dalam kegiatan bersama-sama dengan mahasiswa semester satu lainnya yang berasal dari seluruh program studi UNPAD. Mata kuliah klaster dilakukan bersama-sama dengan mahasiswa semester satu dari program studi lainnya di klaster kesehatan, sedangkan mata kulia prodi dilakukan untuk mahasiswa semester satu program sarjana kedokteran. 

1.2 Evaluasi Hasil Belajar 

1.2.1  Ujian dan Cara penilaian

1) Ujian

a. Jenis Ujian:

Formatif: merupakan evaluasi diri yang dilaksanakan secara berkala selama berlangsungnya program dan tidak diperhitungkan dalam penentuan nilai akhir.

Secara teratur setiap tahun program studi melaksanakan Progress test yang merupakan ujian formatif internal program studi. Ujian ini wajib diikuti oleh semua mahasiswa. Secara teratur program studi melaksanakan tes formatif untuk mengevaluasi kemampuan mahasiswa pada pertengahan semester/sistem. 

Sumatif: merupakan ujian penentuan nilai akhir yang dilaksanakan pada periode ujian yang telah ditentukan. Bentuk ujian sumatif adalah sebagai berikut:

(1) Ujian tulis pilih ganda (Multiple Choice Question)

(2) Ujian lisan (Oral)

(3) Ujian praktek 

b. Pelaksanaan Ujian

Pelaksanaan ujian untuk setiap program adalah sebagai berikut:

  1. Ujian MCQ bisa berbentuk monodisiplin atau Multidisciplinary  Examination (MDE) yang dilaksanakan di setiap mata kuliah kecuali  Clinical Skill Program (CSP).
  2. Ujian lisan berupa Students Objective Oral Case Analysis (SOOCA) yaitu ujian dengan menggunakan kasus yang akan dianalisis untuk menilai kemampuan menganalisis dan mengaplikasikan ilmu biomedik dasar ke dalam masalah yang diberikan, serta penalaran masalah klinik.
  3. Ujian praktik yang dilaksanakan berupa Objective Structured Clinical Examination (OSCE) dan Objective Structured Practical Examination (OSPE) di CSP, serta  praktik komputer untuk CRP. 

Tabel 2.1 Jadwal Ujian PSK FK Unpad

2) Cara penilaian:

a. Skor, Huruf Mutu, Angka Mutu

Sistem Penilaian menggunakan penilaian acuan patokan (criterion reference)

Skor

Huruf Mutu

Angka Mutu

80 – 100

A

4.00

76 – 79

B++

3.50

72 – 75

B+

3.25

68 – 71

B

3.00

64 – 67

C++

2.75

60 – 63

C+

2.50

56 – 59

C

2.00

45 – 55

D

1.00

< 45

E

0

 

b. Pembobotan skor Mata Ajar

Pembobotan skor pada setiap FBS, BMP, Final komprehensif, SOOCA, OSCE, BHP, CHOP, dan CRP dalam (%) adalah sebagai berikut:

Program Midterm Final Compre SOOCA OSCE Lain

Nilai akhir skripsi ditentukan dengan memperhatikan pembobotan sebagai berikut:

Nilai bimbingan         : bobot 60%

Nilai ujian                  : bobot 40%

Bagi mahasiswa yang mengikuti sidang lebih lambat dari waktu yang ditentukan karena kesalahannya sendiri, maka nilai maksimalnya adalah B.

c. Nilai kelulusan

Nilai kelulusan setiap mata ajar minimal C, dengan pengecualian pada CSP harus mendapat nilai A untuk semua keterampilan yang diujikan.

d. Ujian Perbaikan (Remedial Examination)

Untuk memperbaiki nilai, mahasiswa diberi kesempatan mengikuti ujian perbaikan dengan ketentuan sebagai berikut: 

MDE (FBS + BMP), BHP, CRP dan PHOP

Ujian perbaikan dilaksanakan segera setelah yudisium 1. Bagi mahasiswa yang mendapat nilai D atau E bersifat wajib.

Bagi mahasiswa yang sudah mendapat nilai C diperbolehkan mengikuti ujian perbaikan, dengan catatan:

  1. Jumlah nilai C yang akan diperbaiki tidak boleh melebihi 4 mata ajar (FBS atau program), diluar mata ajar yang mendapat nilai D dan E.
  2. Apabila mendaftar untuk ujian perbaikan nilai, akan tetapi pada waktunya tidak hadir tanpa alasan yang sah, maka nilainya menjadi E.
  3. Bagi mahasiswa yang mengikuti ujian perbaikan maka nilai terbaik yang akan diambil.
  4. Ujian perbaikan harus mendapat persetujuan dari dosen wali.
  5. Nilai ujian perbaikan untuk MDE adalah maksimum B (68).

SOOCA 

Ujian perbaikan dilaksanakan setelah pelaksanaan SOOCA, dan hanya ada satu kali ujian perbaikan SOOCA. Bila setelah ujian perbaikan SOOCA tetap tidak lulus, nilai ujian yang terbaik yang akan diambil. Nilai ujian perbaikan untuk SOOCA adalah maksimum C (56).

OSCE 

Ujian perbaikan diadakan segera setelah pelaksanaan OSCE atau di tahun berikutnya, dengan ketentuan sebagai berikut: 

  1. bila tidak lulus pada < 6 station dari 12 station yang diujikan, makaujian perbaikan dilakukan segera setelah pelaksanaan OSCE dan yang diulang hanya station yang tidak lulus.
  2. bila tidak lulus > 6 station, maka ujian perbaikan OSCE diadakan tahun berikutnya dan mahasiswa harus mengulang seluruh station.
  3. Untuk skripsi ujian perbaikan diadakan di semester berikutnya.
  4. Tidak ada ujian perbaikan untuk ujian compre.
  5. Ujian perbaikan dapat dilakukan setiap akhir semester 2, 4, 6 dan 7,  sampai mahasiswa tsb lulus atau mencapai batas masa studi 14 semester.

Ujian susulan dilaksanakan sesegera mungkin untuk mengganti ujian yang ditinggalkan karena sakit atau alasan lainnya yang sah. Ujian susulan paling lambat dilaksanakan pada saat intersemester break setelah semester ganjil,  dan 7 hari sebelum judicium pada semester genap. Bila mahasiswa tidak bisa hadir pada kesempatan tersebut maka ybs dianggap gagal dan nilainya adalah E. Mahasiswa harus melapor kepada ketua program studi paling lambat 2 minggu sebelum ujian susulan dilaksanakan.

e. Ketentuan Penilaian Akhir Cabang Ilmu (Subjek)

Pada setiap sistem terdapat komponen cabang ilmu (subjek) yang terkait dengan sistem tersebut yaitu:

  1. Ilmu kedokteran dasar (misalnya anatomi, ilmu faal, biokimia dan sebagainya)
  2. Ilmu  Kedokteran Klinik (Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Bedah dan seterusnya)

Untuk menentukan nilai cabang suatu ilmu, maka nilai cabang ilmu dari masing-masing akan dikalikan dengan jumlah SKS pada sistem tersebut kemudian dijumlahkan dan dibagi berdasarkan total SKS cabang.

Contoh:

Biokimia dengan jumlah sks berdasarkan KIPDI sebanyak 7 sks

f. Pengumuman Hasil Ujian

Hasil Ujian diumumkan ke mahasiswa selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari setelah pelaksanaan ujian.

2.2 Evaluasi Keberhasilan Mahasiswa.

Keberhasilan mahasiswa akan dievaluasi melalui kegiatan yudisium yang diselenggarakan 2 (dua) kali, dan menurut ketentuan sebagai berikut:

  1. Yudisium pertama untuk menentukan keberhasilan mahasiswa, sehingga mahasiswa dapat memutuskan mata ajar apa yang harus atau dapat diperbaiki pada ujian perbaikan.
  2. Yudisium kedua untuk memutuskan apakah seorang mahasiswa dapat meneruskan ke paket program tahun selanjutnya atau harus mengulang paket program tahun tersebut atau harus menghentikan studi (dropout).  

Yudisium merupakan bagian penting dari kegiatan akademik yang wajib dihadiri oleh seluruh mahasiswa. Bagi mahasiswa yang tidak menghadiri yudisium tanpa alasan yang sah, nilainya baru akan diumumkan awal semester berikutnya.

2.3  Protap Yudisium

(1). Kriteria Promosi Tahun Pertama

Mahasiswa tahun pertama dapat melakukan promosi ke tingkat yang   lebih lanjut, apabila:

  1. Memiliki IPK sekurang-kurangnya 2.00
  2. Tidak terdapat huruf mutu E
  3. Huruf mutu D tidak melebihi (<) 20% (8 sks) dari beban studi  (39 sks)
  4. Institusional TOEFL = 550

(2) Untuk mahasiswa tahun 2 kriteria kelulusan adalah:

  1. Tidak ada nilai E
  2. IPK > 2,0
  3. Jumlah D < 20% (9 sks) dari total sks tahun kedua   (43 sks).

(3) Untuk mahasiswa tahun 3 dan 4 kriteria kelulusan adalah:

  1. Tidak ada nilai E
  2. IPK > 2,0
  3. Jumlah D < 20%:
    • Untuk tahun 3 maksimal 8 sks dari 41 sks
    • Untuk tahun 4 maksimal 4 sks dari 21 sks.

 (4) Untuk lulus sarjana kedokteran (Sked):

  1. Lulus semua program dan departemental, tidak ada nilai D dan E
  2. IPK > 2,75

Mahasiswa yang dinyatakan boleh melanjutkan ke tahun berikutnya pada yudisium ke-2 tetapi masih memiliki nilai D, maka diwajibkan untuk mengikuti ujian perbaikan pada tahun akademik selanjutnya.

2.4 Ketentuan Pengulangan.

Mahasiswa tahun 1, 2 dan 3  yang dinyatakan tidak lulus pada yudisium kedua diwajibkan untuk mengulang semua mata ajar tahun yang bersangkutan termasuk yang sudah lulus dan tidak diperkenankan untuk mengambil mata ajar dari paket tahun berikutnya. 

Ketentuan pengulangan bagi mahasiswa tahun 4:

a) Tidak lulus yudisium pertama: mahasiswa tahun 4 yang tidak  lulus pada yudisium pertama harus mengikuti remedial dan yudisium kedua, sesuai dengan kalender akademik tahun akademik yang bersangkutan.

b) Tidak lulus yudisium kedua: mahasiswa tahun 4 yang tidak lulus pada yudisium kedua, harus mengikuti remedial kembali dan  mengikuti yudisium ketiga yang dilaksanakan pada akhir semester genap.

c) Tidak lulus yudisium ketiga dan selanjutnya: mahasiswa tahun 4 yang masih belum lulus pada yudisium ketiga dan selanjutnya, harus mengikuti kembali kegiatan belajar mengajar pada program ybs. Sedangkan untuk departemental, mahasiswa tsb harus mendapat bimbingan yang diselenggarakan oleh departemen ybs.

d) Yudisium keempat dan selanjutnya dilaksanakan setiap akhir semester sampai dengan mencapai semester 14.

e) Bila sampai semester 14 mahasiswa tsb masih belum lulus, maka akan dilakukan pemutusan hubungan studi.

f) Lulus yudisium II tetapi IPK belum mencapai 2,75: mahasiswa wajib mengikuti remedial sampai IPK mencapai 2,75 dengan  yudisium setiap akhir semester.

g) Selama masih belum dinyatakan lulus dari Program studi Kedokteran, mahasiswa tsb wajib melakukan registrasi dan membayar SPP sesuai ketentuan yang berlaku.

2.5  Syarat Kelulusan

Syarat lulus untuk mendapat gelar akademik Sarjana Kedokteran (S.Ked) adalah sebagai berikut:

  1. IPK minimal 2,75
  2. Lulus semua mata ajar/cabang ilmu/program/sistem yang ditempuh dengan tidak melewati lama studi maksimal selama 14 semester.
  3. Sudah menyelesaikan seluruh kewajiban administratif kepada pihak Fakultas/Universitas. Bagi mahasiswa yang lulus dapat mengikuti wisuda di Universitas.

2.6   Mekanisme Appeal Hasil

  1. Mahasiswa memiliki hak untuk mendapatkan keterangan nilai ujian yang telah dilaksanakan. Keterangan tersebut berupa lembar jawaban dan kunci jawaban.
  2. Mahasiswa mendapatkan keterangan ini setelah menghadap bagian SBP dan mengisi formulir yang ditujukan kepada bagian evaluasi
  3. Bagian evaluasi akan memberikan jawaban 5 hari kerja setelah formulir permintaan diterima
  4. Mahasiswa dapat melakukan appeal nilai maksimal satu bulan setelah ujian.

1.3 Tata Tertib Kegiatan Belajar Mengajar

  1. Yang dimaksud dengan kegiatan belajar mengajar di sini adalah tutorial, (mini) lecture, kegiatan laboratorium biomedik, komputer dan keterampilan klinik, ekstramural dan bimbingan skripsi.
  2. Mahasiswa harus hadir di ruang perkuliahan tepat waktu sesuai dengan ketentuan jam kerja atau yang telah dijadwalkan sebelumnya.
  3. Mahasiswa harus hadir di ruang kegiatan belajar mengajar (ruang kuliah, tutorial, skills lab maupun  Laboratorium biomedis) sepuluh menit sebelum  waktu yang telah ditentukan.
  4. Bagi mahasiswa yang terlambat (lebih dari jadwal yang telah ditentukan), tidak diperkenankan untuk mengikuti perkuliahan, kecuali dengan alasan yang jelas dan dapat diterima oleh dosen yang hadir pada saat perkuliahan tersebut.
  5. Mahasiswa yang karena keterlambatannya tidak diperkenankan mengikuti kegiatan belajar mengajar oleh dosen yang bersangkutan maka dianggap tidak hadir tanpa alasan.
  6. Mahasiswa harus mematuhi aturan berpakaian yang memenuhi etika berpakaian mahasiswa seperti yang telah ditetapkan pada pedoman umum kemahasiswaan atau yang lebih spesifik pada setiap program studi yang bersangkutan.
  7. Setiap mengikuti kegiatan belajar mengajar, mahasiswa harus mengisi daftar hadir mahasiswa dan dosen (DHMD).
  8. Mahasiswa harus mempersiapkan diri terlebih dahulu sebelum mengikuti kegiatan belajar mengajar dan melaksanakan setiap tugas yang diberikan yang terkait dengan kegiatan belajar mengajar yang diikuti.
  9. Mahasiswa yang  tidak hadir karena alasan yang dapat dibenarkan, seperti: sakit, terkena musibah, mendapat tugas dari fakultas atau universitas, atau alasan lain yang dapat dipertanggungjawabkan yang telah diajukan dan mendapat persetujuan sebelumnya, dapat meninggalkan kegiatan pendidikan setelah menyampaikan keterangan tertulis dari pihak berwenang (dokter atau pimpinan Fakultas).
  10. Surat keterangan sakit dari dokter harus diserahkan ke SBP paling lambat 2 (dua) hari kerja setelah ketidakhadiran, sedangkan untuk surat keterangan dari pimpinan Fakultas paling lambat 1 (satu hari) kerja sebelum ketidak hadiran. 
  11. Kegiatan pendidikan yang ditinggalkan dengan alasan yang sah ini dapat digantikan dengan mengikuti kegiatan susulan yang sama atau kegiatan lainnya seperti pemberian tugas berdasarkan kebijakan dosen terkait.  
  12. Khusus untuk kegiatan skill’s lab, mahasiswa harus mendapat kesempatan untuk dilatih pada waktu yang telah disepakati segera setelah mahasiswa tersebut hadir kembali. 
  13. Untuk lab activity dan lab CRP dosen ybs dapat memberikan praktikum susulan bila memungkinkan, atau memberikan tugas sesuai dengan materi yang ditinggalkan oleh mahasiswa ybs.

1.4   Kehadiran Mahasiswa

Tingkat kehadiran mahasiswa dalam kegiatan belajar mengajar diatur dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Tingkat kehadiran untuk kegiatan laboratorium harus mencapai 100%. 
  2. Tingkat kehadiran untuk tutorial, mini lecture, BHP, CRP, PHOP, danMKU sekurang-kurangnya 80%, sedangkan 20% ketidak hadiran harus didasari oleh alasan yang dapat dipertanggung jawabkan. 
  3. Mahasiswa yang tidak hadir pada kegiatan belajar mengajar karena alasan seperti: sakit, terkena musibah, mendapat tugas dari Fakultas atau Universitas, atau alasan lainnya TETAP DIANGGAP sebagai KETIDAK HADIRAN dalam perkuliahan.

1.5   Pedoman Ujian.

1. Persyaratan Mengikuti Ujian.

  1. Mahasiswa dapat mengikuti ujian bila telah memenuhi syarat administrasi yang telah ditetapkan oleh Universitas sehingga terdaftar sebagai mahasiswa Unpad. 
  2. Mahasiswa dapat mengikuti ujian bila telah memenuhi ketentuan  mengikuti kegiatan belajar mengajar sebagai berikut:
  1. Ujian OSCE: tingkat kehadiran pada skill’s lab 100 %.
  2. Ujian SOCA dan MDE: tingkat kehadiran pada tutorial, dan mini lecture masing-masing minimal 80%, serta 100% untuk lab activity.
  3. Ujian BHP, CRP, dan PHOP: tingkat kehadiran pada perkuliahan BHP, CRP, PHOP masing-masing minimal 80% dan 100% untuk lab computer bagi mata ajar CRP.  
  4. Mahasiswa yang dapat menunjukkan bukti surat keterangan sakit dari dokter atau surat izin dari Pimpinan Fakultas/Ketua Prodi untuk ketidakhadiran pada perkuliahan tutorial, mini lecture, BHP, CRP, dan PHOP. 
  5. Bagi mahasiswa yang tidak memenuhi poin 1 dan 2, (non eligible), maka mahasiswa tersebut kehilangan hak untuk mengikuti ujian remedial sesuai dengan ujian yang persyaratannya tidak terpenuhi.

2. Tata tertib Ujian:

  1. Mahasiswa harus hadir di ruang ujian 15 menit sebelum ujian dimulai. 
  2. Setiap mengikuti ujian mahasiswa harus mengisi daftar hadir.
  3. Mahasiswa harus membawa identitas diri resmi (kartu mahasiswa).
  4. Mahasiswa dilarang keras melakukan tindakan kecurangan pada saat ujian seperti mencontek, memberi bantuan terhadap teman, mengambil bahan ujian tanpa izin, memotret atau melakukan tindakan lain yang menganggu pelaksanaan ujian. 
  5. Mahasiswa yang melakukan pelanggaran akan dikenakan sanksi sesuai ketentuan yang dijelaskan dalam klausul sanksi pelanggaran. 

3. Pedoman Melanjutkan ke Program PSPD.

Mahasiswa yang dapat melanjutkan ke Program PSPD adalah mahasiswa yang telah dinyatakan lulus untuk mendapatkan gelar akademik sarjana kedokteran (S.Ked) dengan persyaratan sebagai berikut:

  1. IPK minimal  2,75
  2. Lulus semua mata ajar/cabang ilmu/program/sistem yang ditempuh dengan tidak melewati lama studi maksimal selama 14 semester.
  3. Sudah menyelesaikan seluruh kewajiban administratif kepada pihak Fakultas/Universitas.

1.6  Sanksi Atas Pelanggaran

  1. Tidak hadir pada kegiatan belajar  mengajar tanpa alasan yang sah, maka mahasiswa yang bersangkutan  tidak berhak mengikuti ujian remedial di tahun yang    bersangkutan.
  2. Melakukan pelanggaran pada saat ujian, berupa  mencontek, memberikan contekan, mengambil bahan ujian tanpa izin mencatat dan/atau memotret soal, membawa alat komunikasi (handphone atau alat komunikasi yang lain), maka untuk mata kuliah tersebut dinyatakan tidak lulus (E) dan tidak berhak mengikuti remedial.
  3. Memalsukan tanda tangan atau mengisikan absensi temannya yang tidak hadir, maka mahasiswa ybs dan mahasiswa yang ditandatangankan, akan dikenakan skorsing sampai dengan  pemutusan studi.
  4. Tidak berpakaian sesuai aturan dan norma yang berlaku diminta untuk pulang dan mengganti  pakaiannya dengan yang sesuai aturan, dan kembali untuk  mengikuti kegiatan belajar mengajar. 
  5. Sanksi atas pelanggaran lainnya diberikan sesuai aturan  yang telah ditetapkan..

1.7 Pedoman Pengajuan Undur Diri dari Program Pendidikan Sarjana FK UNPAD.

a. Bagi mahasiswa yang ingin undur diri dari PSK FK Universitas Padjadjaran ke Prodi di Perguruan Tinggi lain berlaku ketentuan sebagai berikut:

  1. Surat permohonan Pengunduran Diri dari mahasiswa ybs yang disetujui oleh Orang Tua/Wali, diketahui oleh Dosen Wali/TPBK dan Pimpinan Program Studi 
  2. Surat permohonan Pengunduran Diri atas nama mahasiswa dari Pimpinan Fakultas Asal (Dekan) kepada Pimpinan Universitas (Rektor/PR 1).
  3. Surat Keputusan Pengunduran Diri mahasiswa dari Pimpinan Universitas (Rektor/PR 1).
  4. Transkrip Akademik mahasiswa ybs selama studi di Universitas Padjadjaran  yang ditandatangani oleh Pimpinan Fakultas (Dekan/PD 1)

b. Pemutusan studi:

Mahasiswa mengalami pemutusan studi dengan ketentuan sebagai berikut: 

  1. IPK < 2.00 pada semester 2
  2. IPK < 2.00 pada semester 4
  3. IPK < 2.00 pada semester 6
  4. Untuk mahasiswa tahun 1, 2 dan  tahun 3: tidak lulus lebih dari satu kali pada judisium 2.

A.  STRUKTUR MATA KULIAH

Keterangan

( ) = beban kredit

       *  SKS  = satuan kredit semester

  1. FBS      =  Fundamentals of Biomedical Science
  2. CVS    =  Cardiovascular System
  3. DMS   =  Dermatomusculoskeletal System
  4. EMS    =  Endocrine & Metabolism System
  5. GIS      =  Gastrointestinal System
  6. GUS    =  Genitourinary System
  7. FM      =  Family Medicine
  8. HIS      =  Hematoimmunology System
  9. RPS     =  Reproductive System
  10. NBSS   =  Neurobehavior & Special Senses System
  11. RS        =  Respiratory System
  12. TM       =  Tropical Medicine
  13. BHP     =  Bioethics & Humanities Program
  14. PHOP =  Public  Health Oriented Program
  15. CRP    =  Community Research Program
  16. CSP    =  Clinical Skill Program

b. Deskripsi  mata kuliah 

Struktur kurikulum tersusun dari berbagai program pendidikan yang disusun secara komprehensif untuk memastikan kompetensi utama dicapai pada akhir proses pendidikan. Secara umum tujuan dari masing-masing progam adalah:

Freshmen Semester Program bertujuan untuk menyiapkan mahasiswa pada pendidikan tinggi yang membutuhkan kemampuan belajar mandiri dan self-directed learning. Selain itu materi pada FBS mengaktifkan pengetahuan lampau (prior knowledge) mahasiswa agar siap pada proses pendidikan lebih lanjut

  1. Biomedical Program bertujuan untuk memfasilitasi mahasiswa mempelajari berbagai ilmu kedokteran dasar dan klinik melalui pendekatan klinik secara terintegrasi dalam bentuk pembelajaran berdasarkan masalah (problem-based learning).
  2. Clinical Skills Program bertujuan untuk melatih kemampuan keterampilan klinik mahasiswa sesuai yang dipelajari pada Biomedical Program.
  3. Public Health Oriented Program merupakan program untuk memfasilitasi mahasiswa mempelajari dan mengaplikasikan berbagai prinsip dasar ilmu kesehatan masyarakat 
  4. Community Research Program bertujuan untuk memfasilitasi mahasiswa mempelajari dan mengaplikasikan berbagai prinsip dasar penelitian berupa metodologi, epidemiologi dan biostatistik pada praktik kedokteran. 
  5. Bioethics and Humanities Program merupakan program yang memfasilitasi mahasiswa mempelajari dan mengaplikasikan berbagai prinsip dasar etika dan hukum  kedokteran serta berbagai aspek humaniora pada praktik kedokteran dan terintegrasi didalamnya pendidikan Agama serta Pancasila dan Kewarganegaraan.
  6. General Lab merupakan program yang berisi kegiatan laboratorium dan keterampilan klinik dasar untuk mahasiswa kedokteran.
  7. Kurikulum Integrasi merupakan program yang mengintegrasikan antara pemaparan dan penayangan penelitian-penelitian yang sedang dan telah dilaksanakan di pusat studi dengan kegiatan mahasiswa berupa tinjauan kritis terhadap suatu jurnal. Pada akhir kegiatan mahasiswa diminta untuk membuat artikel dalam bahasa Indonesia dan Inggris. 
  8. Olah Raga Kesenian dan Kreatifitas merupakan program yang mengintegrasikan kegiatan kemahasiswaan dengan pengabdian kepada masyarakat agar mahasiswa lebih mengenal dan memahami masyarakat sekitar tempat mereka belajar. 
Kembali
© 2018 MIR FKUNPAD All Rights Reserved.