Akademik

Program Studi Ilmu Bedah Anak

Pendidikan Bedah Anak di Indonesia tidak bisa lepas dari para perintis Ahli Bedah Indonesia yang mendalami keilmuannya di bidang Bedah Anak melalui magang di dalam dan luar negeri. Para perintis tersebut adalah: dr. Adang Zainal Kosim, SpB (Jakarta), dr. Darmawan Kartono, SpB (Jakarta), dr. Eddy Mulyanto Halimun, SpB, (Jakarta), dan beberapa ahli bedah lain. Pada tahun 1979 Pendidikan Bedah Anak pertama kali diselenggarakan oleh Perbani di Bagian Bedah RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Pendidikan inimerupakan pendidikan profesi lanjutan bagi Dokter Spesialis Bedah Umum yang berminat dalam bidang Bedah Anak, dengan lama pendidikan 2 tahun. Sampai tahun 1996 Pendidikan Bedah Anak dari Dokter Spesialis Bedah Umum hanya berlangsung di RSCM, Jakarta. Mulai bulan Juli 1997, pendidikan Bedah Anak juga diselenggarakan di Bagian Bedah RS Hasan Sadikin (RSHS), Bandung. Selanjutnya pendidikan ini juga diselenggarakan di RS Sardjito, Yogyakarta dan RS Sutomo, Surabaya.

Pada tahun 2003, Perbani mengirimkan permohonan untuk penyelenggaraan Program Pendidikan Sp-1 Bedah Anak kepada Sekretariat bersama Dekan Fakultas Kedokteran. Hal yang sama dilakukan pada tahun 2004 kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Pada akhir tahun 2006 izin penyelenggaraan Program Pendidikan Sp-1 Bedah Anak diterbitkan oleh Ditjen Pendidikan Tinggi Diknas untuk Program Studi Bedah Anak FK UNPAD dan FK UGM. Selanjutnya Program Studi Bedah Anak FK UNAIR mendapat izin penyelenggaraan Pendidikan Sp-1 Bedah Anak pada bulan Juni tahun 2014.

Visi Program Studi Bedah Anak

Menjadi Institusi Pendidikan Dokter Spesialis (IPDS) yang menempatkan keunggulan pendidikan dan penelitian dalam Ilmu Bedah Anak pada tahun 2026 untuk   kemaslahatan  masyarakat  guna  mendorongdaya   saing  bangsa

Misi

Misi pendidikan dokter spesialis bedah anak adalah mendidik secara akademik maupun profesi dokter untuk menjadi dokter spesialis bedah anak yang:

a. Mempunyai tanggung jawab, bermoral, dan beretika dengan sikap yang baik dalam menjalankan tugas profesi dokter spesialis bedah anak
b. Menguasai dan mengembangkan Standar Kompetensi Bedah Anak dalam menjalankan profesi dokter spesialis bedah anak
c. Memiliki profesionalitas dan jiwa pengabdian, rasa empati dan jiwa suka menolong
d. Dapat membangun kerjasama dengan teman sejawat, mitra kerja maupun pasien dan keluarganya

Tujuan

a. Tujuan umum pendidikan dokter spesialis bedah anak adalah menghasilkan dokter spesialis bedah anak yang profesional.
b. Tujuan khusus pendidikan dokter spesialis bedah anak adalah menghasilkan dokter spesialis bedah anak yang mempunyai kompetensi khusus dalam disiplinBedah Anak.

 

Struktur Organisasi Program Studi Bedah Anak FK UNPAD

Kepala Departemen Ilmu Bedah : Dr. Dimyati Achmad, dr, SpB (K) Onk
Kepala Divisi Ilmu Bedah Anak : Bustanul Arifin Nawas, dr., Sp.BA (K)
Ketua Program Studi Ilmu Bedah Anak : Dikki Drajat Kusmayadi, dr., Sp.BA(K)
Sekretaris Program Studi Ilmu Bedah Anak : Rizki Diposarosa, dr., Sp.BA(K)
Bendahara : Emiliana Lia, dr., Sp.BA
Koordinator Pendidikan dan Rekruitmen : Bustanul Arifin Nawas, dr., Sp.BA(K)
Koordinator Penelitian dan Kerjasama : Vita Indriasari, dr., Sp.BA
Koordinator Penjaminan  Mutu : Rizki Diposarosa, dr., Sp.BA(K)

 

 

Staf Pengajar

No. Nama Dosen NIDN/NIP(1) Jabatan Akademik Bidang Keahlian
1 Bustanul Arifin Nawas, dr., SpBA(K)

195209081980031002

8819730017

Dosen Urogenital Onkologi
2 Dikki Drajat Kusmayadi, dr., SpBA(K)

19640701990021001

8839730017
Dosen Digestive- Trauma
3 Rizki Diposarosa, dr., SpBA(K)

197506282003121004

88597330017
Dosen Neonatologi
4 Arhans Chairul, dr., SpBA., M.Kes

197509242006041002

00224097507
Asisten Ahli Digestive-Trauma
5 Vita Indirasari dr., SpBA, M.Kes 198403252015042002 Dosen Urogenital
6 Emiliana Lia dr., SpBA, M.Kes 198301152016044001 Dosen Digestif dan Trauma
7 Kurniawan Oki Pamungkas, dr., SpBA   Dosen Urogenital

 

Kompetensi Lulusan

NO Daftar Keterampilan

Pencapaian

Kompetensi

(Jml Kasus)
Tingkat Kemampuan
Ass. Spv Mdr
1 Keterampilan perawatan perioperatif neonatus dan anak, akses vena sentral 2 2 6 4
2 Keterampilan dasar bedah, akses peritoneal dialisis 2 2 6 4
3 Perawatan luka, stoma, dan drainase abses 2 2 6 4
4 Keterampilan penatalaksanaan trauma pada anak 2 2 6 4
5 Keterampilan penatalaksanaan sepsis 2 2 6 4
6 Eksisi tongue tie / Eksisi tortikolis 2 1 1 4
7 Eksisi / marsupiailisasi ranula 2 1 1 4
8 Eksisi kelenjar liur submandibula 2 2 1 4
9 Eksisi / biopsi limfonodi 2 1 3 4
10 Eksisi kista dermoid 2 1 3 4
11 Eksisi remnantpreauricular 2 4 1 4
12 Eksisi remnant branchial 2 4 1 4
13 Eksisi remnant thyroglosus 2 4 1 4
14 Isthmolobektomi tiroid 2 2 0 2
15 Parotidektomi superfisial / total 2 1 0 2
16 Tracheostomi 2 1 0 2
17 Eksisi limfangioma - higroma 2 1 3 4
18 Eksisi hemangioma 2 1 3 4
19 Thorakostomi 2 1 3 4
20 Simple mastectomy (gynecomastia) 2 1 3 4
21 Reseksi Anastomosis Esofagus 2 1 2 4
22 Esofagostomi 2 1 2 4
23 Ligasi FistulaTrakeoesofageal 2 1 1 4
24 Esophageal replacement 2 1 0 2
25 Esofagomyotomi 2 1 0 2
26 Gastric Pull-Up 2 1 0 2
27 Repair hernia diafragmatika kongenital / trauma 2 1 3 4
28 Plikasi diafragma 2 1 3 4
29 Gastrostomi 2 1 3 4
30 Eksisi diafragma gastric/mucosal prolapse 2 1 0 2
31 Reduksi volvulus gaster 2 1 1 4
32 Closure of gastric perforation 2 1 3 4
33 Fundoplikasi 2 1 1 4
34 Foreign bodies and bezoar extraction 2 1 1 4
35 Pyloromiotomy 2 1 2 4
36 Pyloroplasty 2 1 1 4
37 Duodenoduodenostomy 2 1 3 4
38 Duodenojejunostomy 2 1 3 4
39 Ileostomi (BishopKoop/Santulli, Mickulicz) 2 1 3 4
40 Bowel lengthening 1 1 0 2
41 Adhesiolisis for ASBO 2 1 3 4
42 Reseksi anastomosis jejunoileal 2 1 6 4
43 Ladd's procedure 2 1 3 4
44 Ablasio duplikasi gastrointestinal 1 1 0 2
45 Eksisi kista omentum 2 1 2 4
46 Eksisi kista mesenterial 2 1 2 4
47 Liver biopsy 2 1 3 4
48 Kholesistektomi 2 1 3 4
49 Kholedokholitotomi 2 2 0 2
50 Reseksi liver (anatomical, nonanatomical), hepatorraphy 2 2 0 2
51 Splenectomy total, parsial, & splenorraphy 1 3 1 4
52 Portoenterostomy (Kasai procedure) 2 4 1 4
53 Cystojejunostomy roux en Y (pseudocyst pankreas) 2 1 1 4
54 Cystojejunostomy roux en Y (kista duktus kholedokus) 2 1 3 4
55 Distal pancreatectomy 1 1 0 2
56 Eksisi remnant duktus omphalomesenterikus 2 1 3 4
57 Eksisi remnant urachus 2 1 3 4
58 Appendektomi 2 1 6 4
59 Drainase abses appendiks 2 1 6 4
60 Laparotomi eksplorasi pada peritonitis 2 1 6 4
61 Laparotomi trauma, damage control 2 1 3 4
62 Reduksi manual intusussepsi 2 1 6 4
63 Kolostomi 2 1 6 4
64 Reseksi anastomosis kolon 2 1 6 4
65 Abdominoperineal pull-through (Duhamel, Soave-Boley, Adang Kosim, Transanal pull-through ) 2 1 6 4
66 Biopsi rektum (suction, open) 2 1 6 4
67 Polipektomi rektum dan kolon via Proctoscopy 2 1 3 4
68 Myektomi (Lynn) 2 2 0 4
69 Fistulektomi perianal, insisi drainase abses perianal 2 1 3 4
70 Irigasi rectum&bowel management 2 1 3 4
71 Thiersch's procedure 2 2 0 3
72 Sphincterotomi anal 2 1 3 4
73 Anoplasty 2 1 3 4
74 Anorektoplasty (PSARP) 2 1 6 4
75 Anorektourethrovaginoplasty (PSARVUP) 2 1 0 3
76 Total urogenital mobilization (TUM) 2 2 0 2
77 Repair rectovagina fistula acquired 2 1 1 4
78 Repair anus, rektum pada trauma rektum 2 1 1 4
79 Abdominoplasty Prune Belly Syndrome 1 1 0 2
80 Eksisi granuloma umbilikal 2 1 3 4
81 Repair hernia umbilikalis, epigastrik 2 1 3 4
82 Repair dinding perut (gastroschisis, omfalokel) 2 1 3 4
83 Repair hernia inguinal 2 1 6 4
84 Ligasi tinggi hidrokel 2 1 6 4
85 Cystostomy, vesicostomy 2 1 3 4
86 Sirkumsisi 2 1 6 4
87 Meatotomy 2 1 3 4
88 Chordectomy 2 1 6 4
89 Hypospadia repair 2 1 6 4
90 Repair burried penis 2 1 3 4
91 Epispadia repair 1 1 0 2
92 Repair fistula uretrokutan 2 4 1 4
93 Repair penis post trauma 2 1 0 3
94 Release synechia of vulva 2 1 2 4
95 Nefroureterektomi, Nefrektomi (total/parsial) 2 1 2 4
96 Pyeloplasty 2 1 0 2
97 Nephrostomi, renorafi 2 2 1 4
98 Reimplantasi ureter 1 1 0 2
99 Tapering dan plikasi ureter 1 1 0 2
100 Eksisi ureterocele 1 1 0 2
101 Augmentation cystoplasty 1 1 0 2
102 Repair Ekstrophy Bladder 1 1 0 2
103 Repair Ekstrofi Kloaka 1 1 0 2
104 Repair bladder, urethra pada trauma 1 1 1 3
105 Destruksi katup uretra posterior 1 1 0 2
106 Genitoplasty 2 1 0 2
107 Clitoral reduction 2 1 0 2
108 Vaginoplasty 2 1 0 2
109 Insisi imperforate hymen 2 2 0 3
110 Orkhidopeksi 2 1 3 4
111 Orkhidektomi 2 1 3 4
112 Eksisi varicocele 2 1 0 3
113 Drainase abses skrotum 2 2 0 3
114 Eksisi / biopsi neuroblastoma 2 2 1 3
115 Eksisi / biopsi teratoma intraabdominal, oral (epignathus) 2 2 1 3
116 Eksisi / biopsi tumor ovarium 2 4 0 3
117 Eksisi / biopsi rhabdomyosarcoma 2 1 1 4
118 Eksisi / biopsi teratoma sacrococcygeal 2 4 1 4
119 Nephroureterectomi tumor Wilms 2 4 1 4
120 Eksisi kista Baker 2 1 3 4
121 Eksisi polidaktili 2 4 0 3
122 Koreksi syndaktili 2 2 0 3
123 Eksisi Tumor Jinak pada Ekstremitas 2 2 2 3
124 Cystoscopy 1 2 1 3
125 Upper GI endoscopy, Colonoscopy 2 1 0 3
126 Thoracoscopy 1 1 0 2
127 Twin separation surgery 1 1 0 2
128 Liver transplantation 1 0 0 2
129 Laparoscopic surgery 2 1 0 2

Tingkat Kemampuan yang Harus Dicapai

1.   Tingkat Kemampuan 1: mengenali dan menjelaskan
    Lulusan dokter spesialis bedah anak mampu mengenali dan menjelaskan gambaran klinik penyakit, dan  mengetahui  cara  yang  paling  tepat  untuk  mendapatkan  informasi  lebih lanjut  mengenai  penyakit  tersebut,  selanjutnya  menentukan    rujukan   yang  paling   tepat   bagi   pasien.   Lulusan   dokter spesialis bedah anak  juga   mampu   menindaklanjutisesudah kembali dari rujukan.
2.   Tingkat Kemampuan 2: mendiagnosis dan merujuk
    Lulusan    dokter   spesialis bedah anak mampu   membuat    diagnosis    klinik    terhadap   penyakittersebut    dan   menentukan  rujukan    yang    paling    tepat    bagi    penanganan pasien  selanjutnya.  Lulusan  dokter  spesialis bedah anak juga  mampu menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.
3.   Tingkat  Kemampuan  3:  mendiagnosis,  melakukan  penatalaksanaan  awal,  dan  merujuk
  3A. Bukan gawat darurat
    Lulusan   dokter spesialis bedah anak mampu  membuat  diagnosis  klinik   dan  memberikan  terapi  pendahuluan    pada  keadaan  yang  bukan  gawat  darurat.  Lulusan  dokter spesialis bedah anak mampu  menentukan  rujukan  yang  paling  tepat  bagi  penanganan  pasien selanjutnya. Lulusan dokter spesialis bedah anak juga mampu  menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.
  3B. Gawat darurat
    Lulusan     dokter   spesialis bedah anak  mampu    membuat     diagnosis     klinik     dan    memberikan  terapi     pendahuluan     pada  keadaan      gawat     darurat     demi     menyelamatkannyawa     atau     mencegah     keparahan     dan/atau  kecacatan    pada    pasien.Lulusan    dokter    mampu    menentukan    rujukan    yang     paling     tepat    bagi  penanganan  pasien  selanjutnya.  Lulusan  dokter spesialis bedah anak juga  mampu  menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.
4.   Tingkat   Kemampuan   4:  mendiagnosis melakukan   penatalaksanaan    secara mandiri, dan tuntas
    Lulusan      dokter spesialis bedah anak   mampu     membuat     diagnosis     klinik     dan     melakukanpenatalaksanaan   penyakit tersebut secara mandiri dan tuntas.

 

Kurikulum

Pendidikan dokter spesialis bedah anak ditempuh dalam 3 tahap pendidikan : tahap Junior, tahap Madya, dan tahap Senior :

1. Tahap Junior selama 3 semester, terdiri dari kursus pra bedah dasar (KPBD), rotasi klinik bedah dasar (BD) dan rotasi bedah anak dasar (BAD).
2. Tahap Madya selama 5 semester, terdiri dari rotasi klinik bedah anak (BA), rotasi di rumah sakit jejaring (SJ) dan rotasi Ilmu Kesehatan Anak (IKA).
3. Tahap Senior selama 2 semester, terdiri dari rotasi klinik bedah anak di rumah sakit jejaring (SJ), stase manajerial (MAN), dan rangkaian persiapan ujian.

 

Tahapan JUNIOR

UJIAN

OSCE

KOG
MADYA

UJIAN

OSCE

KOG
SENIOR
Semester 1 2 3 4 5 6

SUP

 

UJIAN

CR
7 8 9 10
                  BA 6
Rotasi

K

P

B

D
BD

B

AD
BA 1 BA 2 BA 3 SJ

I

K

A

BA

4

BA

5
SJ

M

A

N

                       

UJIAN

NAS
Durasi (bulan) 3 10 2 3 6 6 3 3 6 6 3  

 

2.3.1.1  Tahap Junior (semester I-IV)
  2.3.1.1.1 Tahap Pra Bedah Dasar
    Batasan    
    Tahap Pra Bedah Dasar adalah kegiatan pendidikan dan keterampilan dasar bedah yang menjadi kompetensi dasar para mahasiswa Tahap Junior dalam melaksanakan praktek profesi bedah yang baik di RS Pendidikan
    Tujuan pembelajaran
    Setelah mengikuti kegiatan ini, mahasiswa dapat :
    1. menjelaskan ilmu-ilmu dasar bedah dan ilmu bedah dasar serta melakukan keterampilan klinik dasar bedah dengan benar
    2. menjelaskan berbagai aspek etik, hukum, dan profesionalisme yang relevan dengan praktik ilmu bedah yang baik
    3. menyusun proposal penelitian dalam bidang ilmu beda

 TOPIK BAHASAN

Tahap Modul Topik Bahasan  
Pra Bedah Dasar Modul Pengetahuan Dasar Umum dan Humaniora a. Filsafat Ilmu dan Epidemiologi Klinik
b. Metodologi Penelitian Bedah dan Biostatistik
c. Evidence Based Medicine
d. Etik, Bioetik, Hukum, dan Profesionalisme Bedah
e. Keselamatan pasien, dokter, dan personel kesehatan
f. Hubungan Interpersonal dan Komunikasi
  Modul Pengetahuan Dasar Bedah a. Introduksi dan sejarah ilmu bedah
  b. Anatomi, Fisiologi, Patologi,
  c. Mikrobiologi, Farmakologi, dan Radioanatomi
  Modul Keterampilan Dasar Bedah a. Bantuan hidup dasar pada trauma
  b. Ventilasi Mekanik
  c. Informed Consent
  d. Keterampilan Diagnostik: Bedah Digestif, Bedah Onkologi, Kepala dan Leher, Orthopedi, Urologi, Kardiothorak, Vaskular, Bedah Anak, Bedah Plastik dan Bedah Saraf
  e. Prosedur Pembedahan Sederhana
  Modul Bedah Dasar a. Patologi dan masalah klinik berbagai penyakit kelainan bedah
  b. Prinsip pengelolaan trauma dan kondisi kritis
  c. Keterampilan bedah dasar, luka gigitan binatang, tetanus, gas gangren
  d. Kamar bedah dan tata cara kerja kamar bedah
  e. Infeksi bedah dan infeksi nosokomial
  f. Asepsis dan Antiseptik
  g. Transplantasi organ
  h. Skrining dan registrasi kanker
  i Prinsip terapi kanker (pembedahan,kemoterapi, radioterapi, imunoterapi, dan terapi hormonal)
  Modul Anestesiologi a. Dasar-dasar anestesi pada kasus bedah elektif dan darurat
  Modul Radiologi a. Dasar-dasar pemeriksaan dan pembacaan foto polos, foto dengan kontras, CT-Scan, MRI, USG Abdomen
    b. Dasar dan jenis radioterapi, teknik evaluasi hasil radiasi dan proteksi radiasi
  Modul Metode Pendidikan Bedah a. Pengantar metode belajar mengajar
    b. Metode tutorial, diskusi kelompok, bedside teaching
    c. Cara menyajikan kasus dan praktik role play

SERTIFIKASI

Setelah menyelesaikan tahap ini setiap mahasiswa memperoleh Sertifikat Tahap Pra Bedah Dasar yang ditandatangani oleh Koordinator Bedah Dasar, Ketua Program Studi dan Kepala Departemen Bedah di Fakultas Kedokteran terkait.

2.3.1.1.2   Tahap Bedah Dasar
    Batasan
    Tahap bedah dasar adalah pendidikan dan pelatihan ilmu dan keterampilan prosedur bedah dasar berbagai cabang disiplin ilmu dan profesi bedah di Rumah Sakit Pendidikan Utama  beserta jejaringnya.
    Tujuan pembelajaran
    Setelah menyelesaikan tahap rotasi bedah dasar, mahasiswa akan mampu menerapkan ilmu dan keterampilan bedah dasar berbagai cabang disiplin profesi bedah pada perawatan pasien bedah.
    Rotasi
    Rotasi bedah dasar dilaksanakan pada divisi-divisi cabang ilmu bedah sebagai berikut :
    1. Bedah Digestif (1 bulan)
    2. Bedah Onkologi, Kepala dan Leher (1 bulan)
    3. Orthopedi (1 bulan)
    4. Urologi (1 bulan)
    5. Bedah Plastik (1 bulan)
    6. Endolaparoskopi (1 bulan)
    7. Bedah Kardiothorak (1 bulan)
    8. Bedah Saraf (1 bulan)
    9. Bedah Vaskular (1 bulan)
    10.Bedah Emergensi (1 bulan)
    Jadwal rotasi setiap semester ditentukan oleh Ketua Program Studi dengan memperhatikan fasilitas pendidikan yang tersedia (Rumah Sakit Pusat Pendidikan Utama dan/ atau Rumah Sakit Jejaring)
    Pelatihan Bedah Dasar
    1. Pelatihan keterampilan dasar bedah  
    2. Pelatihan nutrisi klinis  
    3. Pelatihan perawatan perioperatif  
    4. Pelatihan Focus Assesment Sonography on Trauma (FAST)  
    5. Pelatihan Definitive Surgical Trauma Care (DSTC)  
    6. Pelatihan Luka Bakar (Emergency Management of Severe Burn by ANZA & RACS)  
    7. Pelatihan Laparoskopi Dasar  
    Kegiatan Penelitian  
    1. Latihan membuat proposal penelitian  
    2. Presentasi dan publikasi karya ilmiah bedah dasar pada Pertemuan Ilmiah Bedah.  

Topik bahasan

Tahap Modul TopikBahasan
Bedah Dasar Modul Prosedur Operatif Pasien Bedah Digestif 1. Terapi nutrisi perioperatif bedah digestif
2. Interpretasi pencitraan bedah digestif
3. Evaluasi dan pengelolaan luka abdomen
4. Perawatan dan pemantauan kasus bedah digestif
5. Prosedur anorektal (anuskopi, rektoskopi, drainase abses perianal)
6. Appendektomi
7. Pemasangan akses nutrisi enteral (gastrostomi) dan parenteral (vena sentral)
8. Herniorrhapy inguinal
  Modul Prosedur Operatif Pasien Bedah Onkologi, Kepala dan Leher 1. Krikotirotomi, Trakeostomi
  2. Biopsi terbuka kelenjar getah bening, tumor kepala dan leher
  3. Melakukan FNA, cutting needle biopsy, biopsy eksisi/insisitumor payudara
  4. Eksisi fibroadenoma, fibrokistik payudara
  5. Drainase abses payudara
  6. Biopsi pada tumor ganas kulit dan jaringan lunak
  7. Eksisi tumor jinak kulit dan jaringan lunak sederhana.
  Modul Prosedur Operatif Pasien Bedah Kardiothoraks 1. Pemasangan Chest Tube Thoracostomy dan Water Sealed Drainage
  2. Thoracocentesis
  3. Perikardiosentesis
  Modul Prosedur Operatif Pasien Bedah Vaskular 1. Pemasangan jalur intravena perifer
  2. Pemasangan akses vena sentral
  3. Melakukan fasiotomi tungkai
  4. Melakukan drainase abses tungkai
  5. Melakukan debridemen ulkus kronis
  Modul Prosedur Operatif Pasien Bedah Plastik & Rekonstruksi 1. Terapi luka terbuka dan luka laserasi
  2. Debridemen luka terbuka dan luka bakar
  3. Operasi tandur kulit
  4. Flap kulit lokal sederhana untuk penutupan luka
  Modul Prosedur Operatif Pasien Bedah Saraf 1. Melakukan pembedahan reparasi laserasi kulit kepala
  Modul Prosedur Operatif Pasien Bedah Urologi 1. Kateterisasi buli
  2. Sistostomi (troikar dan terbuka)
  Modul Prosedur Operatif Pasien Bedah Orthopedi 1. Melakukan immobilisasi vertebra servikalis
  2. Splinting (pembidaian) fraktur tertutup
  3. Reposisi tertutup pada fraktur tulang panjang, dislokasi panggul, siku dan bahu
  4. Pemasangan traksi kulit dan tulang
  5. Pemasangan casts
  6. Debridement patah tulang terbuka
  7. Melakukan aspirasi sendi
  Modul   Endolaparoskopi 1. Prinsip dasar bedah invasif minimal, laparoskopi, endoskopi, dan telerobotik
  2. Prinsip dasar endoskopi pada saluran cerna dan saluran kemih
  3. Prinsip dasar endoskopi dan laparoskopi bedah anak
       
       
       

SERTIFIKASI

Setelah menyelesaikan tahap ini setiap mahasiswa memperoleh sertifikat tahap bedah dasar yang diterbitkan oleh Program Studi Ilmu Bedah dan ditandatangani oleh Koordinator Bedah Dasar.

2.3.1.1.3   Tahap Bedah Anak Dasar
    Batasan
    Tahap Bedah Anak Dasar adalah pendidikan dan pelatihan ilmu dan keterampilan prosedur bedah anak dasar di Rumah Sakit Pendidikan Utama  dan/atau Rumah Sakit Jejaring Pendidikan.
    Tujuan pembelajaran
    Setelah menyelesaikan tahap rotasi Bedah Anak Dasar, mahasiswa akan mampu menerapkan ilmu dan keterampilan bedah anak dasar pada perawatan pasien bedah anak
    Rotasi
    Rotasi bedah dasar dilaksanakan pada divisi-divisi cabang ilmu bedah anak, sebagai berikut :
  1. Subdivisi Bedah Digestif Anak (2 bulan)
  2. Subdivisi Bedah Anak Umum(1 bulan)
  3. Subdivisi Bedah Urogenital Anak (1 bulan)
  4. Subdivisi Bedah Neonatal (1 bulan)
    Jadwal rotasi setiap semester ditentukan oleh Ketua Program Studi dengan memperhatikan jumlah mahasiswa dan beban kerja dari masing-masing subdivisi.
    Kegiatan Penelitian
    Membuat 1 (satu) penelitian klinis yang harus dipresentasikan pada Pertemuan Ilmiah Bedah Anak tingkat nasional atau internasional.

Topik bahasan

Ilmu Bedah Anak Dasar

Ranah kompetensi kognitif Ranah Kompetensi Psikomotor dan Afektif (Sikap dan Prilaku)
1.     Ilmu dasar yang berhubungan dengan praktik bedah anak

Resusitasi 3

Manajemen cairan dan elektrolit 3

Manajemen nutrisi 3

Hemostasis dan produk darah 3

Antibiotic 3

Insersi jalur vena sentral 2

Kateterisasi uretra 4

Membuat inform concent 3

Resusitasi dan manajemen inisial pasien trauma 4

  1.1   Embriologi perkembangan sistem saluran cerna, urogenital, respirasi
  1.2   Anatomi sistem saluran cerna, urogenital, respirasi, dinding abdomen, pelvis
  1.3   Fisiologi:
    1.3.1 Fisiologi umum: homeostasis, termoregulasi, jalur metabolik, kehilangan darah dan syok hipovolemik, sepsis, keseimbangan cairan dan terapi penggantian cairan, keseimbangan asam basa, koagulasi dan perdarahan, nutrisi
    1.3.2 Fisiologi sistem organ spesifik: kardiovaskular, respirasi, saluran cerna, urogenital, endokrin
2     Penilaian dan manajemen pasien bedah
3     Perawatan perioperatif  
  3.1   Penilaian dan manajemen preoperasi: fisiologi kardiopulmonal, keseimbangan cairan dan homeostasis, gagal ginjal, patofisiologi sepsis  
  3.2   Perawatan intaoperasi: keamanan di kamar operasi, posisi, diatermi, risiko infeksi  
  3.3   Perawatan pascaoperasi: komplikasi  
4     Penilaian dan manajemen pasien trauma  
  4.1   Sistem scoring dan penialaian pasien trauma  
  4.2   Triage kecelakaan mayor  
  4.3   Perbedaan pada anak  
  4.4   Patogenesis syok  
  4.5   Fisiologi syok dan kardiovaskular  
  4.6   Respon metabolik terhadap trauma  
  4.7   Luka tembak  
  4.8   Luka tusuk  
  4.9   Gigitan hewan  
  4.10   Child abuse  
Rotasi Bedah Anak 1

Ranah kompetensi kognitif

Ranah Kompetensi Psikomotor dan Afektif (Sikap dan Prilaku)
1     Bedah anak umum

Anamnesis dan pemeriksaan fisik 4

Membuat diagnosis banding 3

Merencanakan investigasi 3

Membuat keputusan klinis 3

Appendektomi 3

Repair hernia  inguinal 3

Repair hernia umbilikalis 2

Ligasi tinggi 2

Sirkumsisi 3

Biopsi hisap rektum 4

Irigasi rectum 4

Evakuasi feses manual 4

Eksisi lesi kulit 3

Eksisi kelenjar getah bening3

Insisi drainase abses 3
  1.1   Trauma pada anak
  1.2   Anak dengan kondisi inguinal
  1.3   Benjolan kepala leher
2     Bedah digestif anak
  2.1   Anak dengan nyeri perut
  2.2   Anak dengan muntah
  2.3   Anak dengan kembung
  2.4   Jaundice
  2.5   Perdarahan saluran cerna
  2.6   Anak dengan konstipasi
3     Bedah urogenital
  3.1   Kelainan saluran kemih anak
  3.2   Pembengkakan skrotum
4     Bedah neonatus
  4.1   Patologi dinding abdomen
  4.2   Neonatus dengan kembung
  4.3   Neonatus dengan muntah
  4.4    

SERTIFIKASI

Setelah menyelesaikan tahap ini setiap mahasiswa memperoleh Surat Keterangan Kompetensi tahap Junior yang dikeluarkan oleh Program Studi dan ditandatangani oleh Ketua Program Studi.

2.3.1.2   Tahap Madya (semester V-VIII)
    Batasan
    Tahap Madya adalah pendidikan dan pelatihan ilmu dan keterampilan bedah melalui proses magang pada beberapa sub divisi bedah anak di Rumah Sakit Pendidikan Utama dan/atau Rumah Sakit Jejaring Pendidikan.
    Tujuan pembelajaran
    Setelah menyelesaikan tahap Madya, mahasiswa akan mampu menerapkan pengetahuan dan keterampilan, perawatanperioperatif, dan tindakan operasi pada kasus-kasus bedah anak sesuai dengan kompetensi yang ditetapkan.
    Rotasi
    Rotasi pada tahap Madya dilaksanakan4 semester (semester V-VIII) pada subdivisi- subdivisi bedah anak sebagai berikut :
  1. Subdivisi Bedah Digestif Anak ( 6 bulan)
  2. Subdivisi Bedah Anak Umum (6 bulan)
  3. Subdivisi Bedah Urogenital Anak (6 bulan)
  4. Subdivisi Bedah Neonatal ( 6 bulan)
    Pada tahap ini, mahasiswa akan mengikuti stase di RS Jejaring dan diDepartemen Imu Kesehatan Anak, masing-masing selama 3 bulan.Jadwal rotasi setiap semester ditentukan oleh Ketua Program Studi dengan memperhatikan jumlah mahasiswadan beban kerja dari masing-masing subdivisi
    Kegiatan Penelitian
  1. Membuat 2 (dua) penelitian klinis yang harus dipresentasikan pada Pertemuan Ilmiah Bedah Anak tingkat nasional atau internasional.
  2. Membuat proposal untuk Karya Ilmiah Akhir

SERTIFIKASI

Setelah menyelesaikan tahap ini setiap mahasiswa memperoleh Surat Keterangan Kompetensi tahap Madya yang dikeluarkan oleh program studi dan ditandatangani oleh Ketua Program Studi.

2.3.1.3   Tahap Senior (semester IX-X)
    Batasan
    Tahap Senior adalah pendidikan dan pelatihan di Rumah Sakit Jejaring Pendidikan melalui proses magang dan mandiriserta menjalani stase Profesionalisme dan Manajemen Bedah.
    Tujuan pembelajaran
    Setelah menyelesaikan tahap Senior, mahasiswadiharapkan mampu menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam perawatan intensif, melakukan tindakan operasi pada kasus-kasus bedah anak secara mandiri dan pengelolaan pasien secara komprehensif.
    Rotasi
    Rotasi pada tahap Senior dilaksanakan selama 2 semester (semester IX-X) berupa stase di Rumah Sakit Jejaring Pendidikan dan stase manajerial  diRumah Sakit Utama.Jadwal rotasi setiap semester ditentukan oleh Ketua Program Studi dengan memperhatikan jumlah mahasiswa dan beban kerja dari masing-masing subdivisi serta kapasitas penerimaan dari Rumah Sakit Jejaring Pendidikan.
    Kegiatan Penelitian
  1. Membuat Karya Ilmiah Akhir sebagai salah satu persyaratan untuk mengikuti Ujian Profesi Bedah Anak
  2. Presentasi hasil penelitian dari Karya Ilmiah Akhir di forum bedah anak di tingkat nasional atau internasional
    Profesionalisme dan Manajemen Bedah
  1. Melakukan tugas manajerial pengelolaan penderita bedah anak di poliklinik, kamar operasi, bangsal, instalasi rawat darurat.
  2. Melakukan pelayanan bedah anak di rumah sakit satelit atau afiliasi.
  3. Melakukan pelayanan konsultasi untuk departemen lain di Rumah Sakit Pendidikan dan Rumah Sakit Satelit.

SERTIFIKASI

Pada akhir tahap ini setiap mahasiswa dipersiapkan untuk mengikuti Ujian Profesi Nasional Bedah Anak. Setelah menyelesaikan pendidikan, mahasiswa akan memperoleh ijazah Dokter Spesialis Bedah Anak (SpBA)  dari Fakultas Kedokteran dan Sertifikat Kompetensi Bedah Anak dari Kolegium Bedah Anak.

Kembali
© 2018 MIR FKUNPAD All Rights Reserved.