Departemen & Staff

Departemen Ilmu Kedokteran Nuklir dan Pencitraan Molekuler


Latar Belakang

Ilmu kedokteran nuklir merupakan bidang yang relatif baru di dunia kedokteran dan memiliki kekhasan tersendiri. Kekhasan yang juga merupakan keunggulan dari kedokteran nuklir tersebut adalah kemampuannya untuk mendeteksi bahan-bahan yang ditandai dengan perunut radioaktif. Bahan-bahan bertanda radioaktif tersebut dikenal sebagai radiofarmaka dapat diberikan melalui suntikan intravena, mulut, maupun inhalasi. Radiofarmaka yang dimasukan ke dalam tubuh dapat dilacak keberadaannya di dalam organ atau jaringan menggunakan detektor pemancar gamma dan  luar tubuh. Teknik kedokteran nuklir juga dapat digunakan untuk menganalisis kandungan radiofarmaka dalam cuplikan darah, urine, feses, atau udara yang dihembuskan melalui pernafasan, bahkan yang ada dalam jaringan. Pemanfaatan teknologi nuklir ini tergolong baru di bidang kedokteran, namun penggunaan  isotop radioaktif dalam bidang biologi dan kedokteran sebenarnya telah dimulai pada tahun 1901 oleh Henri Danlos. Danlos menggunakan isotope radium dalam pengobatan penyakit tuberculosis kulit. Pada tahun 1920-an, George de Hevesy mempelopori penerapan teknik perunut dengan menggunakan radioisotop alamiah dalam bidang biologi dan kedokteran. Sejak itulah pemanfaatan radioisotop buatan mulai dikenal dan berkembang dalam bidang biologi dan kedokteran.

Radioisotop buatan yang banyak dipakai sejak awal perkembangan kedokteran nuklir adalah 131I. Dewasa ini radioisotop tersebut masih digunakan untuk keperluan diagnostik di beberapa negara berkembang karena harganya yang murah, namun di Amerika Serikat FDA melarang penggunaan produk ini untuk tujuan diagnostik penyakit kelenjar tiroid karena sudah digantikan oleh 123I ataupun 99mTc MAG-3 yang digunakan untuk pemeriksaan fungsi ginjal.

Pada tahun 1960-an diperkenalkan radionuklida 99mTc yang memiliki sifat-sifat yang ideal dari segi proteksi radiasi dan pencitraan menggunakan teknik kedokteran nuklir. 99mTc dapat diperoleh secara mudah menggunakan sistem generator. Saat ini, 99mTc merupakan radionuklida yang paling banyak digunakan dalam kedokteran nuklir di seluruh dunia. Periode perkembangan ilmu kedokteran nuklir selanjutnya ditandai dengan munculnya radioanuklida Tl-201 pada tahun 1970-an yang merupakan analog Kalium. TI-201 digunakan untuk pemeriksaan perfusi otot jantung. Pada tahun 1980-an sebuah alat yang disebut PET (Positron Emission Tomografi) berhasil di ciptakan. Kamera PET dapat mendeteksi radionuklida yang disuntikkan ke dalam aliran darah pasien. Radionuklida tersebut dihasilkan dari suatu electron. Diantara radionuklida yang sering digunakan adalah 18F-flurodeoxyglucose (FDG). 

Produksi radiofarmaka juga mengalami perkembangan yang menakjubkan dengan ditemukannya berbagai jenis radiofarmaka baru. Radiofarmaka yang dahulu banyak digunakan pada zaman keemasan 131I (rose bengal, Human Serum Albumin, dsb) saat ini sudah tidak digunakan lagi. Saat ini hampir semua radiofarmaka berbasis Technetium-99m seperti MDP, DTPA, Sestamibi, HMPAO, dsb. Sedangkan antibodi monoklonal bertanda digunakan untuk radioimunosintigrafi dan radioimunoterapi. 

Seiring dengan pesatnya perkembangan radionuklida, ilmu kedokteran nuklir telah berkembang menjadi suatu disiplin ilmu kedokteran yang mandiri. Kemandirian sebagai suatu disiplin ilmu ini tercermin pula dengan berdirinya berbagai organisasi keilmuan dan profesi dalam bidang ini, seperti  Society of Nuclear Medicine di Amerika Serikat, European Association of Nuclear Medicine, Australian and New Zealand Society of Nuclear Medicine, Korean Society of Nuclear Medicine, Japan Society of Nuclear Medicine, World Federation of Nuclear Medicine and Biology, Asia and Oceania Federation of Nuclear Medicine and Biology, dan lain sebagainya.

Pengakuan sebagai suatu disiplin ilmu datang pula dari badan-badan internasional, seperti the International Atomic Energy Agency (IAEA) dan World Health Organization (WHO). Kedua badan internasional tersebut, dalam suatu seminar pada tahun 1988, telah mengeluarkan rekomendasi agar ilmu kedokteran nuklir ditetapkan sebagai suatu disiplin ilmu kedokteran klinik mandiri, dan spesialisasi dalam ilmu kedokteran nuklir dapat menjadi salah satu pilihan dalam pengembangan karir seorang dokter.

Pada seminar yang diselenggarakan oleh IAEA dan WHO pada tahun 1988 di Winna (Austria), yaitu Seminar on Training in Nuclear Medicine in Developing Countries, telah dirumuskan definisi Ilmu Kedokteran Nuklir sebagai berikut: Nuclear Medicine is defined as a speciality which uses the nuclear properties of matter to investigate physiology and anatomy, diagnoses disease, and treat with unsealed sources of radionuclide.

Meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan telah meningkatkan kebutuhan masyarakat terhadap tenaga kesehatan, khususnya dokter. Hal ini juga mendorong perkembangan ilmu kedokteran, terutama di area pendidikan kedokteran spesialis. Saat ini banyak bidang kedokteran spesial yang berkembang di dunia pendidikan kedokteran, salah satu diantaranya adalah pendidikan spesialisasi ilmu kedokteran nuklir.

Melihat perkembangan tersebut, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa bidang kedokteran nuklir merupakan salah satu bidang kedokteran yang penting dan memiliki perkembangan yang sangat pesat, seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di sisi lain, kemajuan ini juga tidak hanya memunculkan solusi-solusi baru untuk diagnosis dan terapi suatu penyakit, tetapi juga menimbulkan berbagai problematika baru terutama di sektor pendidikan kedokteran nuklir.

Sejarah

Salah  satu  determinan  penting  upaya  peningkatan  kualitas  sumber daya  manusia di  bidang  ilmu kedokteran nuklir  di  Indonesia  adalah  eksistensi institusi pendidikan penyelenggara pendidikan profesional yang ada Indonesia saat ini.

Pelayanan kedokteran nuklir di Indonesia dimulai sejak tahun 1967 bertempat di lingkungan Reaktor Atom pertama di Indonesia, di jalan Taman Sari Bandung dengan nama Balai Kedokteran Nuklir. Pada tahun 1971 Balai Kedokteran Nuklir pindah ke RS Dr. Hasan Sadikin dan berganti nama menjadi Bagian Kedokteran Nuklir. RSUP Dr. Hasan Sadikin adalah rumah sakit pertama di Indonesia yang memberikan pelayanan kedokteran nuklir. Sejak tahun 2017 namanya diganti menjadi SMF/Instalasi/Departemen Kedokteran Nuklir dan Pencitraan Molekuler Fakultas Kedokteran UNPAD / RSUP Dr. Hasan Sadikin. Berdasarkan KMK No. 008 tahun 2009 tentang Standar Pelayanan Kedokteran Nuklir, kualifikasi pelayanan Kedokteran Nuklir dan Pencitraan Molekuler RSUP Dr. Hasan Sadikin merupakan pelayanan kedokteran nuklir kelas utama, karena dapat memberikan pelayanan diagnostik in vivo, in vitro dan terapi.

Sejak tahun 1998 sampai dengan sekarang, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran merupakan satu-satunya institusi pendidikan untuk penyelenggaraan program studi dokter spesialis kedokteran nuklir di Indonesia. Program Studi Dokter Spesialis Kedokteran Nuklir Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran telah meluluskan sebanyak 33 dokter spesialis kedokteran nuklir, yang tersebar di Medan, Padang, Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang dan Samarinda, menyusul Aceh, Solo,Jogjakarta, Manado dan Makasar.

Visi dan Misi

Kondisi keberhasilan masa depan Program Studi PPDS IKN FK UNPAD dinyatakan dalam visi:

“Menjadi pusat unggulan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat di bidang kedokteran nuklir di Indonesia yang bertaraf Internasional”

Visi tersebut sesuai dengan visi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran dan RSUP Dr. Hasan Sadikin sebagai institusi tempat peserta PPDS berada.

Struktur Organisasi

Daftar Nama Staf Pendidik dan Kependidikan 

Kepala Departemen :

Dr. A. Hussein S Kartamihardja, dr, SpKN(K), MH.Kes, FANMB

 

Ketua Program Studi :

Dr. Basuki Hidayat, dr, SpKN(K)

 

Sekretaris Program Studi :

Rd. Erwin Affandi Soeriadi Koesoemah, dr, SpKN(K), MH.Kes, FANMB

 

Koordinator Program Studi Pendidikan Dokter :

Dr. Budi Darmawan, dr, SpKN(K)

 

Kasubur Program Studi :

Syahid Nurzaman, S.E.

 

Staf Pendidik :

Prof (Em). Dr. Johan S Masjhur, dr, SpPD-KEMD, SpKN(K)

Dr. A. Hussein S Kartamihardja, dr, SpKN(K), MH.Kes, FANMB

Dr. Basuki Hidayat, dr, SpKN(K)

Dr. Budi Darmawan, dr, SpKN(K)

Trias Nugrahadi, dr, SpKN(K)

Rd. Erwin Affandi Soeriadi Koesoemah, dr, SpKN(K), MH.Kes, FANMB

Ayu Rosemeilia Dewi, dr, SpKN

Hendra Budiawan, dr, SpKN(K), MM, FANMB

N Elly Rosilawati, Apt, MH.Kes, M.Pharm

Rini Shintawati, S.Si., M.Sc

 

Staf Kependidikan :

Syahid Nurzaman, S.E.

Mia Nurulzanah, Amd

Kontak Kami
Kembali
© 2017 MIR FKUNPAD All Rights Reserved.